SURABAYA| DutaIndonesia.com – Haji Choirul Anam (Cak Anam), tokoh Nahdlatul Ulama Jawa Timur (NU Jatim) telah berpulang ke Rahmatullah, Senin 9 Oktober 2023 pukul 05.49 WIB di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya dalam usia 69 tahun.
Cak Anam yang dikenal sebagai aktivis senior NU — di antaranya GP Ansor dan PMII, wartawan yang menjadi owner Harian Umum Duta Masyarakat, politisi pendiri PKB Jatim dan PKNU – sempat dirawat di rumah sakit sebelum menghadap Sang Khaliq.
“Mohon dimaafkan segala kesalahan beliau. Dan mohon doanya untuk kebahagiaan dan kemuliaan beliau di sisiNya,” kata Ahmad Faiz salah seorang anggota keluarganya.
Jenazah Ketua DPW PKB Jatim pertama itu dishalatkan terlebih dahulu di Masjid Jamin Kibar, di Perumahan Kutisari Indah Surabaya, kemudian dimakamkan di Jombang, tempat kelahirannya.
Choirul Anam dikenal sebagai politisi andal yang tertempa atas kedekatannya dengan sejumlah tokoh pada masanya. Seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi (kedua almarhum mantan Ketua Umum PBNU), serta ketawadhuannya pada figur ulama pesantren seperti KH Abdullah Faqih Langitan, KH Sholeh Qosim dan KH Imron Hamzah.
Cak Anam dikenal sebagai penulis buku Perkembangan dan Sejarah NU hingga Khittah NU, dan Sejarah GP Ansor. Buku ini disebut buku babon sejarah NU. Karena itu almarhum juga disebut sebagai sejarahwan NU.
Guru Politisi Muda
Sebagai politisi senior di kalangan NU, Cak Anam juga terlibat konflik politik.
Selepas konflik dalam tubuh NU dan perbedaan pandangan dengan Gus Dur dalam PKB, Cak Anam mendirikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang kemudian merger dengan Gerindra di mana banyak kader PKNU akhirnya menjadi tokoh Gerindra. Anwar Sadar, Ketua Gerindra Jatim, di antara kader yang selalu dekat dengannya. Cak Anam pun dikenal sebagai guru politik bagi para politisi muda khususnya dari kalangan NU di Jatim.
Berbakti kepada Ibu
Politisi kelahiran Jombang 30 September 1954 ini dimakamkan di dekat makam ibundanya di Jombang.
“Insya Allah selepas zhuhur jenazah almarhum dimakamkan di dekat peristirahatan terakhir ibundanya,” tutur M Kaiyis, salah seorang adiknya.
“Saat ini almarhum sedang proses dimandikan di RSI, setelah itu akan dibawa ke rumah, dan setelah zhuhur akan dibawa ke Pemakaman Jombang, di sebelah Ibunda almarhum,” tuturnya.
Memang, Cak Anam di antara santri yang begitu mencintai ibunya. Begitu berbakti kepada ibundanya.
Semasa hidup, penyusun buku “Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama” ini selalu mendengar dan mematuhi sosok yang menjadi “surga di bawah telapak kaki ibu” itu.
Hal itu sekaligus membuktikan kecintaan Cak Anam terhadap ibunya, dari masa hidup hingga akhir hayatnya.
Sewaktu ibunya meninggal merupakan pukulan berat dalam hidupnya. Ketika menghadapi persoalan politik yang rumit, saat itu pula kepada ibundanyalah ia mengaduh.
Kini, pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur, sekaligus Ketua pertama pertai tersebut, menghadap ke Rahmatullah bersama ibundanya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa Beliau dan menerima semua amal baiknya. Amiin. (gas)













