JAKARTA| DutaIndonesia.com – Gunung Anak Krakatau kembali erupsi Kamis (10/9/2026) pagi. Gunung Anak Krakatau erupsi terekam selama 17 detik.
“Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Kamis, 10 September 2026, pukul 09.10 WIB,” bunyi keterangan BPBD Provinsi Lampung seperti dilihat pada 10 September 2026
BPBD Lampung mengatakan visual letusan tidak teramati. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 17 detik.
“Status: Selesai,” bunyi keterangannya.
Dilihat situs MAGMA, Badan Geologi ESDM, saat ini cuaca di Gunung Anak Krakatau berawan. Angin melemah ke arah barat laut.
Kemudian, dalam pengamatan MAGMA, terjadi tiga kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 11-14 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 4-7 detik, dan 1 kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 2-7 mm, dominan 3 mm.
Masyarakat masih diimbau agar tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.
Sementara itu lima jurnalis dan tiga orang lainnya hilang kontak saat akan meliput Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Pemilik kapal sempat menyangka kapal yang membawa rombongan korban menginap di pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.
Pemilik kapal, Sandi Wiyasa, mengatakan rombongan jurnalis itu menyewa kapalnya pada Senin (7/9) siang. Mereka menyewa kapal untuk rute pulang pagi atau kembali ke kawasan Carita, Pandeglang, pada sore hari.
Namun, hingga malam, kapal tersebut belum kembali. Sandi menyangka rombongan menginap di pulau sekitar Anak Krakatau.
“Saya pun berpikir karena mungkin kondisi, biasanya kan media minta angle yang bagus, foto yang bagus, takutnya nginep. Itu kan kita masih positive thinking ke kejadian itu,” ujar Sandi saat ditemui di Pos SAR Nasional, Pantai Carita, Pandeglang, Rabu (9/9/2026).
Sandi pun masih menunggu kabar mengenai kapalnya tersebut pada Selasa (8/9) pagi. Ia sempat bertanya kepada kru kapal lain apakah melihat rombongan lima jurnalis tersebut.
“Kita pastikan bahwa hilang itu setelah ada beberapa kapal yang pulang dari Krakatau, dari rombongan media (lain) juga, tidak ketemu. Makanya langsung (dicari) Basarnas itu,” ujarnya.
Di luar upaya pencarian Tim SAR, Sandi menyebut telah menghubungi beberapa orang kenalannya, baik nelayan, pemilik atau nakhoda kapal, serta warga Pulau Sebesi, dekat Krakatau.
“Kita juga tapi sudah menghubungi masyarakat, nelayan-nelayan yang kita kenal, penjaga-penjaga yang di Gunung Krakatau, sudah kita hubungi dari kemarin,” ujarnya.
Diketahui, lima jurnalis yang hilang kontak adalah M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (freelance). Sementara itu, tiga awak kapal masing-masing: Warta selaku kapten, Sukarman sebagai ABK, serta Heriyanto sebagai guide.
Tim SAR melanjutkan pencarian lima jurnalis yang hilang kontak saat liputan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Tim SAR gabungan menyisir pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau.
“Pada pencarian hari pertama, tim SAR telah menyisir sejumlah perairan hingga sekitar Pulau Krakatau dan Pulau Panjang. Namun, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan rombongan maupun speedboat yang digunakan,” kata Kasi Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto, Rabu (9/9/2026).
Tim SAR gabungan kini mengerahkan lima kapal untuk menyisir perairan Selat Sunda dengan total area pencarian sekitar 271 nautical mile (NM).
Kapal yang dikerahkan adalah KN SAR Tetuka, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, KAL Anyer, dan KP Sanjaya 7016 milik Polairud Mabes Polri untuk melakukan penyisiran di sejumlah sektor.
“Berdasarkan rencana operasi SAR (SARMEP), area pencarian dibagi ke beberapa sektor dengan total sekitar 271 NM. KN SAR Tetuka dan KAL Anyer melakukan penyisiran di sektor masing-masing, sementara RIB 02 Banten difokuskan di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang,” ujarnya.
Ia meminta dukungan doa dari masyarakat agar seluruh korban segera ditemukan.
“Kami mohon doanya dari rekan-rekan media dan masyarakat agar sesegera mungkin tim SAR menemukan korban dalam kondisi selamat,” ujarnya. (det/wis)













