Penghargaan dan Jaringan
Alhamdulillah, walaupun Uni Eropa tidak mengubah dekrit atau keputusan mereka, Presiden Austria sendiri memutuskan bahwa religious slaughtering tidak dilarang di negara itu. Ada sekitar 20,000 orang Yahudi dan 600,000 Muslim di Austria.
Berbagai kiprah Interfaith itu menjadikan majalah The New York memilih saya sebagai satu dari tujuh tokoh agama yang paling berpengaruh (NY Seven Most Influential Religious Leaders) di tahun 2006. Pemilihan sebagai salah satu dari tokoh agama paling berpengaruh di New York memberikan ruang tersendiri bagi saya untuk semakin memperluas jaringan.
Di tahun 2008 bersama beberapa tokoh agama New York kami mendirikan International Clergy Association. Melalui organisasi ini kami banyak melakukan berbagai kegiatan di forum internasional, khususnya di forum PBB.
Ketika Turki dan Spanyol mensponsori resolusi tentang “Alliance among Civilization” kami mengadakan UN conference on Peace yang bekerjasama dengan Peace Federation USA.
Setahun kemudian kami dianugerahi Ellis Island Honor Award, sebuah penghargaan tertinggi non militer yang diberikan kepada immigran yang dianggap berjasa bagi Amerika. Dasar penganugerahan itu karena keaktifan saya dalam membangun komunikasi antar agama, baik di US maupun di belahan dunia lainnya.
Mungkin dari sekian banyak inisiatif Interfaith saya di kancah internasional, ada dua hal yang paling menonjol.
Yang pertama adalah inisiasi Jewish-Muslim Dialogue di tahun 2005. Dari inisiatif ini terlahir ragam kegiatan seperti Salam-Shalom Sisterhood dan Twinning of Mosques and Synagogue. Kedua kegiatan ini telah menjadi sebuah gerakan internasional yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa, Australia, Afrika dan bahkan Timur Tengah.
Kunjungan Pimpinan agama-agama samawi ke Indonesia, Jordan dan Jerusalem, termasuk Ramallah di tahun 2011 lalu. Kegiatan ini disponsori oleh KBRI Washington bekerjasama dengan beberapa Institusi Interfaith Amerika. Kegiatan ini sebenarnya menjadi langkah awal melibatkan tokoh-tokoh agama dalam proses Perdamaian Timur Tengah. Sayang setelah kunjungan pertama itu ternyata itu juga kunjungan terakhir.
Dan banyak lagi kegiatan interfaith lainnya pada tataran global. Kerjasama dengan NY Buddhist Council mengurangi tensi yang terjadi antara Komunitas Budha dan Muslim akibat kekerasan kepada masyarakat Muslim di Myanmar. Ketika itu sempat direncanakan kunjungan tokoh-tokoh Muslim dan Buddha Amerika ke Thailand untuk kunjungan kemanusiaan.
Demikian beberapa kegiatan interfaith di Gelanggang internasional. Begitu banyak yang dilaksanakan termasuk di tahun-tahun terakhir. Tapi saya kira cukup saya menyebutkan beberapa contoh sekaligus menyebutkan “apresiasi” (penghargaan) agar dapat dipahami bahwa kegiatan ini mendapat sambutan positif.
Satu hal yang pasti adalah bahwa kegiatan Interfaith pada tatanan internasional telah memberikan kontribusi untuk mengurangi tensi antar pemeluk agama di saat ada kasus-kasus konflik yang melibatkan sentimen agama di mana saja. Dan bagi Dakwah di Amerika hal ini menjadi krusial. Karena betapa seringkali kasus kekerasan di dunia Islam berdampak besar dalam kerja-kerja Dakwah kita di US.
Lalu secara kongkrit apa saja manfaat dan hasil dari kegiatan interfaith ini? Apakah kegiatan interfaith ini dapat merusak nilai iman dan identitas keislaman umat? (Bersambung)
New York, 8 Februari 2022
* Presiden Nusantara Foundation












