Darurat Covid-19 di Olimpiade Tokyo, Dua WNI Relawan Sempat Takut

oleh

Senada dengan Arianti, Nasya Abeba (21 tahun), seorang WNI yang tengah menempuh pendidikan di Jepang , juga terlibat sebagai relawan Olimpiade Tokyo. Sambil mengisi libur kuliah musim panas, dia berinisiatif bergabung menjadi relawan.

“Aku coba cari pengalaman baru dengan berpartisipasi di acara bergengsi ini. Seru sih bisa melihat suasana baru dan aktivitas atlet sendiri. Bahkan bisa ketemu langsung sama atletnya. Walaupun kerjanya sedikit berat tapi lumayan untuk pengalaman,” ujar Nasya yang bertugas di Athlete Village, untuk memastikan kebersihan kamar atlet.

Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Jepang, Heri Akhmadi, berpesan kepada seluruh WNI yang menjadi relawan Olimpiade Tokyo agar disiplin menjaga protokol kesehatan.

“Jaga kesehatan dalam bertugas. Disiplin dan tertib, ikuti instruksi dari panitia penyelenggara. Jaga nama baik Indonesia dan pelajari apa yang anda lihat dan kerjakan sebagai pengalaman berharga,” pesan Dubes Heri.

Pihak penyelenggara Olimpiade Tokyo telah merekrut 80 ribu relawan untuk diperbantukan dalam berbagai aktivitas. Pemerintah Tokyo juga membuka perekrutan untuk 30.000 relawan yang ditugaskan memperlancar berlangsungnya Olimpiade Tokyo.

Untuk tetap mengedepankan protokol kesehatan, pihak penyelenggara dan pemerintah Tokyo mewajibkan para relawan untuk melakukan tes PCR secara berkala selama penyelenggaraan Olimpiade Tokyo. Termasuk mengenakan masker dan sarung tangan plastik.

Sementara itu Gubernur dari tiga prefektur Jepang di dekat lokasi penggelaran Olimpiade Tokyo kemungkinan akan meminta pemerintah untuk mengumumkan keadaan darurat untuk wilayah mereka, setelah infeksi COVID-19 melonjak ke rekor tertinggi di Tokyo. Pada Selasa 27 Juli, Tokyo mencatat 2.848 kasus baru COVID-19 — tertinggi sejak awal pandemi.

Media lokal Jepang melaporkan bahwa otoritas setempat telah meminta rumah sakit untuk menyiapkan tambahan tempat tidur untuk pasien di tengah lonjakan infeksi yang didorong oleh COVID-19 varian Delta. Penyelenggara Olimpiade Tokyo pada Rabu (28/7/2021) melaporkan 16 kasus baru COVID-19 terkait Olimpiade, dengan total 169 sejak 1 Juli 2021.

Atlet, staf, dan media Olimpiade juga diharuskan mengikuti aturan ketat untuk mencegah penyebaran COVID-19, termasuk menjalani tes secara rutin. Perdana Menteri Jepang Yoshide Suga pada Selasa 27 Juli mendesak warga untuk tinggal di rumah sesering mungkin dan menonton Olimpiade di televisi. Namun, dia menyatakan membatalkan Olimpiade bukanlah suatu pilihan. (hud/wis)