HONGKONG|DutaIndonesia.com – Pemerintah Hongkong akhirnya membangun pusat karantina bagi pasien Covid-19 setelah virus Corona kembali mengganas di daerah bekas koloni Inggris tersebut. Pusat karantina yang berada di pinggiran kota Hongkong dan sudah dihuni ribuan pasien ini bernama Hung Shui Kiu Community Isolation Facility.
Puluhan pasien Covid-19 itu di antaranya merupakan pekerja migran Indonesia (PMI. Dan karena banyak pasien merupakan PMI, Pemerintah Hongkong pun merekrut pekerja warga Indonesia di Hongkong. Dialah Ketua PCI Muslimat Nahdlatul Ulama (PCI MNU Hongkong-Macau Hj Siti Fatimah Angelia. Arek Suroboyo yang sudah lama tinggal di Hongkong ini menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di pusat karantina Covid-19 tersebut. Karena itu, dia pun sibuk menyiapkan segala sesuatu di ruangan karantina yang khusus untuk PMI, saat ada kunjungan pejabat Pemkot Hongkong pada Minggu 27 Maret 2022 siang ini.

“Sudah banyak PMI dikarantina di tempat ini. Saya sendiri sempat sakit dan belum sepenuhnya pulih, tapi karena ini permintaan Pemerintah Hongkong, saya mau bekerja di sini. Saya bekerja di sini juga membawa nama Muslimat NU sebab mereka tahu saya Ketua PCI Muslimat NU Hongkong-Macau yang sudah lama tinggal di Hongkong dan saya bukan PMI. Muslimat NU juga sudah sering bekerjasama dengan Pemkot Hongkong. Saya bisa Bahasa Mandarin sehingga bisa menjadi penerjemah. Itu tugas saya di sini, selain menjadi semacam kepala di pusat karantina, yang untuk bagian pasien PMI ini,” kata Hj Fatimah kepada DutaIndonesia.com, Minggu 27 Maret 2022.
Tugas Hajah Fatimah juga menyiapkan segala yang diperlukan untuk pasien di ruangan isolasi bagi PMI. Untuk itu dia menyiapkan ruang sholat, menyediakan banyak Al Quran, juga keperluan makanan dan minuman. Hal itu penting sebab sekarang menjelang Bulan Ramadhan, sehingga pasien pun bisa menjalankan ibadah Ramadhan seperti salat tarawih dan lain-lain dengan khusyuk.
“Sebenarnya para PMI itu sehat semua, lha wong mereka tidak pernah keluar rumah. Kalau keluar rumah majikan, ya hanya saat libur Minggu saja, itu pun dia ke tempat-tempat tertentu, seperti ke Kantor Muslimat NU. Justru majikannya yang keluyuran ke mana-mana. Jadi, para PMI itu sanagat mungkin tertular dari majikannya,” kata Fatimah.
Sebagai pekerja di pusat karantina ini, Fatimah harus bekerja ekstra keras. Pertama, karena lokasinya cukup jauh dengan jarak tempuh sekitar dua jam perjalanan dengan bus kota. Lokasi pusat karantina ini ada di pinggiran Hongkong.
Selain itu, bekerja bergantian dalam tiga shif, dengan disiplin yang ketat. Misalnya, jam kerja dimulai pukul 09.00, semua pekerja harus sudah siap pukul 08.30. “Bila shif pagi, jam 09.00 sampai jam 05.00 sore. Bila shif siang, jam 01.00 sampai jam 10.00 malam. Lha ini kalau pulang jam 10.00 malam, saya sampai di rumah jam 12.00 malam, kadang lebih. Cukup berat, tapi ini permintaan pemerintah, sehingga saya mau saja bekerja di sini. Apalagi di sini banyak anak PMI,” katanya.
“Para pasien tinggal di sini selama tujuh hari. Bila sudah sembuh mereka boleh pulang. Bila semakin parah dibawa ke rumah sakit,” katanya.
Di sela-sela kunjungan pejabat Hongkong, Fatimah sempat diwawancarai sejumlah media massa setempat. Tampak Fatimah dengan memakai baju dan pin Muslimat NU menjelaskan kondisi di ruangan isolasi untuk pasien dari kalangan PMI. Termasuk permintaannya kepada pemerintah Hongkong agar disediakan ruangan khusus untuk sholat bagi pasien muslim. (gas












