SURABAYA| DutaIndonesia.com – Musim hujan belum sepenuhnya reda. Bahkan, di sejumlah wilayah Jawa Timur (Jatim) masih terjadi bencana. Selain banjir dan longsor, hujan disertai angin kencang juga menyebabkan sejumlah rumah warga rusak seperti terjadi di Desa Kerjo Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek beberapa hari lalu. Namun belum sepenuhnya reda bencana di musim hujan, kini giliran fenomena cuaca El-Nino mengancam menjelang musim kemarau.
“Kami belum bisa bicara kekeringan, sebab sekarang cuaca di Desa Kerjo mendung. Dua hari berturut-turut sebelumnya terjadi hujan disertai angin kencang dan petir. Itu warung di desa saya, selatan balai desa, di tengah bulak jalan raya, rusak tertimpa pohon yang roboh. Lalu satu rumah milik Pak Warno di tepi jalan, bos elpiji, juga terasnya galvalum dibawa angin dan tempat parkir cucian mobil ALB juga dibawa angin dan lain-lain yang kayu banyak yang tumbang,” kata Rebo, Kepala Desa Kerjo, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (3/5/2023) siang.
Bhilda Maulida, prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, kepada DutaIndonesia.com dana Global News, Rabu (3/5/2023), menjelaskan, bahwa saat ini kondisi El-Nino berada pada fase Netral. Kondisi itu diprakirakan akan berlangsung hingga akhir semester I atau bulan Juni 2023.
“Kondisi El Nino diprakirakan berangsur menuju fase aktif pada semester II (Juli, Agustus, September 2023, Red.) dengan peluang 50 – 60%. Selain itu kami prakirakan juga potensi terjadi hujan pada musim kemarau di tahun 2023 relatif kecil atau cenderung di bawah normal dibanding tahun 2020, 2021, maupun 2022. Namun untuk dampak yang ditimbulkan belum bisa dipastikan menunggu intensitas dari El-Nino yang terjadi,” katanya.
Terkait hal itu BMKG menghimbau kepada seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan panen air hujan dan mengisi waduk, danau, atau embung di periode peralihan musim. Sebab, hal itu berguna untuk mengatasi dampak musim kemarau seperti kebakaran lahan/hutan, kekeringan, dan kekurangan air bersih.
BMKG juga menghimbau Kementerian /Lembaga, seluruh jajaran pemerintah daerah, institusi terkait, dan masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terkait dampak musim kemarau seperti pergeseran awal musim yang berpengaruh pada awal masa tanam dan sifat hujan musim kemarau “bawah normal” yang dapat mengakibatkan gagal panen. “Yang paling perlu diwaspadai adalah saat puncak kemarau di bulan Agustus,” ujarnya.
Gatot Soebroto SE, M.PSDM, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, kepada Global News, Rabu (3/5/2023), juga mengatakan bahwa pihaknya sudah turun ke lapangan melakukan antisipasi dampak El-Nino tersebut. “Sekarang kami sedang giat,” katanya.
Sebelumnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta seluruh pihak di daerahnya untuk mewaspadai kekeringan akibat fenomena El-Nino. “Potensi El-Nino yang akan melanda Indonesia perlu kita waspadai bersama,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
Pasalnya, kata Khofifah, kekeringan yang disebabkan El-Nino juga bisa menimbulkan kerawanan kebakaran hutan. “Selain memicu kekeringan, minimnya curah hujan yang terjadi juga akan meningkatkan jumlah titik api, sehingga rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Apalagi, sambungnya, sebelumnya Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan mengatakan potensi kekeringan di beberapa wilayah Indonesia perlu dimitigasi karena diprediksi akan berdampak terhadap ketersediaan air untuk pertanian, PLTA, dan industri pariwisata. Hal itu, kata Khofifah, disampaikan Luhut pada Rakor Kesiapsiagaan
Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan Lahan pada Rabu (26/4/2023) lalu.
“Bahkan dampak ekonomi EI Nino kuat pada tahun 2015, mengakibatkan kekeringan tanaman padi seluas 597 ribu hektare,” ucap Khofifah, menyampaikan pesan Luhut.
Oleh karena itu, kata Khofifah, perlu langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi bencana kekeringan, terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Antisipasi harus dilakukan secara bersama-sama dan komprehensif.
Gubernur Khofifah pun menekankan pentingnya gotong royong seluruh elemen strategis dalam mewujudkan desa tangguh untuk menekan risiko bencana. “Ketangguhan itu akan membentuk resiliensi. Juga diperlukan sosialisasi, edukasi dan pelatihan secara masif,” ujarnya.
