Dari International Youth Connection Batch 2 (1): Belajar dari Universal Studios hingga Filosofi Kota Modern

oleh
Arinal Haq Fauziah di Kampus NUS.
Arinal Haq Fauziah di Kampus NUS.

Sebanyak 25 pemuda terpilih dari seluruh Indonesia mengikuti program kepemudaan internasional atau International Youth Connection (IYC) Batch 2 pada Senin – Sabtu (21-26 Juli 2025) . Program ini dipimpin langsung oleh Bahal Siregar, seorang wirausahawan asal Indonesia yang dikenal sebagai Presiden IYC sekaligus Direktur Utama Mahakam Travel. Berikut laporan Arinal Haq Fauziah, salah seorang peserta IYC, yang juga mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Madura.

Oleh Arinal Haq Fauziah

 

SETIBANYA di Bandara Internasional Changi, rombongan peserta International Youth Connection (IYC) Batch 2 disambut oleh pemandu wisata lokal yang langsung mengantarkan mereka dalam perjalanan eksplorasi edukatif dan inspiratif ke sejumlah ikon penting di Singapura. Selama perjalanan menuju destinasi pertama, pemandu wisata menjelaskan sejarah Singapura secara ringkas namun berkesan.

Singapura, kata pemandu wisata tersebut, awalnya adalah desa nelayan kecil bernama Temasek, sebelum kemudian dikenal sebagai “Singapura” atau “Kota Singa” setelah kunjungan Sang Nila Utama dari Kerajaan Sriwijaya. Pada abad ke-19, wilayah ini menjadi pelabuhan penting di bawah kekuasaan Inggris melalui perjanjian dengan Sir Stamford Raffles. Setelah melalui periode penjajahan dan pendudukan Jepang saat Perang Dunia II, Singapura akhirnya meraih kemerdekaan penuh pada tahun 1965 dan berkembang pesat menjadi salah satu kota negara paling maju dan bersih di dunia, dengan sistem pemerintahan dan ekonomi yang kuat.

Universal Studios

Destinasi pertama adalah Universal Studios Singapore (USS), taman hiburan kelas dunia yang menjadi satu-satunya Universal Studios di Asia Tenggara. Di sini, para peserta tidak hanya menikmati hiburan tematik yang mengesankan, tetapi juga menyimak penjelasan mengenai bagaimana USS menjadi representasi kemajuan sektor industri kreatif Singapura.

Taman ini memiliki sejumlah keunggulan global, seperti wahana eksklusif Battlestar Galactica: Human vs. Cylon—roller coaster duel tertinggi di dunia—dan zona-zona tematik seperti Hollywood, New York, Sci-Fi City, hingga Far Far Away yang mengangkat tema film-film ikonik. Selain itu, keberadaan USS di Pulau Sentosa menempatkannya di jantung kawasan wisata premium, menjadikannya magnet pariwisata regional dan internasional.

Para peserta IYC diajak merenungkan bagaimana inovasi hiburan, teknologi mutakhir, dan pemanfaatan tema budaya populer dapat menjadi instrumen kuat dalam membangun daya tarik ekonomi dan diplomasi budaya negara.

Sepanjang perjalanan, pemandu wisata juga menjelaskan salah satu kebijakan urban yang unik di Singapura: mobil bukanlah simbol kemewahan, tetapi diposisikan sebagai kebutuhan fungsional dengan tanggung jawab sosial tinggi.

Salah satu sistem yang ditekankan adalah Certificate of Entitlement (COE)—sebuah kebijakan yang mewajibkan setiap pemilik kendaraan untuk memiliki sertifikat izin penggunaan mobil selama maksimal 10 tahun. Setelah masa COE habis, pemilik hanya bisa mempertahankan kendaraannya dengan memperpanjang COE dan melewati uji kelayakan. Jika tidak, mobil harus dijual kembali ke negara atau dilelang, bahkan bisa dihancurkan.

Kebijakan ini diterapkan untuk mengendalikan populasi kendaraan di negara yang memiliki lahan sangat terbatas, sekaligus untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara.

Lebih lanjut, peserta juga dibuat kagum saat mengetahui bahwa mobil-mobil di Singapura tidak mengeluarkan asap dan hampir tidak terdengar suara klakson. Hal ini disebabkan oleh regulasi ketat emisi dan penggunaan kendaraan yang ramah lingkungan, serta pengawasan ketat terhadap penggunaan klakson demi menjaga kenyamanan dan ketenteraman kota yang sangat padat penduduk.

Kunjungan berlanjut ke Merlion Park, di mana peserta disuguhkan lanskap Marina Bay dengan latar patung Merlion yang menyemburkan air. Di sinilah para peserta diajak merefleksikan bagaimana sebuah simbol nasional dapat menjadi kekuatan branding global. Kepala singa Merlion melambangkan keberanian dan sejarah pemberian nama Singapura, sedangkan tubuh ikan mengakar pada identitas maritim kota ini.

Merlion bukan hanya objek wisata, tetapi juga representasi filosofi nasional tentang harapan, keberanian, dan transisi dari kampung nelayan menjadi kota maju di dunia.

