Oleh Zainal Arifin Emka
(Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik)
MUSIM penerimaan (tepatnya: perburuan) mahasiswa baru, baru saja berlalu. Masa perkuliahan sudah dimulai. Pemandangan yang menarik adalah adanya bangku-bangku kosong di beberapa kelas perguruan tinggi swasta atau PTS.
Ini fenomena yang sedang terjadi dan merupakan salah satu tantangan terbesar bagi PTS saat ini, bahkan jauh sebelumnya. “Kami ditarget 100 maba, tapi hanya mampu 63 maba,” kata orang panitia di PTS.
Tentu saja fenomena ini bukan masalah sederhana, tapi sebuah gejala kompleks dari transformasi besar dalam ekosistem pendidikan tinggi Indonesia.
Rasanya terlalu menyederhanakan masalah jika memandang fenomena ini hanya masalah persaingan dengan perguruan tinggi negeri atau PTN yang seolah “diuntungkan” dan PTS yang “dirugikan”.
Kebijakan pemerintah untuk memperluas akses pendidikan tinggi melalui peningkatan daya tampung PTN dengan membuka banyak pintu seperti jalur SNBP, SNBT, dan mandiri, memang langsung bersinggungan dengan pasar PTS. Calon mahasiswa yang dulu merupakan “target” PTS unggulan, sekarang memiliki peluang lebih besar untuk diterima di PTN.
Tambahan pula masyarakat kini makin kritis memilih. Faktor nilai uang yang dibelanjakan dan manfaat yang diperoleh, menjadi sangat dominan. Gamblangnya: “Mengapa harus bayar mahal di PTS Anu, jika bisa masuk PTN ternama dengan biaya lebih terjangkau?”.
Di sisi lain ada alternatif pendidikan non-formal semacam kursus online bersertifikat, yang lebih singkat, praktis, dan langsung berorientasi pada kerja, menyedot minat generasi Z yang tidak ingin menghabiskan waktu 4 tahun untuk teori.
Ketidakseimbangan
Ada pandangan tentang ketidakseimbangan dana. PTN mendapatkan dana Bantuan Operasional (BOPTN) dan berbagai hibah kompetitif untuk penelitian dan pengabdian masyarakat. Ini memungkinkan PTN berinvestasi pada fasilitas, dosen berkapasitas tinggi, dan penelitian, yang pada akhirnya meningkatkan reputasi dan daya tarik.
Tujuannya bukan untuk mematikan PTS, tetapi untuk memenuhi kebutuhan publik. Sebab pemerintah memiliki mandat untuk mendemokratisasikan akses pendidikan tinggi berkualitas bagi sebanyak mungkin WNI.
PTS tentu juga ingin turut memenuhi kebutuhan publik itu. Tekad yang seharusnya menjadi pemicu bagi PTS untuk bertransformasi. Dari sini segera terlihat PTS tak bisa lagi mengandalkan berkah menjadi “pilihan kedua” setelah PTN.
Studi Spesifik
Banyak pmikiran yang ditawarkan kepada PTS.
PTS dianjurkan fokus pada program studi yang spesifik dan dibutuhkan industri yang belum banyak ditawarkan PTN. Semisal Teknik Robotika, Data Science untuk Sektor Keuangan, Manajemen Event, Sustainable Tourism, dll.
Atau menciptakan kurikulum yang sangat erat dengan dunia kerja, melibatkan praktisi, dan menyediakan magang yang terintegrasi. Membangun citra lulusan yang “siap pakai”.
Gagasan yang sejak lama digaungkan adalah keunggulan lokal. Artinya PTS di daerah harus mengembangkan program yang menjawab potensi dan masalah lokal daerahnya, seperti agroindustri, kelautan, atau ekonomi kreatif berbasis budaya setempat.
Sudah waktunya PTS meninggalkan model bisnis yang mengandalkan semata-mata pada SPP mahasiswa. Meski tidak mudah karena bersaing dengan sesama, PTS harus mengembangkan sumber pendapatan lain seperti pelatihan untuk korporat, konsultasi, dan dana abadi.
PTS umumnya lebih lincah dalam beradaptasi dan berinovasi dibanding birokrasi PTN yang lebih berat. Mereka bisa lebih cepat melunakkan program baru, metode pembelajaran hybrid, dan merespons tren industri.
Jangan lupa membangun cerita sukses alumni. Pemasaran harus fokus pada keberhasilan alumni di dunia kerja dan wirausaha. Testimoni dan kelulusan menjadi kunci.
Keberadaan dosen praktisi, laboratorium yang relevan, jaringan industri yang kuat, atau lingkungan kampus yang kondusif, semuanya mesti dikomunikasikan dengan jelas.
