SURABAYA | DutaIndonesia.com – Wanita itu umumnya cerewet. Dalam konteks banyak berbicara atau bawel dalam kebaikan. Namun, itu adalah bagian dari tabiat mereka (sunnatullah).
“Jadi cerewet itu bukan sebuah kelemahan. Untuk itu, suami disarankan untuk bersabar, mendengarkan, dan mengarahkan kecerewetan tersebut pada hal positif, karena di balik itu seringkali terdapat perhatian besar untuk keluarga.”
Hal ini dijelaskan oleh Prof DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, kepada para santrinya, saat ngaji kitab kuning, Rabu, 11 Maret 2026 subuh, di Ponpes Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya.
Untuk mempertegas, Kiai Asep menukil sabda Rasulullah yang mengatakan, “Berwasiatlah kalian kepada wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan.” (HR. Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 1468)
Untuk mengingatkan hadist tersebut, Kiai Asep meminta 5 santri putri dan 5 santri putra, untuk menghafalkan hadist tersebut dalam bahas Arab, dengan imbalan uang masing-masing Rp 5.000.
“Ini penting nak, agar ketika kalian berumah tangga nanti, sudah mengenal watak dasar dari masing-masing pasangannya. Sehingga tidak terjadi pertengkaran,” kata Kia Asep.
TAFSIR
Dijelaskan oleh Kiai Asep, tafsir atas hadist mengenai Tulang Rusuk yang Bengkok adalah kata kiasan atas karakter wanita. Sebagian besar ulama menjelaskan bahwa “tulang rusuk” dalam hadits ini adalah kiasan (perumpamaan/metafora) atas karakteristik wanita yang emosional, lembut, dan tidak kaku seperti pria.
Ditegaskan oleh Kiai Asep, bahwa bengkoknya (cerewetnya) wanita itu bukanlah cacat, melainkan fitrah.
Jadi suami tak perlu memaksa “meluruskan” agar istri bertingkah laku persis seperti suami (kaku/tidak emosional). Langkah ini justru akan merusak hubungan (patah/cerai).
Sedang kiasan ‘Bagian paling atas yang paling bengkok’, yang dimaksud adalah mulut/lisan. Ini menunjukkan bahwa wanita cenderung lebih banyak berbicara (cerewet) sebagai bentuk ekspresi emosi, perhatian, atau kasih sayang.
Sedang maksud bahwa wanita cerewet itu sunnatullah adalah kecerewetan istri itu sudah tabiat, yakni bentuk perhatian, kasih sayang, dan naluri untuk menjaga keluarga (melindungi jantung/qalbu).
“Kalau sudah faham, maka kaum lelaki, yakni suami, hendaklah sabar dalam menghadapi istri yang cerewet. Karena bisa sebagai ladang amal dan ujian yang akan mendatangkan pahala besar bagi suami,” jelas Kiai Asep.
Kesimpulannya, hadits tersebut sebenarnya adalah perintah bagi suami untuk bersabar, memahami karakter istri, dan menggaulinya dengan lembut, bukan untuk melawannya dengan kasar.
Dzikir Hauqola
Sedang untuk wanita, baik yang belum bersuami mau pun yang sudah bersuami, agar tidak melupakan kalimat dzikir hauqolah. Yakni “La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim”.
“Baca nak, di dzikirkan setelah sholat lima waktu. Dan bila menghadapi hal-hal yang tak diinginkan, dzikir hauqola ini,” pesan Kiai Asep.
Karena pada dasarnya, wanita itu lemah. Dan gangguannya banyak, terutama dari kaum lelaki. “Baca hauqola, lalu jangan banyak bicara. Bicara yang penting saja, lalu menghindar sesegera mungkin,” pesan Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, dengan sering membaca hauqola, maka kita akan semakin berdaya dan mendapat kekuatan dari Allah. Kita juga kuat menghadapi bahaya, insyaAllah akan dapat menghalangi musibah. Bahkan, kalau dalam keadaan sangat susah dan sedih, maka bacalah hauqola ini. (Moch. Nuruddin)











