SURABAYA| DutaIndonesia.com – Sebanyak 39 pelukis perempuan yang tergabung dalam Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IPWI) Jatim menggelar karya di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jl Gentengkali. Pameran bertajuk Bahana Mahardhika 2 ini akan berlangsung hingga 28 Agustus mendatang.
Sesuai karakter perempuan yang menyukai bunga, lukisan yang dipamerkan mayoritas menggambarkan keindahan aneka jenis bunga. Namun begitu ada juga yang menampilkan sisi lalin yang juga tak jauh dari aktivitas perempuan, seperti Lian M. yang menghadirkan Pawon II atau Esti Kunanti dengan Bali Dancer-nya.
Pengamat dan juga penulis Agus “Koecink” Sukamto menyebut komunitas IPWI menarik, karena terus mengagendakan kegiatan pameran sebagai upaya untuk menggerakkan anggotanya berproses kreatif dalam berkesenian.
Menurut dia, Kota Surabaya atau Jawa Timur adalah gudangnya seniman. Lebih lanjut diungkapkan, seniman adalah investasi negara. Dia akan menghasilkan sesuatu bagi negara dan bangsanya. “Dari pengamatan saya, banyak tumbuh komunitas, dari mahasiswa, alumni, kelompok baru yang sudah malang melintang di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
IPWI beranggotakan bermacam profesi dari ibu rumah tangga, dokter, dosen, yang disebutkan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang peduli lukis tapi dengan profesi yang berbeda-beda. “IPWI survive banget. Di tengah kesibukan masih sempat berkarya, berolah keindahan dan ini harus dijaga. Semangat mengolah keindahan ini harus terus disirami dan dirawat agar berkembang,” katanya.
Saat membuka pameran Dr Pribadi Widodo, MSn, B.E Arch mengungkap bagaimana ekspresi yang dimunculkan melalui bermacam medium. Sastrawan lewat puisi atau novel, arsitek melalui karya-karya suyasanya, pelukis melalui cat, kanvas dan media lainnya. “Ekspresi ini kan merupakan pernyataan lahiriah seseorang melalui berbagai medium pilihannya sebagai reaksi akibat adanya stimulus dari luar yang masuk melalui pintu-pintu inderawi. Dan di luar manusia terdapat beragam objek, subjek, gejala peristiwa, kondisi yang berfungsi sebagai stimulus,” ujarnya.
Dari stimulus yang masuk alam pikir manusia kemudian lahir karya-karya yang berpatok pada logika, estetika dan etika. “Ide boleh masuk tapi harus dikontrol pantas atau tidak pantas, logik atau tidak. Ini menyangkut intuisi etika,” lanjut Pribadi yang juga dosen Intitut Teknologi Bandung (ITB).
IPWI Jawa Timur sebagaimana dikatakan ketuanya, Nunung Harso, merupakan cabang dari IPWI Pusat yang dikukuhkan 8 Juni 2015. IPWI Pusat yang berkedudukan di Jakarta berdiri sejak 10 September 1985. Anggota IPWI berasal dari berbagai profesi seperti dokter, anggota dewan, bankir, pendidik, psikolog, pengusaha, seniman.
“Pameran lukisan bersama merupakan kesempatan bagi anggota untuk sejenak melepaskan atribut profesi sehari-hari mereka dan bergabung dalam satu profesi yang sama yaitu wanita pelukis Indonesia,” kata Nunung yang dalam pameran itu menampilkan lukisan bunga matahari bertajuk Red Between Yellow.(ret)














