Kemenag Akui Pemeriksaan Calon Jamaah Haji Ketat, Pamekasan Biayanya Paling Murah

oleh
Dr H Mawardi Kakan Kemenag Pamekasan
Dr H Mawardi, Kepala Kantor Kemenag Pamekasan
YouTube player

PAMEKASAN| DutaIndonesia.com – Proses mengurus istitha’ah kesehatan calon jamaah haji di Pamekasan berjalan lancar. Sampai saat ini belum ada keluhan secara langsung untuk pemeriksaan kesehatan bagi jamaah haji. Karena Kemenag Pamekasan jauh-jauh hari sebelumnya sudah melakukan sosialisasi bahwa untuk persiapan pemberangkatan tahun 2024 ini harus melalui screening kesehatan yang agak ketat.

Kepala Kantor Kemenag Pamekasan, Dr HM. Mawardi, mengatakan untuk screening atau pemeriksaan kesehatan tahun ini memang agak lebih ketat dibanding tahun sebelumnya. Kalau pada tahun sebelumnya hipertensi itu diperiksa hanya sebatas periksa saja, tapi sekarang hipertensi menjadi persyaratan istithaah.

“Jadi misal hipertensi dan diabetnya terlalu tinggi itu bisa masuk kategori tidak istithaah. Kalau dulu hanya TBC yang menjadi penyebab seseorang tidak masuk istithaah, sekarang penyakit hipertensi berpotensi seperti tadi itu masuk kategori tidak istithaah,” ungkapnya kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (31/1/2024).

Dia mengakui dari beberapa jamaah hasil laporan Dinkes ada yang sampai periksa beberapa kali. Misal periksa pertama hipertensi tinggi, kemudian dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter, kemudian satu bulan atau dua minggu periksa kembali, ini sudah tidak hipertensi, atau diabetnya turun. Jamaah ini akhirnya masuk yang istithaah.

“Itu salah satu contoh yang memang agak menghambat dari proses pelunasan tahun ini. Kalau tahun lalu tidak ada proses ini,” tuturnya.

Tidak cukup di situ, menurut Mawardi, hasil screening kesehatan ini juga harus diunggah ke system Siskohatkes. Proses pengunggahan kalau lancar satu berkas itu bisa sampai membutuhkan waktu 5 menit. “Itu kalau lancar, kalau system lagi down, kadang bisa sampai 30 menit,” ujarnya.

Di Pamekasan, kata dia, saat ini jumlah jamaah haji mencapai 1.425 jamaah, kondisi ini bisa menjadi hambatan, jika kasusnya ada yang suami istithaah, istri tidak. Namun, kata dia, di Pamekasan belum ada laporan semacam itu. Hingga kini sisa 300 yang belum screening, sisanya sudah memeriksakan dan sudah dianggap istithaah.

“Hanya laporan kemarin itu ada suami istri yang hamil tua, tapi kita pastikan bisa berangkat selama proses persalinan itu tidak ada penyakit tambahan, misal habis melahirkan ada tekanan darah tinggi dan lain lain, kalau pasca kelahiran itu lancar, bisa dipastikan itu bisa berangkat,” terangnya.

“Tapi kemarin juga ada laporan ada yang hamilnya 4 bulan, itu sudah dipastikan tidak bisa berangkat karena nanti pada saat waktu berangkat dia lahir. Sudah kita berikan pemahaman kepada yang bersangkutan, alhamdulillah tidak ada masalah,” imbuhnya.

Bagaimana dengan biaya screening kesehatan? Mawardi mengatakan hal itu tergantung pada kebijakan masing-masing daerah. Hanya yang pasti dia menegaskan Pamekasan paling murah biayanya dibandingkan dengan daerah lainnya di Madura.

“Itu aturannya diatur Pemda masing-masing. Saya cek di Pamekasan termasuk paling murah. Sampang itu sampai Rp 500 ribu. Sumenep Rp 600 ribu, Pamekasan yang untuk jamaah haji perempuan cuma Rp 200 ribu, untuk jamaah laki-laki malah lebih murah lagi yakni Rp 185 ribu,” pungkasnya.

Jamaah Bingung

Seperti diberitakan sebelumnya para calon jamaah haji 2024 bingung saat melakukan aturan baru dari Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait istitha’ah kesehatan. Pasalnya, banyak calon jamaah merasa tidak pernah mengeluh soal kondisi kesehatannya tapi saat melakukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas ternyata dinyatakan belum istitha’ah kesehatan dan diminta melakukan pemeriksaan ulang di rumah sakit hingga harus pula melakukan medical check up (MCU). Dengan demikian yang bersangkutan harus menambah biaya lagi.

“Sekarang ada aturan baru, calon jamaah haji harus istitha’ah kesehatan dulu baru bisa melakukan pelunasan biaya haji atau Bipih. Ada tahapan cek kesehatan di Puskesmas, mulai ke loket pendaftaran, ke bagian haji mengurus administrasinya, lalu tes urine di lab Puskesmas. Kemudian, cek kesehatan lagi ke Lab Ultra Medica, untuk rekam jantung dan lain-lain. Setelah itu diminta sarapan lalu cek lagi di lab Puskesmas untuk tes diabet,” kata seorang calon jamaah haji saat ditemui DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (31/1/2024).

