Pertumbuhan ekonomi seharusnya membuka jalan bagi generasi muda untuk membangun masa depan.
Oleh Ulul Albab
Dewan Pakar ICMI Jawa Timur
Bayangkan seorang sarjana baru lulus di Surabaya. Ijazah sudah di tangan. Orang tua ikut bangga. Foto wisuda sudah beredar di grup keluarga. Tinggal satu yang belum, yaitu: pekerjaan.
Lamaran kerja kemudian dikirim ke banyak perusahaan. Sebagian tidak menjawab. Sebagian lagi menolak. Ada perusahaan yang memanggil wawancara, tetapi pekerjaan yang ditawarkan belum tentu sesuai dengan pendidikan dan harapannya.
Sementara itu, di tempat lain, sebuah pabrik baru berdiri. Investasi masuk. Mesin-mesin didatangkan. Pemerintah menyambutnya sebagai kabar baik. Ekonomi diharapkan tumbuh dan kesejahteraan masyarakat diharapkan ikut meningkat.
Dua cerita itu bisa terjadi pada waktu yang bersamaan. Investasi bertambah, tetapi anak muda masih mencari pekerjaan. Ekonomi tumbuh, tetapi tidak semua orang merasakan manfaatnya.
Maka, pertanyaan penting bagi Jawa Timur bukan sekedar berapa persen ekonominya tumbuh. Tapi “Seberapa jauh pertumbuhan itu mampu membuka pintu pekerjaan bagi generasi muda?”
Data Badan Pusat Statistik Jawa Timur menunjukkan bahwa pada Februari 2026 jumlah penduduk bekerja mencapai sekitar 24,25 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka tercatat 3,55 persen. Angka ini memberi gambaran positif tentang pasar kerja. Namun, data tersebut belum menjawab secara lengkap apakah anak muda memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan hidupnya.
Kita perlu membedakan antara bekerja dan memperoleh pekerjaan yang layak. Ada orang yang bekerja, tetapi penghasilannya tidak menentu. Ada lulusan yang bekerja di luar bidang keahliannya. Ada pula anak muda yang harus menerima pekerjaan apa saja karena kesempatan yang sesuai sangat terbatas.
Persoalannya bukan berarti semua pekerjaan informal itu buruk atau semua lulusan sulit mendapatkan pekerjaan. Tetapi yang perlu kita ketahui adalah seberapa luas kesempatan kerja yang tersedia, siapa yang dapat mengaksesnya, dan apakah pekerjaan itu memberi peluang untuk berkembang.
Investasi memang penting. Tetapi besarnya investasi tidak otomatis sebanding dengan jumlah pekerjaan yang tercipta. Kita perlu melihat sektor yang menerima investasi, tenaga kerja yang diserap, keterampilan yang dibutuhkan, serta sejauhmana perusahaan melibatkan tenaga kerja dan usaha lokal.
Hubungan kampus dengan industri juga perlu dicermati. Perguruan tinggi menghasilkan lulusan, sementara dunia usaha membutuhkan kompetensi tertentu. Jika keduanya tidak terhubung dengan baik, maka perusahaan dapat kesulitan menemukan tenaga yang sesuai, sedangkan lulusan membutuhkan waktu lebih lama untuk memasuki dunia kerja.
Di sinilah cendekiawan Jawa Timur dapat mengambil peran. Perguruan tinggi, peneliti, organisasi profesi, pesantren, pemerintah, dan dunia usaha perlu duduk bersama untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja, mengevaluasi pelatihan, dan merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran.
ICMI Jawa Timur dapat menjadi salah satu penghubung melalui kajian independen berbasis data. Salah satu gagasan yang layak diuji ialah penyusunan peta kesempatan kerja bagi anak muda di setiap kabupaten dan kota, termasuk jenis pekerjaan yang tumbuh, keterampilan yang dibutuhkan, dan hambatan yang dihadapi pencari kerja.
Sebab, ukuran keberhasilan ekonomi bukan hanya berapa besar investasi masuk atau berapa persen pertumbuhan tercatat.
Tetapi “apakah anak-nK muda memiliki kesempatan untuk bekerja, memperoleh penghasilan yang layak, dan membangun masa depannya?”
Kita berharap: Jawa Timur tidak hanya menumbuhkan ekonomi. Tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan itu membuka jalan bagi generasi mudanya untuk bekerja dan hidup lebih baik.













