Investor China Akan Masuk Madura, Surokim:  Perlu Komitmen Semua Pihak untuk Bangun Kawasan Industri yang Terintegrasi di Pulau Garam

oleh

BANGKALAN| DutaIndonesia.com – Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Trunojoyo, Madura, Surokim Abdussalam, menyambut gembira rencana relokasi industri Tiongkok di Madura. “Tentu saja ini kabar yang menggembirakan, tetapi harus benar-benar disiapkan dengan baik oleh semua pihak terkait infrastruktur maupun suprastrukturnya. Mengingat isu tentang industrialisasi di Madura itu selalu sensitif. Pemerintah khususnya pemda, harus serius membantu, memperlancar dan memastikan masyarakat lokal terlibat dan mendapatkan manfaat.

Pemahaman terhadap sosiobudaya masyarakat Madura juga penting agar tidak bertentangan dengan kearifan lokal. Intinya selain bermanfaat bagi masyarakat lokal juga bisa memberi efek langsung pada kesejahteraan masyarakat Madura. Menurut saya masih banyak tantangan untuk membangun kawasan di wilayah Madura mulai dari pemerintah, masyarakat hingga supporting daya dukung yang lain. Namun demikian semua harus memiliki keyakinan yang sama bahwa semua itu dimaksudkan untuk memberi kesejahteraan pada masyarakat lokal,” katanya, Rabu (12/8/2026).

Surokim membenarkan tidak mudah membangun kawasan industri di Madura. Sebab membutuhkan komitmen semua pihak dan harus ada jalan tengah yang realistis antara pengembangan kawasan industri dengan kepentingan budaya dan masyarakat lokal.

Sejauh yang dia pahami masyarakat Madura yang religius akan mudah jika industri itu adalah koneksi dengan syar’i-nya dan itu akan membuat pengembangan kawasan, semisal halal, itu jauh lebih mudah diterima masyarakat. Selain itu prinsip berkelanjutan dan green economy saya pikir juga penting untuk dimasukkan sehingga pengembangan kawasan ini bisa terkoneksi antarwilayah sehingga benar-benar menghasilkan wilayah pertumbuhan baru yang kompetitif

“Saya sejak lama mengusulkan kawasan industri terintegrasi di kawasan Madura agar lebih mudah dikawal dan di-menej. Tanpa konsep kawasan terintegrasi tersebut saya pikir masih terjal tantangan pengembangan industri di Madura,” katanya.

Seperti diketahui, Tiongkok berencana merelokasi sejumlah pabriknya ke Kawasan Industri Madura di Kabupaten Bangkalan. Hal itu setelah Indonesia dan Tiongkok kembali memperkuat kemitraan ekonomi melalui penandatanganan sejumlah nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Madura. Kerja sama tersebut mencakup MoU antara PT Wiraraja Madura International dan Guangzhou Zhanjiang Industrial Transfer Cooperation Park Management Committee, serta Agreement on Joining the Guangdong ASEAN Industrial Park International Cooperation Alliance dengan Wiraraja Madura Industrial Estate.

Rencana negeri Tiongkok itu juga mendapat sambutan positif dari anggota DPRD Jawa Timur asal Daerah Pemilihan (Dapil) Madura, Raden Harisandi Savari. Menurut Harisandi, investasi di kawasan industri tersebut dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi Pulau Madura. Namun syaratnya harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat lokal di Pulau Garam.

Harisandi menilai, selama ini Madura memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih menghadapi keterbatasan investasi berskala besar dan minimnya lapangan pekerjaan. Kehadiran kawasan industri diyakini mampu mendorong percepatan industrialisasi sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat.

“Ini adalah kabar baik bagi Madura. Namun yang paling penting bukan hanya berdirinya pabrik, melainkan sejauh mana investasi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jangan sampai masyarakat Madura hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri,” kata Harisandi dalam keterangannya.

Anggota DPRD Jatim asal PKS itu menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten harus memastikan perusahaan-perusahaan yang berinvestasi memprioritaskan tenaga kerja lokal. Menurutnya, komitmen tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Saya mendorong adanya komitmen yang jelas agar mayoritas tenaga kerja berasal dari Madura. Pemerintah juga perlu menggandeng SMK, perguruan tinggi, dan balai latihan kerja untuk menyiapkan SDM sesuai kebutuhan industri,” ujarnya.

Selain kesiapan tenaga kerja, Harisandi juga mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung agar kawasan industri dapat berkembang secara optimal. Mulai dari akses jalan, pelabuhan, pasokan listrik, air bersih, hingga konektivitas logistik harus menjadi perhatian pemerintah.

