Ia juga menambahkan ada beberapa kendala lain kenapa produksi kesemek sangat terbatas. Diketahui bahwa buah kesemek hanya dimiliki beberapa petani. Dengan satu petani hanya memiliki 1 sampai 20 pohon paling banyak dengan panen hanya bisa dilakukan pada bulan Mei – Juli.
“Sebelumnya kesemek glowing ini pernah saya kirim ke Bu Wali. Karena rasa dan tampilan yang menarik, Bu Wali kembali pesan 60 kilogram untuk dikirim ke Bu Mega dan dikenalkan sebagai ikon baru Kota Batu,” lanjut dia.
Sementara itu Kades Tulungrejo Suliono menambahkan bahwa desanya memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Mulai dari sektor pariwisata hingga pertanian. “Banyak potensi yang bisa dieksplore di Desa Tulungrejo selain sektor pariwisata. Yaitu sektor pertanian. Yang terbaru dan mampu menembus pasar luar daerah adalah kesemek glowing,” seru Suliyono.
Dengan adanya potensi tersebut, diharapnya kesemek glowing menjadi ikon buah baru asal Tulungrejo selain Apel. Sehingga mampu benar-benar mewujudkan daerah Tulungrejo sebagai daerah agrowisata.
“Dari pihak desa akan mendukung total terobosan para petani. Kami akan promosikan buah ini dalam setiap agenda seperti rapat. Apalagi buah ini juga bisa diolah kembali menjadi jenang kesemek,” paparnya.
Ia berharap dengan adanya terobosan baru yang sangat menjanjikan ini tak hanya mampu meningkatkan dan memberdayakan warganya. “Tapi juga ada pendampingan dan bantuan promosi dari semua kalangan,” katanya. (ndc)










