FPKS Gelar Baca Puisi ‘Merawat Ingatan Menumbuhkan Kota’ di Balai Pemuda Surabaya

oleh
FPKS baca puisi

SURABAYA| DutaIndonesia.com – Sejak dibentuk pada April 2025, kemudian membuat kegiatan perdana pada 13 Mei 2025, Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) telah memasuki tahun pertama. Selama setahun ini, 10 kegiatan (sastra, tari, teater, musik, senirupa pertunjukan, orasi budaya hingga workshop penulisan kreatif dan penerbitan buku antologi puisi) telah dilaksanakan, semuanya berlangsung di Kompleks Balai Pemuda Surabaya dan diselenggarakan secara mandiri melalui saweran.

Jil Kalaran, Koordinator FPKS, mengatakan, untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional sekaligus Hari Jadi Kota Surabaya ke 733, FPKS menggelar pembacaan puisi oleh para penyair Surabaya dan sekitarnya pada Sabtu 23 Mei 2026, Pukul 18.30 – 21.00, di Pelataran Sisi Timur Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya. Tema yang diusung, Merawat Ingatan, Menumbuhkan Kota.

Bagi FPKS, seni dan memori kolektif memiliki hubungan yang tak terpisahkan, terutama dalam konteks kota seperti Surabaya yang terus bergerak menuju wajah industrial yang kian padat dan cepat. Di tengah bising mesin, geliat pembangunan infrastruktur serta ritme ekonomi yang semakin agresif, seni hadir sebagai ruang pengingat. Sebuah jeda yang menjaga agar kota tidak kehilangan jiwanya.

Surabaya adalah ruang hidup yang dibentuk oleh sejarah panjang, narasi perjuangan serta pengalaman warganya dari generasi ke generasi. Tentu saja, yang disebut memori kolektif tidak selalu hadir dalam bentuk arsip resmi atau monumen. Memori kolektif justru hidup dan berdenyut dalam praktik-praktik kesenian, mulai dari pertunjukan teater (di kampung-kampung), mural di berbagai sudut kota, musik jalanan hingga tradisi lisan yang terus diwariskan.

Sebagai medium penyimpan sekaligus pengaktif ingatan bersama, di sinilah seni memainkan peran penting. Seni mampu mengartikulasikan pengalaman warga yang sering kali tak tercatat dalam sejarah formal. Seni mengangkat tentang kehidupan sehari-hari, tentang perubahan ruang kota, tentang kehilangan dan bahkan juga harapan. Dalam konteks kota yang semakin industrialis, seni menjadi semacam “penjaga ingatan” agar proses modernisasi tidak serta-merta menghapus identitas kultural yang telah lama tumbuh.

Lebih dari itu, seni juga berfungsi sebagai ruang refleksi kritis. Ketika industrialisasi membawa dampak seperti ketimpangan sosial, alienasi atau degradasi ruang hidup, kesenian memberi bahasa untuk meresponsnya. Ia membuka dialog antara masa lalu dan masa kini, antara pembangunan dan kemanusiaan. Dengan demikian, seni tidak hanya merawat memori, tetapi sekaligus menegosiasikan arah masa depan kota.

Oleh karena itu, keberadaan dan dukungan terhadap praktik kesenian di Surabaya menjadi sangat krusial. Tanpa seni, kota berisiko menjadi sekadar ruang produksi yang kering dari makna. Dengan seni, Surabaya dapat terus tumbuh sebagai kota yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kaya secara kultural. Seni menjadi refleksi bagaimana sebuah kota yang ingat dari mana ia berasal dan sadar ke mana ia hendak melangkah.

Para penyair yang tampil dalam kegiatan ini antara lain : Denting Kemuning, Henri Nurcahyo, Rohmat Djoko Prakosa, Mita (Aixa Paramita), Desemba Sagita T, Imung Mulyanto, ⁠Amang Mawardi, Zoya Herawati, Nanda Alifya Rahmah, ⁠Sasetyo Wilutomo, ⁠Aming Aminoedhin, ⁠Peni Citrani Puspaning, ⁠Deny Tri Aryanti, ⁠Adnan Guntur – Saung Teater, ⁠Bima Still The One – Saung Teater, mFido Fachrezi – Teater Kembang Api, ⁠Ahmad Ilmi Umar Faruq (Arfy) – Teater Gapus Surabaya, Eka Purbowati – Teater Gapus Surabaya, ⁠Tri Wulaning Purnami dan ⁠Widodo Basuki. (gas)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.