SURABAYA | DutaIndonesia.com – Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz menegaskan, di antara eksistensi Nahdlatul Ulama adalah menjaga identitas bangsa dalam menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan dan kecintaan terhadap Tanah Air. Melalui Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) NU bertugas menjaga Nilai-Nilai kebudayaan, mewujudkan dan memperkuat identitas bangsa.
“Kami menyambut baik hasil Muktamar Kebudayaan dengan Maklumat Kebudayaan dari para aktivis LESBUMI NU. Ini menunjukkan tengara visi profetik NU telah dilaksanakan melalui LESBUMI dengan mengusung Kembali ke Akar,” tutur Kiai Kikin, panggilan akrabnya, saat menerima Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran untuk menyerahkan “Maklumat Kebudayaan LESBUMI Nahdlatul Ulama”, Selasa 11 Agustus 2026.
Selain Kiai Kikin, disaksikan KH Abdul Matin Djawahir (Wakil Rais Syuriah), jajaran tanfidziyah antara lain Prof Kacung Marijan, KH M Taufiq Jalil, KH Noor Sodiq Askandar (ketiganya Wakil Ketua PWNU Jatim), dan Prof Babun Suharto (Wakil Sekretaris juga Koorbid Pendidikan dan Kebudayaan PWNU Jatim).
Maklumat Kebudayaan LESBUMI merupakan manisfesto yang dihasilkan dari Muktamar Kebudayaan Indonesia diselenggarakan LESBUMI NU di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang pada 12-14 Juni 2026 lalu. Menjadi dokumen bersejarah karena dengan tema “Kembali ke Akar” di pondok pesantren yang didirikan KH Abdul Wahab Hasbullah (Bapak Pendiri dan Penggerak NU), juga menjadi lokasi Muktamar ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026 mendatang.
“Nilai-nilai dasar perjuangan Nahdlatul Ulama yang digariskan Hadlratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari melalui _Qonun Asasi Nahdlatul Ulama_ bersifat universal. Pada ujungnya ia menjadi bagian penting untuk menjaga identitas bangsa,” tutur Kiai Kikin, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Wakil Rais PWNU Jatim KH Abdul Matin Djawahir, pada kesempatan itu mengingatkan LESBUMI NU agar menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang berlatarbelakang budaya yang bermacam-macam.
“Tugas kita mengayomi mereka sekaligus menanamkan nilai keagamaan dan kesadaran spiritual seperti diajarkan para pejuang Islam dan Walisanga. Dengan begitu, kita bersama-sama menjaga keutuhan bangsa dan negara di tengah perubahan zaman,” tutur Kiai Matin, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban.
Sementara itu, Prof Kacung Marijan menyampaikan pesan agar kita memperhatikan unsur terdalam dari huruf ba’. Huruf ba’ dalam hijaiyah memberikan makna terdalam dari pelbagai sudut pandang Tauhid.
“Kita jangan terlena dengan menjaga peradaban, tata nilai sosial masyarakat. Dan yang terpenting, menjauhi sikap kebiadaban, termasuk keserakahan dalam masyarakat,” tambah Prof Kacung, yang juga Guru Besar Ilmu Sosial Universitas Airlangga Surabaya.
Kembali ke Akar, Jejak Perjuangan NU
Ketua Lembaga Seni Budaya PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran melaporkan, gagasan mendalam mengenai makna “Kembali Ke Akar” dalam Maklumat Kebudayaan LESBUMI NU.
Gagasan tersebut menjadi langkah awal untuk menghadapi tantangan zaman yang dihadapi bangsa Indonesia.
“Makna tema Kembali Ke Akar, kita menyadari tentang akar dari manusia. Akar dari manusia adalah kesadarannya sendiri. Kembali ke akar adalah kembali kepada kesadaran kita bahwa manusia itu sebagai subjek dalam kehidupan,” tuturnya.
Riadi Ngasiran, aktivis Forum Historiografi Nahdlatul Ulama, mengatakan bahwa seni bukan hanya milik para budayawan, akademisi, dan kiai, melainkan milik seluruh umat manusia.
Sebagaimana disampaikan Ketua LESBUMI PBNU KH Muhammad Jadul Maula, berdasarkan Theory of Culture, kebudayaan memiliki sekitar 600 makna yang berbeda. Namun pada intinya, kebudayaan adalah jalan untuk menghadapi problematika bangsa yang menurutnya sedang mengalami penurunan.
Menurut Riadi Ngasiran, keindahan hanyalah unsur dalam seni. Kesenian memberikan pengalaman batin manusia. Seni bukan hanya sebuah keindahan, tapi sebuah alat untuk menghadapi zaman melalui kebudayaan.
Yang terpenting dalam Kebudayaan, menghadirkan pelbagai dimensi dalam kehidupan. Dan yang ideal harus memuat tiga unsur utama.
Pertama, rasionalitas dalam pilar ilmu pengetahuan; Kedua, spiritualitas dalam pilar agama; dan Ketiga, rasa dalam seni. “Ketiganya, membutuhkan satu kesatuan tubuh untuk bergerak dan merepresentasikan ide-ide abstrak dalam realitas,” tutur Riadi Ngasiran.
Dalam Muktamar Kebudayaan Indonesia, LESBUMI NU juga menyoroti tantangan zaman modern berupa “penyakit jiwa” yang sedang menyebar luas di kehidupan kita seperti sifat korupsi serta rasa yang tidak tersalurkan ketika manusia dihadapkan dengan berbagai problematika kehidupan. (gas)













