NGANJUK| Duta Indonesia.com – Pentas keliling Ludruk Garingan Meimura (Meijono) kali ini akan berkunjung ke Nganjuk. Lokasinya di Sanggar Ri (Sanggar Rumah Ilalang KSII), di Karangnongko, Kelutan, Kec. Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Dipilih topik “Sambang Putu” karena selama ini Sanggar Ilalang, intens mengasuh anak-anak. Karena itu dalam pentas Sabtu malam nanti (25/4) Besut akan melibatkan anak-anak secara aktif, bukan hanya diposisikan sebagai penggembira belaka.
Dalam kacamata Besut, sambang putu bukan sekadar adegan keluarga. Ia adalah filosofi tentang kesinambungan. Tentang bagaimana manusia tidak pernah benar-benar selesai, karena ia terus berlanjut dalam bentuk lain. Cucu menjadi “suplemen jiwa”—vitamin batin bagi para kakek dan nenek untuk menyongsong senja tanpa kehilangan cahaya.
Sambang putu—menjenguk cucu. Bukan sekadar kunjungan keluarga, melainkan perjalanan pulang ke dalam diri yang pernah muda, pernah keras kepala, pernah jatuh cinta pada hidup tanpa banyak tanya. Di tubuh seorang cucu, seorang kakek atau nenek seperti sedang bercermin. Tapi cerminnya hidup—berlari, tertawa, kadang bandel, kadang diam seperti menyimpan rahasia semesta.
Di situ, masa lalu tidak lagi berupa kenangan yang usang, melainkan hadir kembali dalam bentuk yang segar, nakal, dan kadang lebih berani. Cucu menjadi potreit berlapis: wajah kakek, denyut nenek, jejak anak, dan cerita menantu—semuanya menumpuk dalam satu tubuh kecil yang terus tumbuh.
Maka jangan heran, jika rindu kepada cucu sering kali lebih nyaring daripada rindu kepada anak sendiri. Karena pada cuculah, rasa itu tidak hanya tentang kasih, tapi juga tentang perjumpaan ulang dengan diri. Sebuah nostalgia yang tidak melankolis, tapi justru penuh energi baru. Seperti menemukan kembali mainan lama, tapi kali ini dimainkan dengan kesadaran yang lebih dalam.
Ada yang menarik ketika cucu mulai menunjukkan bakat—gerak tubuh yang luwes, cara bicara yang khas, atau bahkan selera jenaka yang tak jauh dari garis leluhur. Di situlah, seorang kakek atau nenek seperti melihat revolusi kecil sedang berlangsung. Bukan revolusi yang gaduh, tapi yang halus: perpindahan jiwa, kesinambungan rasa, dan keberanian untuk tetap hidup melalui generasi berikutnya.
Dan di Sanggar Ilalang Nganjuk nanti, episode ini akan hadir bukan sebagai cerita haru semata. Ia akan dibungkus dengan tawa, parikan, dan mungkin sedikit nakal—seperti khasnya Besut yang selalu mampu mengajak kita menertawakan hidup, bahkan ketika kita sedang menatap waktu yang pelan-pelan pamit.
“Sambang putu adalah tentang pulang. Tapi bukan ke rumah. Melainkan ke diri yang tak pernah benar-benar pergi,” ujar Mei.
Sedangkan Sanggar Rumah llalang – Komunitas Seni Ilalang Indonesia didirikan oleh Agus R. Subagyo bersama dengan enam orang kawannya, yaitu Banimal Malabar, Yusuf Syafroni Karim, Masboegi, Chikul Mahardika, Shinta dan Mawar Kumala, pada tahun 2000.
Agus R. Subagyo sendiri di kalangan seniman dikenal dengan nama SanRego, biasa dipanggil Kang Rego, adalah seorang penyair yang produktif, pegiat seni, termasuk teater di beberapa kota. Sanggar dan komunitas itu kemudian menjadi menjadi inspirasi bagi lahirnya banyak komunitas dan sanggar teater lainnya. Khususnya di Nganjuk, Kediri dan Malang.
Ia sendiri beberapa kali tampil baca puisi di berbagai kota. Namun lelaki yang lahir Nganjuk pada 7 Oktober I973 ini, sehari-harinya berprofesi sebagai petani. Menggarap sawah dan ladang keluarga, menanam padi dan bawang merah di kampungnya.
Kecintaannya terhadap anak-anak antara lain diwujudkan dalam karya bukunya Buku Ajar Baca Puisi untuk Anak (2020). Sebagian besar anak-anak Rumah Ilalang yang aktif dalam puisi rata-rata masih sekolah di tingkat dasar (SD/MI). Juga sejumlah event yang pernah digelar di sanggarnya: Pagelaran Musim Tandur, Pentas Nglurug Dulur, Nyadran Puisi, Pagelaran Musim puisi, tari, teater, pantomime, musik bahkan juga lukisan.
Pentas keliling “Besut Jajah Deso Milangkori” oleh Meimura di Nganjuk ini merupakan pentas ke-4, sejak diawali di Surabaya, Sidoarjo, Jombang. Pentas selanjutnya digelar di Mojokerto (7/5). Bersama dengan Dr Autar Abdillah, SanRego nanti juga akan menjadi narasumber dalam sarasehan yang diselenggarakan usai pementasan. Program ini menjadi bagian dari Pemberdayaan Ruang Publik Dana Indonesiana – Kementerian Kebudayaan RI. (gas)