Kagumi NUS

Menjelang sore, peserta IYC mengunjungi National University of Singapore (NUS), kampus terbesar dan tertua di Singapura yang kini menduduki peringkat 1 di Asia dan 8 dunia versi QS World University Rankings 2024. Di sana, peserta mendalami sistem pendidikan tinggi yang modern, fleksibel, dan terintegrasi dengan riset dan industri global. Berada di jantung negara yang dikenal sangat efisien dan teratur, NUS bukan hanya kampus terbesar dan tertua di Singapura, tetapi juga merupakan simbol keberhasilan transformasi pendidikan nasional. Didirikan pada tahun 1905, universitas ini telah berkembang menjadi universitas riset global yang memiliki pengaruh kuat di bidang akademik, inovasi teknologi, dan kepemimpinan internasional.

Selama tur kampus yang dipandu oleh perwakilan akademik dan mahasiswa NUS, peserta IYC diperkenalkan pada sistem pendidikan yang fleksibel dan multidisiplin. Mahasiswa di NUS diberikan kebebasan untuk merancang jalur studi mereka sendiri, termasuk Double Major, Minor, dan Special Programmes lintas fakultas. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa untuk tidak hanya menjadi ahli di satu bidang, tetapi juga memiliki spektrum wawasan yang luas dan adaptif terhadap perubahan zaman. Lebih dari sekadar teori, kurikulum NUS sangat berorientasi praktik dan riset, memberikan mahasiswa peluang untuk terlibat dalam proyek nyata yang berdampak langsung pada masyarakat dan industri global.

NUS dikenal memiliki pusat riset dan laboratorium tercanggih yang mendukung kolaborasi antara akademisi, peneliti, mahasiswa, dan sektor industri. Peserta IYC diperkenalkan pada berbagai proyek unggulan NUS dalam bidang Artificial Intelligence, Bioteknologi, Urban Studies, dan Energi Terbarukan, yang sebagian besar telah bermitra dengan perusahaan dan institusi ternama dunia seperti Google, MIT, dan World Economic Forum. Inilah yang membuat NUS bukan hanya tempat belajar, tetapi pusat pencipta solusi dunia nyata yang berkontribusi pada peradaban modern.

Salah satu hal yang menjadi perhatian peserta adalah suasana kampus yang sangat internasional dan inklusif. Mahasiswa di NUS berasal dari lebih dari 100 negara, menciptakan lingkungan belajar yang penuh pertukaran ide, budaya, dan perspektif. Bahasa pengantar utama adalah Bahasa Inggris, namun sistem pendidikan juga mendukung pelestarian dan pembelajaran bahasa seperti Mandarin, Melayu, dan Tamil—mencerminkan nilai multikultural yang tinggi di negara ini. Hal ini menjadikan NUS sebagai kampus yang siap mencetak lulusan dunia yang berkarakter Asia, kompeten secara akademik, dan sadar akan keberagaman.

Keunikan lain dari NUS adalah sistem asrama atau Residential Colleges (RCs), seperti College of Alice and Peter Tan (CAPT) dan Tembusu College, yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga komunitas belajar tematik. RC di NUS menggabungkan pendidikan formal dan informal, dengan fokus pada pengembangan kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan partisipasi aktif dalam komunitas global. Peserta IYC mengamati langsung bagaimana kehidupan mahasiswa di RC membentuk karakter kepemimpinan, kolaborasi, serta kemampuan interpersonal yang tinggi. Dengan kualitas pendidikan kelas dunia dan fasilitas yang mendukung pembelajaran holistik, lulusan NUS sangat dihargai di pasar kerja internasional.

Menurut data 2024, lebih dari 94% lulusan NUS langsung terserap di dunia kerja dalam waktu kurang dari 6 bulan dengan gaji awal kompetitif.

NUS juga memiliki jaringan alumni yang tersebar di lebih dari 150 negara, termasuk para pemimpin bisnis, pejabat pemerintahan, peneliti, dan wirausahawan berpengaruh. Bagi peserta IYC, pengalaman ini menjadi inspirasi untuk mengarahkan langkah pendidikan dan karier menuju jenjang internasional. Kunjungan ke NUS mengukuhkan visi IYC untuk mencetak pemuda Indonesia yang tidak hanya memiliki wawasan luas, tetapi juga ambisi dan kesiapan untuk berkompetisi dalam ruang global. Di bawah kepemimpinan Bahal Siregar, IYC menjadi lebih dari sekadar program pertukaran ia menjadi jembatan harapan bagi generasi yang ingin melangkah jauh dan menjadikan pendidikan sebagai alat perubahannya.

Hari pertama IYC Batch 2 bukan hanya perjalanan wisata, tetapi pembelajaran nyata tentang nilai-nilai global, inovasi kota modern, dan kepemimpinan lintas budaya. Di bawah kepemimpinan Bahal Siregar, IYC terus membuktikan diri sebagai wadah strategis dalam mempersiapkan pemuda Indonesia yang cerdas, sadar global, dan siap bersaing secara bermartabat di level internasional. (Bersambung))

No More Posts Available.

No more pages to load.