Oleh Shandy Adiguna*
Kontribusi NU buat Indonesia sejak berdirinya di tahun 1344 H atau 1926 M hingga saat ini jelas tercatat dalam sejarah dan masih terus hidup di tengah masyarakat. Dalam kapasitas sebagai individu sudah banyak ulama NU dan cerdik pandai nusantara yang mendunia.
Sudah saatnya NU sebagai sebuah entitas besar, turut berperan aktif memberikan warna bagi peradaban global. Sebagai wadah organisasi muslim terbesar di Indonesia, bahkan jika dibandingkan dengan organisasi muslim manapun di dunia. Sudah selayaknya NU mengambil peran yang lebih besar di tataran global.
Peran yang tidak hanya dijalani melalui kerja-kerja besar, tetapi juga memanfaatkan jaringan PCI NU yang sudah tersebar di lebih dari 30 negara di dunia. Jaringan PCI NU ini adalah kepanjangan tangan NU dalam menyebarkan nilai-nilai Islam wasathiyah serta warna Islam damai yang diyakini memiliki probabilitas penerimaan sosial yang lebih tinggi di komunitas negara di mana PCI NU itu berada. Sehingga NU secara lembaga dapat
menjadi cahaya di tengah fenomena menguatnya gerakan kanan dan juga gerakan anti agama di berbagai belahan dunia.
Mesin PCI NU harus diberdayakan untuk dapat tampil berinteraksi secara institutional dengan komunitas setempat.
PCI NU di berbagai negara memiliki karakter yang tidak seragam, di negara barat misalnya banyak yang diisi oleh professional, periset dan pelajar. Dengan hadirnya para nahdliyin dan santri di lembaga-lembaga pendidikan tinggi atau riset teknologi dunia dapat membantu NU menjadi katalisator kemajuan yang selaras dengan nilai Islam. Bahkan lebih jauh lagi organisasi terhormat seperti NU dapat menjadi jembatan peradaban antar timur dan barat, utara dan selatan.
NU memiliki modal yang bisa dibilang cukup lengkap untuk memimpin umat dalam memasuki abad kedua, yang penuh dengan tantangan. Tantangan yang tentunya berbeda dari abad sebelumnya. Tantangan yang menuntut NU untuk tampil lebih progresif dan agresif dalam menjawab permasalahan jaman seperti kemiskinan, kebodohan, ketimpangan global, perubahan iklim, krisis energi, krisis pangan hingga peperangan. Maka dirasa tepat visi besar NU ke depan: Merawat Jagat Membangun Peradaban.
Semoga tidak hanya menjadi sekedar mimpi. (*)
* Shandy Adiguna adalah Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Inggris Raya. Kesibukan Beliau di London, membuat tidak bisa hadir secara langsung dalam acara Resepsi Puncak Satu Abad NU di Stadion Delta Sidoarjo Selasa 7 Februari 2023.
Namun Beliau sempat menuliskan catatan Satu Abad NU di pinggir Sungai Thames, sebuah sungai yang mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut utara.