Kegotongroyongan ini, kata dia, dapat diwujudkan apabila masyarakat mendapatkan pelatihan, edukasi dan sosialisasi berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana. Sebab ini merupakan pelajaran dan upaya berkelanjutan dari lini paling bawah. Atas dasar itu, Khofifah meminta BPBD di masing-masing kabupaten/kota memberikan edukasi dan sosialisasi kepada titik-titik yang berpotensi rawan bencana. “Jangan cuma sesaat, tapi antisipasi harus komprehensif dan dilaksanakan bersama-sama,” ujar mantan Menteri Sosial itu dikutip dari cnnindonesia.com.
Tips Hadapi Cuaca Panas
Saat ini fenomena cuaca panas sangat terasa di sejumlah daerah di Indonesia akhir-akhir ini. Tidak hanya di Indonesia, kondisi ini juga dialami beberapa negara di Asia seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar, India, dan Bangladesh.
Menghadapi cuaca panas tersebut, Gubernur Khofifah juga mengimbau masyarakat agar cermat dalam menyiapkan kondisi tubuh agar tetap fit di cuaca ekstrem. Caranya, antara lain memperbanyak meminum air putih minimal 2 liter per hari. Tak hanya itu, makan makanan bergizi dan tinggi kandungan air juga perlu diterapkan.
“Apalagi jika mempunyai kegiatan atau beraktivitas tinggi di luar ruangan, maka minumlah air untuk menggantikan keringat yang hilang. Jangan lupa untuk mengkonsumsi makan makanan yang bergizi dan tinggi kandungan air. Ini penting dilakukan selain menyehatkan, juga menghindari terjadinya dehidrasi,” ujar Gubernur Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya.
Tips kedua yang bisa dilakukan, lanjut Khofifah, yaitu menggunakan pakaian yang longgar dan berbahan ringan. Tips ketiga sebisa mungkin menghindari aktifitas di luar ruangan di siang hari.
“Keempat, jika sedang beraktifitas di luar ruangan, bisa mengenakan topi atau memakai payung. Mengingat cuaca panas yang terik, sebisa mungkin untuk menghindari paparan langsung matahari,” katanya.
Gubernur Khofifah menyampaikan tips kelima yaitu pentingnya menjaga stamina dengan mengkonsumsi vitamin dan berolahraga. Sebab, dapat menjaga tubuh tetap pada kondisi bugar.
“Insya Allah kelima tips ini jika dilakukan bisa membuat kita tetap dalam kondisi yang fit meski dalam cuaca panas yang diakibatkan gelombang panas,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Gubernur Khofifah, tingkat paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi dapat berpengaruh pada kesehatan kulit dan mata. Sebagai informasi tingkat UV akan mulai meningkat sejak pukul 10.00 WIB dan akan sangat tinggi pada pukul 11.00-12.00 WIB dan mulai kembali turun pada pukul 14.00 WIB.
Untuk menjaga kesehatan kulit dan mata, Gubernur Khofifah menyarankan agar meminimalisir aktivitas di bawah paparan matahari pada pukul 10.00 – 16.00 WIB. Akan tetapi bagi yang harus tetap beraktivitas maka disarankan untuk menggunakan tabir surya dengan minimal SPF 30+ tiap 2 jam sekali. “Bagi yang harus tetap beraktivitas di luar jangan lupa memakai sunblok supaya tidak terbakar kulitnya,” sarannya.
Soal cuaca panas ekstrem ini sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyebutkan bahwa fenomena tersebut disebabkan karena lima hal. Penyebab pertama suhu panas di Indonesia yaitu adanya dinamika atmosfer yang tidak biasa. Selain itu, sedang terjadi gelombang panas di wilayah Asia. Suhu panas bulan April di Wilayah Asia selatan secara klimatologis dipengaruhi oleh gerak semu matahari, lonjakan panas tahun 2023 ini terparah.
Penyebab ketiga ialah tren pemanasan global dan perubahan iklim yaitu gelombang panas ‘heatwave’ semakin berisiko berpeluang terjadi 30 kali lebih sering. Sebab keempat adalah dominasi monsun Australia: Indonesia memasuki musim kemarau. Sementara untuk penyebab kelima yaitu adanya intensitas maksimum radiasi matahari pada kondisi cuaca cerah dan kurangnya tutupan awan juga menjadi penyebab suhu panas di Indonesia. (gas/kmf)














