Nama Pahlawan Nasional KH Abdul Chalim Diusulkan Jadi Nama Bandara Jabar

oleh
Kiai Abdul Chalim Kiai Asep Gus Barra
YouTube player

BANDUNG| DutaIndonesia.com – Nama Pahlawan Nasional KH Abdul Chalim diusulkan menjadi nama Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Wacana penggantian nama bandara yang sekarang dikenal sebagai Bandara Kertajati itu sudah sampai tahap pengusulan. Penjabat Gubernur Jabar Bey Machmudin mengatakan Pemprov Jabar telah menerima usulan terkait penggantian nama bandara yang terletak di Kabupaten Majalengka itu.

Meski usulan sudah diterima, namun mesti ada tahapan berikutnya jika wacana itu ingin segera terealisasi. KH Abdul Chalim merupakan salah satu tokoh yang ikut mendirikan Nahdlatul Ulama asal Majalengka yang ditetapkan sebagai Pahlawan nasional tahun 2023.

“Baru terima usulan, kami proses nanti seperti apa. Karena kami juga harus ada surat dari DPRD segala macam. Memang usulannya sudah diterima kemarin,” kata Bey.

Bey juga mengungkapkan usulan penggantian nama tersebut muncul dari beberapa lapisan masyarakat. Dia menyebut tokoh dari Majalengka hingga keluarga KH Abdul Chalim bersuara untuk mengusulkan penggantian nama tersebut.

Meski begitu, Bey menegaskan jika usulan penggantian nama ingin terealisasi, Pemprov Jabar meminta DPRD baik di tingkat kabupaten maupun provinsi untuk mendukung wacana tersebut.

“Kemarin sih dari keluarga dan tokoh-tokoh di Majalengka pas ke sarasehan terkait tokoh nasional. Kami akan proses tapi pertama dari DPRD juga harus ada dukungan,” ujarnya.

Seperti diketahui, kH Abdul Chalim merupakan tokoh asal Majalengka yang dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional Tahun 2023. Ia merupakan tokoh kelahiran Leuwimunding, Majalengka, tahun 1898 dan merupakan putra dari pasangan Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Suntamah.

Masa kecil Kiai Chalim belajar di Sekolah Raja, sekolah umum bagi kalangan tertentu pada masa penjajahan Belanda selama dua tahun. Selanjutnya, Kiai Chalim melanjutkan pendidikan di pesantren-pesantren.

Pada 1914, ketika usianya baru menginjak enam belas tahun, KH Abdul Chalim menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu ke tanah Hijaz selama dua tahun. Di sana ia sempat menimba ilmu dari ulama-ulama masyhur.

KH Abdul Chalim juga termasuk anggota sekaligus pengurus Sarekat Islam (SI). Organisasi para ulama Nusantara yang berorientasi menentang kebijakan-kebijakan penjajahan Kolonial Hindia-Belanda di Nusantara.

Melalui SI, kebijakan-kebijakan penjajah yang tidak sesuai dengan syariat Islam dan sangat merugikan rakyat ditentang secara konstitusional. Hingga akhirnya para ulama pengurus SI menggabungkan diri ke NU.

Dalam sejarah NU saat berdirinya Komite Hijaz, Kiai Chalim menjadi komunikator kunci antara para alim ulama seluruh Jawa. Kemudian, pada tahun 1958 Kiai Chalim menjadi pelopor pembentukan Pergunu (Persatuan Guru NU). Kiai Chalim merupakan ayahanda dari Ketua Umum Pergunu sekarang, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MAg, yang juga pendirikan Ponpes Amanatul Ummah di Surabaya dan Mojokerto. (det)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.