Pasangan capres cawapres Prabowo - Gibran dengan nomor urut 2.
SURABAYA| DutaIndonesia.com – Hasil survei Litbang Kompas memaparkan adanya pemilih bimbang yang belum menjatuhkan pilihan dalam Pemilu 2024 sebesar 28,7%. Hasil survei Litbang Kompas menyebutkan capres-cawapres Prabowo-Gibran unggul dengan perolehan suara sebesar 39,3% suara, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) 16,7%, dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD 15,3%. Yang menarik, elektabilitas partai pendukung Prabowo-Gibran juga naik sesuai hasil survei tersebut.
Ketua DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad
“Ini bisa dilihat dari pilihan tema penyampaian visi misi Prabowo-Gibran, juga konten yang menjadi bagian dari kampanye yang selama ini dilakukan oleh Prabowo-Gibran, dipersepsi oleh publik sebagai kampanye yang visioner, yang menjawab kebutuhan mendasar bangsa Indonesia, dengan melakukan problem solving, atas persoalan yang dihadapi rakyat Indonesia.
Menanggapi hasil survei Kompas itu, Ketua DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad (Gus Sadad) dan KH Abdussalam Sohib (Gus Salam) yang menjadi komandan pemenangan AMIN di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada Pilpres 2024 punya pendapat berbeda. Gus Sadad mengatakan, saat ini pihaknya fokus memenangkan pasangan Prabowo-Gibran di Jatim.
“Alhamdulillah, berdasarkan survei terakhir pergerakan dukungan ke Prabowo-Gibran terus naik. Itu tentu menggembirakan, menunjukkan kebersamaan di antara partai politik di Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mendukung Prabowo-Gibran berjalan secara tertib. Hal ini sekaligus bisa memotivasi kita semuanya, tapi yang jauh lebih penting adalah kita jangan jumawa, tidak boleh over confident, tetap fokus konsentrasi bagaimana memenangkan Prabowo-Gibran di Jatim,” kata Gus Sadad kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (13/12/2023).
Doktor Bidang Politik Islam yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Jatim ini membenarkan bahwa naiknya perolehan suara Partai Gerindra sangat mungkin terjadi sebagai efek Prabowo-Gibran.
“Ini bisa dilihat dari pilihan tema penyampaian visi misi Prabowo-Gibran, juga konten yang menjadi bagian dari kampanye yang selama ini dilakukan oleh Prabowo-Gibran, dipersepsi oleh publik sebagai kampanye yang visioner, yang menjawab kebutuhan mendasar bangsa Indonesia, dengan melakukan problem solving, atas persoalan yang dihadapi rakyat Indonesia.
“Itulah pandangan kami yang bisa mendongkrak perolehan suara atau elektabilitas Partai Gerindra mengungguli PDIP sesuai hasil survei Litbang Kompas, sebagai partai yang lebih diharapkan bisa memberi jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi rakyat Indonesia selama ini,” katanya.
Bagaimana soal besarnya jumlah angka pemilih bimbang (undecided voters), khususnya di Jatim, yang disebut terjadi karena ada dua cawapres dari NU, yakni Muhaimin dan Mahfud MD?
Gus Sadad tidak melihat hal itu sebagai alasan tingginya pemilih bimbang di Jatim.
“Saya melihat tingginya pemilih bimbang itu sebagai masih adanya cukup waktu bagi pemilih rasional, terutama dari kalangan milenial dan generasi Z, yang mereka memang mewakili kelompok rasional, sehingga masih ada ruang bagi mereka untuk memikirkan siapa yang terbaik. Saya rasa ini baik bagi perkembangan kematangan demokrasi kita, di mana para pemilih menjatuhkan pilihan bukan karena pertimbangan-pertimbangan geografis atau asal muasalnya kandidat dari mana, tapi lebih ke arah bagaimana mereka mempersepsi para calon atau kandidat yang dianggap bisa memberikan jawaban persoalan sehari-hari mereka, sehingga mereka tidak segera menjatuhkan pilihan, tapi masih wait and see,” ujarnya.
“Dan bahwa soal Muhaimin dan Pak Mahfud dari Jatim, menurut saya memilah dukungan politik berdasarkan latar belakang geografis itu sudah tidak zamannya lagi. Begitu pula melihat latar belakang organisasi keagamaan, atau ormas,” katanya lagi.
Dia menegaskan bahwa pemilih terbesar Pemilu 2024 adalah generasi yang tumbuh dengan suasana sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka dibesarkan dalam suatu kehidupan sosial politik yang modern.
“Dalam tanda petik, saya sebut bebas dari politik identitas, beban ideologi, mereka adalah manusia modern, yang memandang bahwa kompetensi adalah satu-satunya alasan mereka untuk menjatuhkan pilihan dalam Pemilu,” katanya.
Sementara itu, Gus Salam mengatakan, bahwa meningkatnya perolehan suara AMIN karena masyarakat ingin perubahan. Pasalnya, dua calon lain masih dianggap sebagai incumbent. Karena itu, adanya pemilih bimbang dianggap sebagai potensi suara yang harus diraih oleh pasangan AMIN.
“Itu potensi suara yang bisa kita raih. Karena kami yakin suara bimbang itu intinya tidak mau dengan incumbent, sementara Paslon 2 & 3 identik dengan incumbent. Tinggal kita berupaya sungguh-sungguh untuk meyakinkan masyarakat, tidak ada alternatif keculai Perubahan. Lebih baik dengan Asas Keadilan dan Kesetaraan, dan itu ada di Paslon Nomor 1,” katanya.
Lalu apa strategi AMIN? “Strategi yang paling efektif dengan door to door untuk mengenalkan Paslon AMIN dan program-programnya,” kata Gus Salam kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (13/12/2023).
Seperti diketahui Litbang Kompas merilis survei terbaru terkait elektabilitas capres-cawapres dan partai politik di Pemilu 2024. Gerindra kini berada di puncak dan disusul oleh PDIP.
Survei dilakukan Litbang Kompas terhadap 1.364 responden yang dipilih secara acak. Survei dilakukan pada 29 November hingga 4 Desember 2023. Metode penelitian yaitu dengan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 38 provinsi di Indonesia. Tingkat kepercayaan pada hasil survei ini 95%. Sementara margin of error penelitian +-2,65%.
Pada survei kali ini, tingkat keterpilihan Gerindra mencapai 21,9 persen. Elektabilitas Gerindra naik dibandingkan hasil survei pada Agustus lalu yaitu 18,9%. Sementara itu, PDIP kini ada di posisi kedua dengan elektabilitas 18,3%. Ini berarti elektabilitas PDIP turun dari angka 24,4% di Agustus 2023.
Litbang Kompas mencatat Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) juga mengalami tren positif elektoral. Hasil survei itu juga menunjukkan Prabowo-Gibran meraih 39,3% suara, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) 16,7% dan Ganjar Pranowo-Mahfud Md 15,3%. Sedangkan 28,7% masih bimbang atau undecided voters.
Dijelaskan bahwa jumlah pemilih bimbang ini meningkat. Jumlah ini masih besar padahal pemilu tinggal dua bulan lagi.
“Di luar dinamika elektabilitas capres dan cawapres, survei juga menangkap dinamika pemilih bimbang yang kian meningkat. Jumlah pemilih yang masih ragu-ragu menetapkan pilihannya kepada pasangan capres-cawapres, yang mencapai angka 28,7 persen, terbilang besar mengingat pemilu tinggal dua bulan lagi,” bunyi penjelasan Litbang Kompas seperti dilihat Selasa (12/12/2023). (gas/det)