SURABAYA | DutaIndonesia.com- Hubungan paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya, terjadi ketika hambanya berada dalam posisi sholat – sujud. Pada saat itulah seorang mukmin benar-benar menundukkan diri, merendahkan ego, serta menyerahkan seluruh harap dan keluh kesahnya hanya kepada Allah SWT.
Hal ini dikatakan oleh Prof DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, saat memberikan pengajian Rabu subuh, (22/4/2026) di Ponpes Siwalan Kerto, Wonocolo, Surabaya.
“Kalau ingin benar-benar dekat dengan Allah, maka perpanjanglah sujudmu,” tutur beliau di hadapan para santri dan jamaah. Dalam sujud yang Panjang itu, tumpahkan keluh kesahmu, utarakan harapanmu dan berdoalah dengan sungguh-sungguh.
“Tak apa, berapa masalah yang kalian adukan, berapa doa yang kamu sampaikan. Tapi haru penuh dengan etika Bahasa yang tinggi, yang berlaku di daerahmu,” jelas Kiai Asep.
“Nggak usah sungkan, nggak usah malu. Hal rumah tangga bahkan hal yang paling pribadi pun, sampaikan saja. Karena Allah itu Maha Tahu,” jelasnya lagi.
Beliau menegaskan, sujud boleh dilakukan dengan lebih lama, baik pada sujud pertama, sujud kedua, maupun sujud terakhir dalam sholat. Dalam momen tersebut, para santri dianjurkan untuk mengadu, meminta, dan berdoa sepuasnya. Sujud menjadi ruang paling intim antara hamba dan Tuhannya.
Meski demikian, Kiai Asep mengingatkan agar tetap menjaga tuntunan syariat. Sujud yang dipanjangkan, lamanya sebaiknya jangan melebihi lamanya membaca 50 ayat Al-Qur’an. Dengan demikian, ibadah tetap berada dalam koridor keseimbangan dan tidak memberatkan.
Beliau juga menjelaskan bahwa memperlama sujud diperbolehkan baik dalam sholat wajib maupun sholat sunnah. Namun, kesempatan terbaik untuk melakukannya adalah dalam sholat sunnah, terutama sholat malam seperti tahajud, sholat hajat, dan ibadah-ibadah qiyamul lail lainnya. Pada waktu sunyi itulah, doa-doa lebih mudah dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan.
Di akhir pengajian, Kiai Asep memberikan pesan yang sangat tegas kepada jamaah agar tidak meremehkan sholat Isya dan Subuh. Beliau mengingatkan bahwa kedua sholat tersebut memiliki tantangan tersendiri karena seringkali berat untuk ditegakkan secara berjamaah maupun tepat waktu. Jangan sampai seorang muslim lalai dalam menjaga dua waktu sholat yang istimewa tersebut.
Pengajian pagi itu ditutup dengan doa bersama, penuh harap agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada seluruh jamaah untuk memperbaiki kualitas sholat dan memperpanjang sujud sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. (Moch. Nuruddin)












