Cerita Hidup Itu Belum Selesai (Kisah Hijrah Nabi Musa AS dan Rasulullah SAW)
Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki
JIKA pada tulisan sebelumnya kisah Nabi Yusuf AS menjadi pelajaran indah dalam memahami alur kehidupan, kali ini saya ingin menampilkan kisah Musa AS yang tidak kalah seru, menarik, dan penuh makna.
Perjalanan Musa: Dari Rasa Takut Menuju Rasa Aman dan Yakin
Pertengkaran terjadi di Mesir antara dua orang warga. Yang satu warga asli Mesir, yang lain adalah warga pendatang dari Bani Israil yang telah hidup turun-temurun di negeri itu. Musa AS yang merupakan keturunan Bani Israil (Ya’qub) secara naluri membela sesamanya. Pembelaan itu berujung pada kematian warga Mesir tersebut.
Hebohlah Mesir. Sang Raja, Fir’aun, memerintahkan agar pembunuh itu, Musa AS, segera ditangkap dan dihadapkan kepadanya untuk dieksekusi.
Musa saat itu adalah manusia biasa, bahkan belum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Wajar jika rasa takut menyelimutinya. Ada rasa tidak aman, merasa terancam dan diburu setiap saat. Ia pun keluar dari Mesir, melarikan diri tanpa tujuan yang jelas.
Ternyata kesulitan, bahkan ancaman pembunuhan itu, justru menjadi awal dari jalan keluar yang Allah bentangkan untuknya.
Al-Qur’an menggambarkan suasana itu dengan begitu hidup: “(Musa keluar dari kota itu) dalam keadaan takut dan waspada.” (QS. Al-Qashash: 21)
Ia berjalan bukan untuk berwisata. Ia tidak membawa bekal rencana yang matang tentang ke mana akan pergi dan apa yang akan terjadi setelahnya.
Ia meninggalkan tempat yang selama ini ia kenal (Mesir) menuju sebuah negeri yang asing baginya (Madyan) sembari menanamkan doa di dalam hatinya:
“Mudah-mudahan Tuhanku menunjukkanku ke jalan yang benar.” (QS. Al-Qashash: 22)
Singkat cerita, ternyata di sanalah ia menemukan rasa aman. Di sana ia mendapatkan pekerjaan, bahkan menemukan jodohnya, seorang putri yang salehah dari seorang hamba Allah yang saleh (Nabi Syu’aib AS). Bahkan tanpa ia sadari, bertahun-tahun tinggal di Madyan menjadi masa persiapan menuju tugas yang jauh lebih besar: menghadapi Fir’aun.
Dari kisah Musa kita belajar, betapa berbedanya sikap jiwa dan mental kita antara sebelum dan sesudah mengetahui akhir destinasi. Dari rasa takut, cemas, bingung, dan ketidakpastian, berubah menjadi rasa aman, tenang, dan penuh keyakinan.
Begitulah cerita hidup kita. Seringkali di awal ada rasa khawatir, rasa takut, rasa tidak aman, dan ketidakmenentuan. Namun jangan pernah mengambil kesimpulan hanya dari langkah awal semata. Perjalanan masih panjang, dan destinasi akhir yang Allah janjikan pastilah yang terbaik, selama kita yakin, bersandar penuh kepada-Nya, disertai ikhtiar terbaik yang mampu kita lakukan.
Hijrah Rasulullah SAW: Dari Malam Penuh Ancaman Menuju Rasa Aman dan Kemenangan
Di malam yang penuh ketegangan dan begitu mencekam itu, Nabi SAW meninggalkan Makkah, kota yang sangat beliau cintai. Tanah tumpah darah, tempat kelahiran beliau, tempat di mana batin beliau terikat begitu kuat. Beliau meninggalkannya dengan hati yang berat, pedih, sedih, bahkan menangis seraya berkata: “Demi Allah, engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Seandainya kaummu tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu, wahai Makkah.”