Menurutnya, tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, potensi investasi akan sulit berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak maksimal terhadap perekonomian daerah.

Tak hanya itu, Harisandi meminta agar setiap investasi yang masuk tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan serta memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri.

“Kita ingin industrialisasi yang inklusif. UMKM Madura harus ikut tumbuh sebagai mitra industri, bukan tersisih. Dengan begitu, efek berganda terhadap perekonomian daerah akan benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Sebagai wakil rakyat dari Dapil Madura, Harisandi memastikan DPRD Jawa Timur akan mengawal realisasi investasi tersebut agar berjalan transparan, memberikan kepastian hukum bagi investor, sekaligus memastikan manfaat ekonominya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Madura.

Ia berharap relokasi industri ke Madura tidak hanya menjadi simbol masuknya investasi baru, tetapi juga menjadi titik awal transformasi ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi pengangguran, serta memperkuat daya saing Pulau Madura sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur.

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan, Nadi Mulyadi, juga merespon kabar investor China yang akan masuk Madura. Sepengetahuannya kecenderungan investasi itu berupa Kawasan Ekonomi Khusus Madura.

“Tapi apa pun yang berkaitan dengan investasi di Madura, ukurannya berdasarkan azas manfaat, bila ada manfaatnya untuk kesejahteraan dan kenyamanan serta tidak membuka luka baru, tidak ada masalah kesenjangan sosial, tentu tidak masalah. Namun harus diselesaikan dulu soal beberapa hal, mulai dari kultur, akses, dan manfaatnya bagi warga masyarakat tadi. Kita tahu di perusahaan itu kan ada manajemen risikonya seperti apa, sehingga kita tidak bisa mengatakan setuju atau tidak soal ini, tapi harus dipelajari secara detail dulu, dampaknya ke masyaraat apa, investasinya dalam bentuk apa, harus ada kajian-kajian. Kami di Komisi II DPRD Pamekasan sudah ada perbincangan soal ini,” katanya Rabu (12/8/2026).

Dia menegaskan, siapa pun inisiatornya relokasi pabrik Tiongkok ke Madura ini perlu mengajak duduk bersama empat Pemkab yang ada di Madura. “Duduk bersama membicarakan ini. Pemetaan masing-masing wilayah bagaimana? Itu saya rasa lebih elok ketika bicara industrialisasi Madura. Tidak hanya melalui informasi di media, tapi duduk bersama, seperti apa konsepnya,” ujarnya.

Begitu pula Pemerintah Kabupaten dan DPRD Sampang berharap investasi dari negeri China tersebut tidak hanya berpusat di satu titik, tetapi benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi seluruh masyarakat Madura, termasuk Kabupaten Sampang. Wakil Bupati Sampang, H Ahmad Mahfudz menekankan pentingnya kesiapan masyarakat agar bisa mengambil manfaat dari masuknya investor asing itu.

“Saya masih belum mempelajarinya (relokasi industri Tiongkok) secara detail. Namun jika memang itu terjadi, semoga masyarakat Sampang dan Madura pada umumnya bisa siap sehingga bisa mendapatkan manfaat nyata dari hal tersebut,” kata Wabup Ahmad Mahfudz, Selasa (11/8/2026).

Ia juga berharap hal tersebut bukan hanya sekadar membangun di Madura, tapi juga bisa berdampak sehingga Madura lebih maju. Lora Mahfudz, sapaan Wabup, mendorong pemerintah daerah dan perusahaan untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal serta melibatkan UMKM Sampang dalam rantai pasok industri.
“Kami mendorong agar tenaga kerja lokal diprioritaskan dan UMKM Sampang dilibatkan dalam rantai pasok,” katanya.

Senada, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Sampang, Alan Kaisan, menilai investasi ini menjadi momentum penting untuk mendongkrak pembangunan sekaligus memperbaiki citra Madura di mata dunia usaha.

“Pada prinsipnya kami sangat bangga ketika ada informasi akan ada investasi yang akan masuk ke Madura. Selain memberikan dampak langsung terhadap roda pembangunan di Madura, juga akan membuka citra ke dunia luar bahwa Madura aman dan kondusif bagi investor yang ingin berinvestasi di Madura,” ungkapnya.

Menurut Alan, stigma negatif selama ini menjadi salah satu penghambat masuknya investasi ke Madura.