Fenomena “persaingan” PTS dengan PTN agaknya sesuatu yang tak terelakkan. Ini adalah proses seleksi natural dalam ekosistem pendidikan tinggi.
Mungkin terasa muluk-muluk untuk mengatakan bahwa bagi PTS yang visioner, fenomena ini adalah peluang emas untuk berevolusi, meningkatkan kualitas, menemukan ceruk pasar baru. Membuktikan bahwa PTS bukan sekadar “pelengkap” tapi menjadi pemain utama yang menawarkan nilai unik yang tidak dimiliki PTN.
Persaingan memang tidak lagi seimbang dalam hal sumber daya, tapi justru menjadi lebih seimbang dalam hal tantangan untuk berinovasi dan memberikan nilai terbaik bagi mahasiswa dan masyarakat.
Pemerintah juga diharapkan dapat merancang kebijakan yang tidak hanya memanjakan PTN, tetapi juga mendorong kolaborasi PTN-PTS dan memberikan insentif bagi PTS yang berkinerja unggul.
Faktor Gengsi
Rasanya cukup manusiawi untuk mengakui adanya faktor gengsi mahasiswa baru dalam memilih kampus. Faktor “gengsi” ini adalah lapisan tantangan yang paling sulit ditembus karena bersifat psikologis dan sosio-kultural.
Pertanyaannya: Bagaimana PTS menyikapinya.
“Gengsi” bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Perguruan tinggi swasta, terutama yang top, bisa merengkuh banyak peminat. Bisa diterima di PTS top adalah sebuah prestise karena membuktikan seseorang menjadi bagian dari kelompok elit yang terpilih.
PTS besar begini memiliki sejarah panjang dan alumni yang sudah menduduki posisi-posisi strategis di pemerintahan, dan perusahaan besar. Jejaring ini dianggap sebagai “jaminan” untuk masa depan. Membeli pendidikan di PTS juga berarti membeli akses ke dalam klub eksklusif ini.
Reputasi itu bisa terbangun secara konsisten melalui riset, pengabdian, dan kontribusi nasional selama puluhan tahun. Ini aset tak berwujud yang sangat kuat, dibangun dalam waktu panjang.
Jadi, pertarungannya terletak pada mengubah frame berpikir calon mahasiswa: dari “gengsi” menjadi “nilai investasi”.
PTS harus secara agresif mempromosikan data penempatan kerja lulusannya. Tunjukkan perusahaan-perusahaan ternama apa yang merekrut lulusan mereka, berapa rata-rata gaji pertama, dan seberapa cepat mereka diserap industri. Brosur harus berisi data, bukan sekadar foto kampus yang cantik.
Cerita sukses alumni yang konkret dan nyambung lebih bertenaga daripada sekadar logo perusahaan. Wawancara video dengan alumni yang sukses di startup unicorn, perusahaan multinasional, atau sebagai pengusaha muda akan sangat efektif.
Geser narasi dari “seberapa sulit masuknya” menjadi “seberapa hebat keluarannya”. Prestise sebuah PTS harus dibangun pada reputasi lulusannya yang sangat dicari dan dihargai industri.
PTS dapat membangun prestise dari pengakuan industri. Misalnya, dengan memamerkan kerja sama kurikulum dengan perusahaan berkelas, sertifikasi profesi yang langsung diakui dunia kerja; dan dosen-dosen yang merupakan praktisi top.
Maraton
Mengikis persepsi “gengsi” adalah pekerjaan jangka panjang. Ibarat lari maraton yang membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Bukan tentang menjadi “lebih baik dari PTN”, tapi tentang menjadi “pilihan yang paling tepat” untuk tujuan karir tertentu.
Kunci utamanya adalah membangun kepercayaan _(trust)_ melalui bukti-bukti nyata, bukan janji. Setiap lulusan yang sukses adalah duta merek yang akan memperkuat reputasi tersebut secara organik.
PTS unggul harus berhenti membandingkan diri dengan PTN dan fokus pada menciptakan ceruknya sendiri dan menjadi raja di ceruk tersebut. Dengan begitu, mereka tidak lagi dilihat sebagai “pilihan kedua”, melainkan sebagai “pilihan pertama untuk tujuan tertentu”.
Oh ya. Kabarnya Indonesia sedang mengalami penurunan angka kelahiran yang signifikan sejak akhir 1990-an. Jumlah populasi usia 18 tahun (calon mahasiswa baru) secara absolut sedang menyusut. Ini adalah akar masalah bagi semua perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. (*)













