JOMBANG| DutaIndonesia.com – Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, kampanye literasi di hadapan siswa SD dan SMP Roushon Fikr Jombang.
“Kami menyambut hangat kehadiran Duta Baca Indonesia di sekolah kami. Kegiatan ini sinkron dengan kegiatan literasi di sekolah kami,” tegas Sayekti Puji Rahayu, MPd, Kepala SMP Roushon Fikr Jombang.
Gol A Gong, mengajak dialog siswa tentang perlunya membaca dan menulis.
“Saya bisa keliling dunia karena menulis. Kalian harus bisa mengikuti,” tegas Gong yang sudah berkarya 126 guru.
Seorang siswa bertanya dengan kritis. Apa yang didapat Pak Gong keliling dunia selama ini.
Gol A Gong menjawab dengan santai, bahwa setiap keliling dunia selalu memahami budaya dan kebiasaan di suatu negara.
“Yang utama, mendapat sahabat baru, network dan pasti pengalaman baru. Semakin banyak negara kita kunjungi semakin banyak ilmu baru didapat,” tambah Gong.
Ketua Dewan Pembina IQRA Semesta, Yusron Aminulloh dalam sambutan pengantar menyebut gerakan literasi harus dibangun sejak dini.
“ Acara sederhana ini adalah bibit indah bagi masa depan. Anak-anak jadi apa pun, insinyur, dokter, pengusaha. wajib membaca dan menulis,” tegas Yusron yang juga penggerak literasi nasional ini.
Budaya Baca Menulis
Gol A Gong yang bernama asli Heri Hendrayana Harris terpilih sebagai Duta Baca Indonesia (DBI) periode 2021-2026. Sastrawan ini memiliki tugas untuk membumikan literasi baca Indonesia secara masif di tanah air.
Dalam salah satu acara pengukuhan dan talkshow DBI, Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando mengatakan Gol A Gong memiliki tugas dan tantangan untuk mengeluarkan Indonesia dari penghakiman budaya baca yang masih rendah.
M. Syarif Bando berharap Gol A Gong dapat menghidupkan gairah membaca buku untuk kemajuan suatu bangsa. Apalagi, budaya baca Indonesia yang kini masih rendah menyebabkan indeks inovasi rendah, IPM rendah, daya saing global rendah hingga income per kapita rendah.
“Jumlah buku yang diperlukan Indonesia setiap tahun minimal 810 juta. Bila mengikuti standar UNESCO minimal 3 buku baru untuk setiap orang setiap tahunnya. Sedangkan Negara lain, seperti Korea, Jepang dan China rata-rata sudah menyelesaikan membaca buku minimal 15-20 buku setiap tahunnya. Di sinilah peran duta baca untuk peningkatan literasi,” pungkasnya.
Gol A Gong lebih dari tiga dekade bergelut di dunia literasi dengan ratusan karya dan sederet penghargaan yang diraihnya, sehingga diharapkan mampu menjadi penggerak hati masyarakat agar mau menjadikan membaca sebagai budaya dalam kesehariannya.
Perjalanan Duta Baca Indonesia diawali oleh Tantowi Yahya Periode 2005-2010 seorang pembaca acara, musikus, pengusaha dan politikus berkebangsaan Indonesia. Kemudian Andy F Noya seorang wartawan, penulis dan presenter televisi Indonesia terpilih sebagai DBI Periode 2011-2015.
Selanjutnya, Najwa Shihab seorang pembawa acara berita terpilih sebagai duta baca periode 2016-2020. Dan kini Gol A Gong seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia dilantik sebagai Duta Baca Periode 2021-2026.
Arti Gol A Gong
Dikutip dari dispusip.pekanbaru.go.id, Gol A Gong lahir di Purwakarta, Jawa Barat, 15 Agustus 1963. Penulis ternama ini lahir dari seorang ayah bernama Harris dan Ibu bernama Atisah. Di mana, nama samarannya “Gol A Gong” memiliki makna yang dalam. Nama Gol merupakan pemberian ayahnya sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas karyanya yang diterima penerbit. Serta Gong merupakan harapan dari ibunya agar tulisannya dapat menggema seperti bunyi alat musik gong.
Sedangkan A diartikan sebagai “semua berasal dari Tuhan”. Maka, nama Gol A Gong dimaknai sebagai “kesuksesan itu semua berasal dari Tuhan”.
Sastrawan berkebangsaan Indonesia ini telah malang melintang di dunia literasi. Banyak karya yang telah dimuat di media massa dan terbit berupa buku, seperti Balada Si Roy buku Joe (Gramedia, 1989), Balada Si Roy buku Avonturir (Gramedia, 1990), Balada Si Roy buku Rende-vouz (Gramedia, 1990), Balada Si Roy buku ke Bad Days (Gramedia, 1991), Balada Si Roy buku ke Blue Ransel (Gramedia, 1991), Balada Si Roy buku ke Telegram (Gramedia, 1992), Bangkok Love Story, novel (Gramedia 1994), Labirin Lazuardi: Langit Merah Saga novel (Tiga Serangkai, 2007), Labirin Lazuardi: Ketika Bumi Menangis (Tiga Serangkai, 2007), Labirin Lazuardi: Pusaran Arus Waktu (Tiga Serangkai, 2007), Miracle Menantang Maut (Adaptasi Film, dari skrip Anggoro Saronto & Helfi Kardit, 2007) dan masih banyak lagi lainnya.
Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Indonesia ini sejak kecil bermimpi memiliki gelanggang remaja dan terwujud dengan mendirikan komunitas kesenian Rumah Dunia pada tahun 1998. Selain itu, berbagai kegiatan yang diusung Gol A Gong juga banyak dilakukan, seperti Orasi literasi, Hibah buku, Aneka lomba literasi, Penerbitan, Bedah/peluncuran buku dan Bazar buku murah.
Pada umur 11 tahun Gol A Gong (dulu ditulis Gola Gong) kehilangan tangan kirinya terjadi saat dia dan teman-temannya bermain di dekat alun-alun Kota Serang. Saat itu sedang ada tentara latihan terjun payung.
Kepada kawan-kawannya dia menantang untuk adu keberanian seperti seorang penerjun payung. Uji nyali itu dilakukan dengan cara loncat dari pohon di pinggir alun-alun. Siapa yang berani meloncat paling tinggi, dialah yang berhak menjadi pemimpin di antara mereka.
Kecelakaan yang menyebabkan tangan kirinya harus diamputasi itu tidak membuatnya sedih. Bapaknya menegaskan kepadanya: “Kamu harus banyak membaca dan kamu akan menjadi seseorang dan lupa bahwa diri kamu itu cacat”. (gas)












