Momon menggunakan komposisi bahan makanan untuk membuat kesemek glowing. Cara itu ia klaim sangat efektif menghilangkan getah dan membuat buah terlihat bersinar. “Butuh waktu tujuh tahun untuk menemukan ramuan membuat kesemek glowing. Prosesnya memang direndam, tapi ada campuran bahan makanan yang tidak bisa saya jelaskan di sini,” ujar Momon.
Apa yang ia hasilkan saat ini bukan tanpa kegagalan. Sebelum akhirnya menemukan ramuan yang betul-betul pas, Momoh berulang kali menjumpai kegagalan. “Salah satunya, buahnya tidak bisa tahan lama. Dua hari saja sudah membusuk. Nah, kalau yang ini, jika di daerah dingin bisa bertahan dua minggu. Kalau daerah panas, semingguan,” kata Momon.
Buah kesemek harus memiliki getah yang harus dinetralkan. Biasanya dengan merendam kesemek ke air kapur. Diceritakan Momon, kebiasaan merendam di air kapur adalah kebiasan orang Belanda. “Saat itu, orang Belanda sedang membangun rumah dan menggunakan air kapur sebagai campuran. Ada buah kesemek yang jatuh ke situ, tidak lama kemudian diambil lalu dikonsumsi. Ternyata manis dan disukai, dari situlah berawal kebiasaan menggunakan air kapur,” terangnya.
Momon menuturkan, usaha membudidayakan tanaman kesemek sudah dilakukan keluarganya sejak lama. Untuk saat ini kesemek produksinya sudah merambah swalayan. Dengan tujuan Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar di Indonesia.
Setiap minggu dia mengaku bisa mengirim hingga dua ton. Untuk harga ia menjual mulai dari Rp 20-25 ribu perkilonya berisi 5-6 buah kategori grade A dan Rp 12-15 ribu berisi 7-9 buah untuk grade B.
“Sebenarnya kesemek memiliki potensi ke pasar luar negeri. Tapi sayang masih minim produksinya dan perlu peningkatan kualitas lagi. Dengan potensi yang ada ini kami berharap ada perhatian khusus dari Pemkot Batu untuk memberikan pendampingan agar petani asal Junggo bisa mengirim ke luar negeri seperti Singapura,” terangnya.









