Badai Salju di Amerika: WNI di New York City dan Philadelphia Aman, Rayakan Tahun Baru Sambil Menggigil

oleh
MUSTARI SIARA bersama tamunya asal Indonesia jalan-jalan berbaju tebal di jalanan Kota New York yang menggigil.

Masyarakat New York City, Amerika Serikat, sudah siap merayakan Tahun Baru 2023. Seperti di Indonesia, terdapat sejumlah lokasi yang menjadi jujukan warga untuk berkumpul merayakan malam tahun baru. Salah satunya di The Rockefeller Center New York City. Tapi sempat muncul kabar, badai salju menerjang Amerika Serikat, mengakibatkan sedikitnya 50 orang tewas. Sejumlah diaspora Indonesia yang tinggal di Kota New York dan Philadelphia tidak merasakan dahsyatnya badai salju itu. Mereka aman dan bersiap merayakan tahun baru meski diprediksi akan hujan.

Laporan Gatot Susanto

MUSTARI SIARA, mantan pemain film Indonesia yang kini tinggal di Kota New York, terlihat berjalan-jalan bersama tiga orang di jalan kota dunia itu. Mereka antara lain tamu asal Indonesia yang ingin menikmati tahun baru di Amerika. Dengan baju tebal berlapis, Mustari dan tamunya berusaha menahan udara dingin yang menggigil di Kota New York.

“Di New York sekarang memang sangat dingin, tapi belum snow. Badai salju seperti diberitakan itu adanya di luar kota. Bukan di dalam kota sini. Saya kerja seperti biasa. Juga jalan-jalan bersama tamu dari Indonesia. Tamu saya dari Indonesia itu mengatakan, ini pertama kalinya merasakan suhu dingin minus 14 derajat Celcius. Jadi udara sangat dingin. Tapi kami di sini pakai Fahrenheit, Selasa kemarin 29 derajat Fahrenheit,” kata Mustari Siara kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (28/12/2022).

Mustari yang anggota Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) menceritakan uniknya musim dingin. Saat tahun baru besok, menurut prakiraan cuaca, akan turun hujan. Namun masyarakat tidak peduli cuaca saat merayakan pergantian tahun. Mereka dipastikan tetap menyerbu tempat -tempat pesta tahun baru seperti di The Rockefeller Center New York City, di mana hampir semua jenis hiburan ada di tempat ini. Destinasi wisata ini juga menarik perhatian pengunjung karena ada pohon Natal terbesar.

“Sekarang sudah mulai ramai. Saya kemarin sewaktu Hellowen juga sempat ke sana bersama sejumlah teman. Kalau tahun baru, pasti lebih ramai lagi. Berdesak-desakan sudah pasti. Tak peduli hujan turun. Biasanya, sejumlah perusahaan menyediakan payung atau topi untuk pengunjung. Ini settingan, sebab tujuannya promosi produknya,” kata Mustari asal Makassar tapi sempat lama tinggal di Jakarta ini.

Tahun baru dan musim dingin menarik perhatian masyarakat, termasuk orang Indonesia, juga karena tradisi warga Amerika yang unik. Hal yang unik adalah, suhu dingin ekstrem terjadi justru menjelang salju turun. Sementara saat musim salju sendiri, suhu tidak terlalu dingin.

“Saat proses jadi salju itu sangat dingin, setelah jadi salju justru tidak terlalu dingin. Kami semua berbaju tebal berlapis-lapis. Kami di dalam kota juga ada musim salju tapi belum tahu kapan. Biasanya lembaga seperti BMKG di Indonesia memberi tahu soal datangnya musim salju tersebut,” katanya.

Saat musim dingin ada tradisi jor-joran berbusana. Mereka mencoba tampil cantik atau keren dengan berbagai model busana musim dingin, sehingga jalanan Kota New York pun berubah menjadi cat walk. Tradisi ini dimanfaatkan oleh pengusaha fashion untuk mengeluarkan koleksi busana musim dingin. Hampir semua rumah mode terlihat berjualan di Kota New York yang merupakan salah satu pusat mode dunia.

“Banyak orang Indonesia juga datang ke New York saat musim dingin. Ada yang bilang, ayo datang ke New York membawa koper kosong, lalu membeli beragam busana, harganya murah, selanjutnya koper penuh saat dibawa pulang ke Indonesia. Itu memang benar. Harganya murah sebab banyak diskon. Tapi bukan hanya musim dingin, saat musim panas juga kesempatan untuk menjual koleksi baju musim panas sebab masyarakat juga jor-joran memakai busana musim panas. Ini tradisi Amerika yang memiliki beberapa musim,” katanya.