“Selama ini citra Madura di dunia industri kurang baik. Terkenal dengan premanisme dan lainnya. Mudah-mudahan rencana kerja sama industri di kawasan Madura yang akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dan Tiongkok benar-benar terwujud,” tegasnya.

Lebih lanjut, Alan menyebut, investasi ini berpotensi menekan kemiskinan dan pengangguran. Ia juga berharap dampaknya bisa masuk hingga ke Kabupaten Sampang.
“Selain akan mengurangi angka kemiskinan dan mengurangi angka pengangguran, yang pasti juga akan menjadi roda pembangunan bagi Madura. Syukur-syukur nanti bisa masuk ke Kabupaten Sampang,” jelasnya.

Alan juga menyebut adanya informasi bahwa investor Tiongkok berencana berinvestasi di sektor pelabuhan di Kawasan Kecamatan Pangarengan.
“Harapan kami, pemerintah kabupaten menyambut rencana kawasan industri yang ada di Madura dengan hangat, serta menyiapkan segala kebutuhan bagi investor yang akan berinvestasi di Kabupaten Sampang maupun Madura secara umum,” pungkasnya. (Roz/Sof)

Kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia ini dianggap langkah penting untuk memperluas investasi kedua negara sekaligus mendorong kawasan industri modern di Bangkalan, Madura, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur. Pemerintah juga berupaya memperkuat kerja sama dengan negara mitra lainnya untuk mempercepat pengembangan kawasan industri, membuka lapangan kerja, dan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Indonesia punya program Two Countries Twin Parks (TCTP) yang terus akan kita dorong. Kawasan di Madura ini kedepannya juga merupakan kawasan heavy industry Indonesia, Petrokimia (Gresik). Jadi nanti dengan adanya Kawasan Industri Bangkalan ini akan menjadi seimbang,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/8/2026).

Airlangga menilai pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Madura akan melengkapi hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok yang selama ini terus berkembang, baik melalui peningkatan investasi maupun perdagangan bilateral.

“Kemudian ini akan melengkapi kerjasama antara Indonesia dan China. Karena Indonesia dan China juga sudah punya bilateral swap arrangement (Bilateral Currency Swap Arrangement atau BCSA) yang sampai dengan US$ 50 miliar. Harapannya bisa juga trade menggunakan currency masing-masing sehingga tidak tergantung kepada currency yang lain,” jelasnya.

Melalui kerja sama tersebut, sejumlah klaster industri dari Tiongkok direncanakan akan dikembangkan di Kawasan Industri Wiraraja Madura. Klaster industri itu antaranya cokelat, matras, tekstil, benang, dan berbagai sektor manufaktur padat karya lainnya.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) sekaligus President Director Wiraraja Madura Industrial Estate, Akhmad Ma’ruf Maulana, menyebut kawasan industri ini dirancang menjadi pusat manufaktur yang mendukung sektor industri, logistik, dan energi ramah lingkungan.

Kehadiran mitra strategis dari Guangdong diharapkan mampu mempercepat masuknya investasi baru dan memperluas peluang transfer teknologi dan peningkatan kapasitas industri nasional. Wali Kota Zhanjiang Republik Rakyat Tiongkok, Li Yongyi, juga menganggap Indonesia sebagai mitra dagang penting bagi Kota Zhanjiang.

Menurutnya, kerja sama antara Guangdong (Fenyong) ASEAN Industrial Park dan Wiraraja Madura Industrial Estate diharapkan menjadi model kolaborasi konkret dalam implementasi Two Countries Twin Parks (TCTP), melalui penguatan investasi, pertukaran informasi industri, serta pengembangan kapasitas produksi kedua negara.

“Kerja sama ini tidak hanya memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok, tetapi juga menjadi langkah konkret Pemerintah dalam mendorong investasi berkualitas, mempercepat pengembangan kawasan industri baru, dan membuka lebih banyak lapangan kerja,” imbuh Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto.

Sebagai informasi, kerja sama ekonomi dan perdagangan antara Zhanjiang dan Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang tercermin dari meningkatnya nilai perdagangan dan investasi kedua belah pihak. Pada tahun 2025, nilai perdagangan antara Zhanjiang dan Indonesia mencapai 2,461 miliar yuan atau meningkat sebesar 6,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, hingga saat ini tercatat 8 perusahaan asal Zhanjiang yang telah merealisasikan investasi di Indonesia melalui 12 proyek dengan total nilai investasi mencapai USD370 juta, sementara 6 perusahaan Indonesia juga telah menanamkan modal di Zhanjiang. * Sof/Roz/gas

No More Posts Available.

No more pages to load.