Dari sisi duniawi, beliau meninggalkan segalanya. Meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga, dan di atas semua itu meninggalkan Rumah Allah (Al-Ka’bah) dan kota yang Allah jadikan hati manusia tertaut padanya.
Namun keluarnya beliau dari kota yang dicintainya itu bukanlah akhir dari segalanya. Justru itu adalah awal dari kembalinya beliau, bukan sebagai warga biasa, melainkan sebagai seorang pemimpin yang menaklukkan, yang menghadirkan cahaya Allah, membawa penduduknya dari gelapnya kejahiliahan menuju cahaya samawi.
Sebelum itu, Madinah telah menanti beliau. Kota yang telah dipersiapkan untuk beliau membangun sebuah masyarakat Islam yang berperadaban di tengah dunia yang diliputi kegelapan.
Karena itu sekali lagi, tidak setiap kepergian harus dimaknai sebagai kehilangan yang merugikan. Dan tidak setiap bertahan berarti sebuah kepemilikan yang membawa manfaat.
Begitulah setiap peristiwa dalam hidup kita, terkadang tampak sederhana di luar, namun di dalamnya penuh dengan rahasia yang hanya Allah Yang Maha Tahu.
“Allah lebih mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Contoh-Contoh Hidup
Ada seorang pemuda yang selama bertahun-tahun mendambakan sebuah pekerjaan. Ia begitu berharap mendapatkannya. Ia berdoa kepada Allah, ia mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Namun akhirnya ia ditolak.
Ia kecewa, bahkan marah. Seolah masa depannya telah berakhir.
Beberapa waktu kemudian, ia memasuki sebuah pintu lain yang sebelumnya bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ternyata di sanalah ia menemukan kebaikan yang jauh lebih luas.
Sekali lagi, jangan pernah menjadikan satu penolakan sebagai bukti bahwa Allah telah menutup seluruh masa depanmu.
Contoh lain, seorang perempuan yang begitu terikat pada sesuatu dan merasa seluruh kebahagiaannya bergantung pada hal itu. Namun Allah tidak mentakdirkannya untuk mendapatkannya.
Bulan demi bulan berlalu, bahkan mungkin bertahun-tahun. Hingga suatu hari ia menoleh ke belakang dan berkata: “Alhamdulillah, Allah tidak memberiku apa yang dulu kukira sebagai seluruh kebaikan.”
Ada pula seseorang yang telah bertahun-tahun tinggal di sebuah kota. Lalu ia terpaksa harus meninggalkannya. Ia menangis ketika mengemasi barang-barangnya. Ia mengira hari-hari terindah dalam hidupnya telah tertinggal di belakang.
Namun kemudian Allah hadirkan untuknya di tempat yang baru: sahabat-sahabat yang baik, ilmu, rezeki, dan berbagai pintu kebaikan yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ia perhitungkan.
Atau sebaliknya, bisa jadi engkau tidak menemukan di dunia ini pengganti yang menyerupai apa yang telah hilang darimu.
Tapi justru di situlah tampak makna iman yang lebih dalam. Sebab janji Allah kepada seorang mukmin bukanlah bahwa setiap kehilangan duniawi pasti akan diganti dengan sesuatu yang lebih indah di dunia.
Bisa jadi seorang mukmin kehilangan sesuatu, lalu ia terus merindukannya dan bersedih karenanya hingga akhir hayat. Tapi yakinlah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kesabarannya.
Nabi SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan.” (HR. Muslim)
Kebaikan itu bisa jadi terwujud dalam bentuk sesuatu yang diberikan kepadamu. Bisa juga kebaikan itu ada pada sesuatu yang Allah palingkan darimu. Atau bisa jadi kebaikan itu berupa iman yang semakin matang karena sebuah ujian. Atau berupa dosa-dosa yang Allah gugurkan dan berupa derajat yang Allah tinggikan.
Bahkan bisa jadi berupa pahala yang Allah simpan untukmu di tempat yang tiada akhir, tiada perpisahan, dan tiada lagi kehilangan. InsyaAllah! (*)
New York, 18 September 2026