Vanny Tousignant, desainer asal Indonesia pendiri New York Indonesia Fashion Week (NYIFW), juga menggelar koleksi busana karya desainer dari berbagai negara, termasuk desainer asal Indonesia, di musim dingin 2023 nanti. Namun bukan saat tahun baru, tapi pada Februari 2023. Ini acara rutin NYIFW.

“Kalau badai salju itu terjadi di New York State, bukan di New York City. Untuk February tema kami Fall/Winter 23. Tetapi designers kita tetap membawa koleksi-koleksi wastra nusantara. New York Indonesia Fashion Week untuk bulan February 2023 bermitra dengan IFAF (Indonesia Fashion and Art Festival) , sebuah yayasan yang dibina oleh istri Wakil Gubernur Jawa Barat, Ibu Lina Marlina. Ada 20 brand ini memang masuk di bawah naungan dari IFAF,” kata Vanny Tousignant kepada Global News Rabu kemarin.

Musim salju juga dikenal romantis. Selain suhu tidak terlalu dingin, suasana menjadi indah lantaran salju yang seperti kapas itu seolah turun dari langit. Terbang melayang-layang menghiasi kota. “Ini yang membuat banyak orang dari negara tropis ikut merindukan salju,” katanya sambil membaca berita badai salju melanda Amerika 50 orang tewas .

Badai Salju

Seperti dilansir dari AFP dan detik.com, petugas tanggap darurat di New York, bergegas menyelamatkan penduduk yang terdampar di sejumlah tempat akibat bencana yang disebut pihak berwenang ‘salju abad ini’ pada Senin (26/12/2022). Badai tersebut sedikitnya telah menewaskan 25 orang di negara bagian itu, dan menyebabkan kekacauan.

Kondisi badai salju juga terus terjadi di beberapa bagian Timur Laut AS. Sisa-sisa cuaca ekstrem yang melanda negara itu selama beberapa hari, menyebabkan pemadaman listrik yang meluas, penundaan perjalanan, dan setidaknya 47 kematian di sembilan negara bagian.

Di negara bagian New York, pihak berwenang menggambarkan kondisi yang ganas, terutama di Buffalo, dengan pemadaman listrik selama berjam-jam. Mayat ditemukan di dalam kendaraan dan di bawah gundukan salju. Personel tanggap darurat pergi “dari mobil ke mobil” mencari lebih banyak pengendara baik hidup atau mati. “Tapi kami di tengah kota belum snow. Saya kerja seperti biasa. Badai salju itu di pinggiran atau luar kota,” kata Mustari lagi.

Fenny Handayani, arek Suroboyo, yang sekarang tinggal di Kota Philadelphia, negara bagian Pennsylvania, menyebut senada. Di wilayah tempatnya tinggal sempat dilanda angin kencang dan salju tapi tidak lama. “Kalau di di tempat Fenny di Pennsylvania badainya cuman sebentar. Kami di sini aman, cuma suhu udara sangat dingin banget. Salju cuma turun hari Jumat dan sebentar,” katanya.

Badai salju yang ganas, angin menderu, dan suhu di bawah nol di luar kota memaksa pembatalan lebih dari 15.000 penerbangan AS dalam beberapa hari terakhir. Termasuk setidaknya 2.600 pada hari Senin, menurut situs pelacakan Flightaware.com.

Buffalo, menjadi kota paling parah dilanda badai, dan banyak ditemukan mayat terkubur di bawah salju. Kota itu memang tak asing dengan cuaca ekstrem saat musim dingin. “Tentu saja ini adalah badai salju abad ini,” kata Gubernur Kathy Hochul kepada wartawan. “Terlalu dini untuk mengatakan ini sudah selesai,” katanya.

Hochul mengatakan beberapa kota di New York bagian barat dilanda “30 hingga 40 inci (0,75 hingga 1 meter) salju dalam semalam.”
Layanan Cuaca Nasional memperkirakan hingga 14 inci lagi pada hari Senin di samping beberapa kaki yang telah membuat kota terkubur salju, dengan para pejabat berjuang untuk membuat layanan darurat kembali aktif.

Eksekutif Kabupaten Erie Mark Poloncarz mengatakan dalam jumpa pers bahwa dia “patah hati” saat melaporkan jumlah kematian terkait badai salju telah meningkat menjadi 25 di seluruh wilayah.

Poloncarz mengatakan jumlah kematian akibat badai ini kemungkinan akan melampaui badai salju Buffalo yang terkenal pada tahun 1977, ketika hampir 30 orang meninggal.

“Kami memperkirakan akan ada lebih banyak” kematian akibat badai yang sedang berlangsung, tambahnya.
Dengan perkiraan lebih banyak salju dan sebagian besar Buffalo “tidak dapat dilewati”, dia bergabung dengan Hochul untuk memperingatkan penduduk agar bersembunyi dan tetap di dalam rumah. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.