
Bank Memakmurkan Desa
Namun, ternyata masih banyak kades hidupnya belum sejahtera. Karena itu AKD Jatim membuat program untuk mensejahterakan warga sekaligus kadesnya. Program itu, antara lain menyangkut electronic banking system yang diharapkan bisa menjangkau seluruh desa di Jatim. Dengan program ini masyarakat desa akan melek sistem perbankan digital sehingga mereka bisa dengan mudah mengakses semua layanan bank. Termasuk fitur-fitur digitalnya.
Untuk itu, AKD Jatim menggandeng salah satu bank BUMN besar di Indonesia yang memiliki jaringan luas di Tanah Air. Para kades akan menjadi mitra bank tersebut sehingga bisa melayani warganya sendiri seperti bank melayani nasabahnya. Kades akan menjadi agen bank di desanya masing-masing.
Program ini memotong banyak hal. Mulai waktu dan biaya transportasi. Warga desa tidak perlu lagi jauh ke kota hanya untuk mengakses layanan perbankan. Sebaliknya, bank juga tidak perlu membuat kantor cabang di daerah, sebab semua rumah kades atau balai desa bisa menjadi “kantor bank”-nya.
“AKD Jatim akan membuat sejarah dalam Musda di Chandra Wilwatikta nanti. Sebab ini pertama di Indonesia. Setidaknya, untuk sementara, bila belum bisa menjangkau semua desa, semua kecamatan dulu. Tapi saya minta semua desa nanti bisa terkaver layanan bank. Karena itu, semua kades yang hadir dalam rapat ini harus sudah terdaftar untuk menjadi agen bank tersebut,” katanya disambut antusias peserta rapat. Usai rapat para kades langsung mendaftar ke panitia dengan menyerahkan KTP masing-masing.
Selain bank memakmurkan desa, AKD Jatim juga akan membangun AKDMart atau BUMDes-Mart. Hal itu dilakukan juga untuk melayani kebutuhan warga desa dengan barang-barang berkualitas yang dilakukan oleh desa sendiri. “Selain itu juga harus memasarkan produk unggulan desa setempat. Dengan BUMdes-Mart ini uang akan berputar di desa masing-masing,” katanya.
Salah seorang kades langsung merespon program BUMDes-Mart ini dengan menawarkan gedung untuk pertokoan modern di desanya tersebut. “Saya sudah siapkan gedungnya bila program ini berjalan,” katanya.
Sementara itu Haji Munawar, Pj Ketua AKD Jatim, membenarkan, tugas kades memang berat sebab harus memberikan pelayanan maksimal kepada warganya. Kades harus tahu kondisi warganya. Hal itu menuntut seorang kades selalu hadir di tengah warga, termasuk bila warga memiliki hajatan.
“Kades harus dekat dengan warganya. Menyediakan waktu untuk warga hampir 24 jam, sehingga warga puas atas pelayanan kades. Hal ini baik untuk periode berikutnya sebab pasti akan dipilih kembali oleh warga. Bila tidak, pasti warga tidak mau memilih. Waktu satu tahun dua tahun tidak cukup untuk memperbaiki hubungan dengan warga bila mereka tidak puas atas layanan kades,” katanya.
Dia juga membenarkan banyak kades hidupnya masih sederhana. “Khususnya di Madura. Karena itu saya kaget saat diberi tahu teman lain ada anggaran di desanya sampai miliaran, sementara di desa kami paling banyak Rp 100 juta atau Rp 150 juta saja. Karena itu, program AKD bersama perbankan memakmurkan desa sekaligus kadesnya ini, harus kita dukung bersama,” katanya. (gas)














