JOMBANG| DutaIndonesia.com – IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Kab. Jombang 75,67, masih di bawah Kab. Mojokerto 76,69, apalagi Kota Mojokerto 81,76. Sementara IPM Nganjuk mencapai 75,24 di bawah Jombang.
” Tentu ini memprihatinkan karena Jombang terkenal kota santri dan kota pelajar. Penyebab utama Pemkab Jombang belum maksimalkan Pentahelix, yakni Kolaborasi Pemerintah, Akademisi, Sektor Usaha/Bisnis, Komunitas/Masyarakat, dan Media,” tegas Yusron Aminulloh, Pendiri IQRA Semesta dan aktivis pendidikan & sosial, Minggu (7/9/2025) dalam bincang dengan media di Rumah Peradaban MEP Jombang.
Untuk melihat kemajuan daerah, mengukur pembangunan sumber daya manusia (SDM) dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sangat penting.
“Ada 3 dimensi IPM, yakni kesehatan, pendidikan dan standart hidup layak. Saya lihat ekosistem kesehatan di Jombang sudah bagus, tinggal maksimalkan ekosistem pendidikan harus digenjot,” papar Yusron yang dikenal sebagai narasumber dalam berbagai forum.
“Mungkin Pemkab Jombang dalam setiap perencanaan pembangunan sudah melibatkan masyarakat. Tapi terlihat formalitas. Termasuk penganggaran dan alokasinya.”
Lantas langkah apa yang harus dilakukan ?
Yusron menyebut suasana dialog, ruang-ruang diskusi harus berada dimana-mana. Mengundang para pakar membahas potensi Jombang, harus masif diadakan.
“Sebagai contoh, hampir dua bulan ini, 4 kali kami coba “jahit” peradaban Jombang masa depan. Setelah di Unair, kami bergerak ke UPN, bahkan mempertemukan akademisi dari IPB, dan sejumlah guru besar, dunia usaha dan masyarakat langsung di kota Jombang,” papar Yusron yang juga CEO Saieda Greenview.
Tapi langkah itu belum cukup. Harus sebanyak mungkin diadakan dialog, diskusi dan sederetan kajian yang bicara masa depan Jombang. Bahkan Yusron mengajak tradisi diskusi, yang sudah ada di pesantren juga bisa menular ke masyarakat luas.
“Saya pernah usul dalam satu seminar literasi di Gedung DPRD Jombang, dua pekan lalu, agar Dinas Pendidikan sering adakan lomba karya tulis pelajar dengan tema “Jombang 2045″, tepat 100 tahun Indonesia. Anak akan berimajinasi liar memicu kreativitas,” ujar Wartawan Senior ini. “Demikian juga lomba lukis, dll.”
Anak-anak muda, pelajar dan mahasiswa harus melahirkan iklim dialog, diskusi, kajian. Pemerintah daerah siapkan pojok-pojok bacaan dan giat literasi jangan dianggap sepele dan diabaikan.
Yusron yang pernah lama tinggal di Yogyakarya ini menilai, IPM Kota Yogyakarta tercatat 89,10, menjadikannya kota dengan IPM tertinggi di Indonesia. Karena kota bergerak penuh dinamika, kreativitas tiada henti, diskusi hidup dimana-mana, gerakan literasi masif.
” Jombang punya potensi itu. Karena pelajar dan mahasiswa dari berbagai kota ada di pesantren dan kampus-kampus di Jombang. Tinggal bagaimana menghidupkan.”
Maka Yusron mengkritik dalam rancangan APBD untuk genjot IPM sangat minim.
” Indeks Pembangunan manusia, dianggap belum penting dibanding pembangunan fisik.” (gas)