Calon jamaah haji ini melakukan cek kesehatan di Puskesmas Kota Sidoarjo, lalu diminta melakukan tes laboratorium di Ultra Medica, tapi hasilnya ternyata belum istitha’ah sebab terindikasi ada masalah pada jantungnya.

“Padahal saya tidak ada keluhan apa-apa. Saya penasaran lalu cek ke Poli Jantung di RSI Siti Hajjar pakai BPJS, hasilnya kata dokter, jantung saya juga bagus. Tapi karena tidak bisa dipakai untuk mengurus istitha’ah haji, saya tetap MCU di RSUD Sidoarjo untuk EKG Jantung dengan biaya Rp 800.000. Ini karena tidak bisa pakai BPJS untuk haji. Bila normal, biayanya hanya Rp 850 ribuan, tapi ini ditambah Rp 800.000 lagi,” katanya.

Hasil dari EKG di RSUD Sidoarjo itu, kata dokter, calon jamaah tersebut terindikasi jantung koroner. “Tapi dokter tetap menetapkan saya istitha’ah dengan pendampingan obat. Sementara suami saya belum istitha’ah dan harus menunggu dua minggu lagi untuk cek kesehatan di Lab, padahal waktu pelunasan kan mepet, hingga 12 Februari, sementara kami ini jamaah cadangan juga. Kan bingung,” katanya.

Calon jamaah kuota cadangan bingung sebab untuk mengurus istitha’ah kesehatan saja butuh waktu beberapa hari dan biayanya bisa juga mahal, tapi belum tentu bisa berangkat haji. Kenapa?

“Sebab menunggu hasil terakhir pelunasan. Jamaah cadangan ini oleh Kemenag diminta membuat surat pernyataan, bahwa yang bersangkutan sanggup melakukan pelunasan tahap 1, siap diberangkatkan sewaktu-waktu bila ada sisa kuota, dan harus pula bersedia tergabung dalam kloter mana pun yang ditentukan oleh Kemenag. Bila akhirnya tidak bisa berangkat haji, tidak menuntut, bersedia melakukan istitha’ah lagi dan menambah biaya Bipih bila ada kenaikan,” katanya.

Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016, jamaah haji disyaratkan harus memenuhi istitha’ah kesehatan. Ketentuan tersebut selaras dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler Pasal 13 ayat (2) huruf c yang berbunyi: Jamaah Haji Reguler yang berhak melunasi Bipih harus memenuhi persyaratan Kesehatan.

Calon jamaah haji 2024 yang tergabung dalam KBIHU Al Rahmah di Pungging, Kabupaten Mojokerto, juga banyak yang bingung dengan aturan baru tersebut. Selain jamaah berusia sepuh, mereka bingung saat melakukan pelunasan Bipih.

“Banyak yang tanya ke pembimbing haji di KBIH tapi masih bingung. Saya malah lebih repot, sebab ada aturan baru juga bahwa calon jamaah cadangan tidak bisa mutasi seperti dulu, sementara saya domisilinya di Sidoarjo,” kata Ummu Kamilah, jamaah Al Rahmah Mojokerto, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (31/1/2024).
Sesuai data di Kantor Kemenag Jatim, sampai 29 Januari 2024, sebanyak 455 calon jamaah belum istitha’ah kesehatan dan 27.958 sudah istitha’ah. Sedangkan sebanyak 17.167 calon jamaah sudah lunas Bipih, dan 10.791 belum melunasi Bipih.

Terkait hal itu DPW FK KBIHU Jatim memberikan imbauan kepada calon jamaah haji yang pasangannya belum istitha’ah, sedangkan dirinya sudah istitha’ah agar segera melakukan pelunasan.

“Silakan segera melakukan pelunasan, mumpung masih ada waktu pelunasan tahap pertama. Perlu diketahui bahwa jamaah yang sudah istitha’ah, sampai dengan akhir pelunasan tahap pertama tidak melakukan pelunasan maka yang bersangkutan tidak bisa melakukan pelunasan di tahap ke-2. Bagi jamaah yang pasangannya tidak istitha’ah sementara, dan harus minum obat, diet dan ihtiar lainnya agar bisa istitha’ah, dan ternyata sampai pelunasan tahap 1 ditutup, yang bersangkutan belum juga istitha’ah, maka masih ada kesempatan bagi dia pelunasan di tahap ke-2 dengan porsi jamaah reguler gagal sistem di tahap ke-1,” kata imbauan yang ditandatangani Ketua DPW FK KBIHU Jatim KH Habib Abubakar Asegaf dan Sekretaris H. Muh. Molik Latif, Rabu (31/1/2024).

Sedangkan bila sampai akhir pelunasan tahap ke-2 yang bersangkutan sudah ihtiar minum obat, diet, dan sebagainya tapi tetap tidak Istithaah, maka masih ada kesempatan berangkat tahun depan. “Dengan harapan tahun depan itu sudah istithaah,” katanya. (Mas/gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.