Lebih Hidup
Kemudian, kata dia, tidak hanya untuk kolam ikan koi saja tapi juga untuk rumah dan kegiatan padepokan serta kolam ikan konsumsi di belakang. Semua jadi ikut aman terjaga. Artinya, ketersediaan listrik yang cukup bisa membuat hidup manusia dan makhluk menjadi lebih hidup.
Sapto mengakui sebagian kalangan menilai memasang panel surya sekarang masih mahal, tapi untuk jangka panjang dia menilai lebih menguntungkan. Tentu saja keuntungan itu ditambah faktor pentingnya: energi bersih.Biaya pembangunan untuk 6 panel surya, kata dia, sekitar Rp 50 juta. Daya tahan panel surya ini sampai 30 tahun.
“Dengan ketahanan panelnya yang kita beli sampai 30 tahun atau paling cepat menurut penjualnya 20 tahun asal tak pecah kejatuhan benda berat atau benda tajam. Justru akinya yang sering ganti. Rata-rata usia pemakaian 3 tahun. Biaya operasionalnya sepertinya di aki ini. Maka penggunaannya tidak dipakai maksimal, melainkan hanya 50-60 persen,” katanya.
Untuk itu, dibuat sistem Off Grid. Sehingga kalau listrik PLN mati, lampu tetap bisa menyala dengan energi surya. Kalau malam hari di atas pukul 22.00 sampai pukul 06.00 pagi, saat konsumsi rendah karena banyak yang dimatikan lampunya, baru memakai listrik PLN.
“Perpindahannya otomatis. Enam panel memang menghasilkan daya sampai 4.400 VA tapi di program maksimal sampai 3.000 VA agar baterai awet, bisa lebih lama penggunaannya. Harga aki atau baterai 4, masing-masing Rp 2 jutaan,” katanya.
Sapto membenarkan Indonesia harus segera hijrah dari era energi fosil ke energi ramah lingkungan alias EBT, di mana salah satunya energi surya. Green energy tidak bisa bergantung pada satu energy saja, melainkan harus memperbanyak penggunaan EBT.
“Saya EBT mandiri. Bila banyak EBT mandiri beban PLN akan berkurang. Sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca di atmosfer. Apalagi EBT-EBT lain juga digencarkan, pasti akan memasyarakat. Menjadi gaya hidup,” katanya.
Saat ini, banyak orang mulai menggunakan EBT. Bukan hanya untuk penerangan jalan, tapi juga untuk keperluan lain. Untuk itu Sapto menyarankan agar Pemerintah memberikan subsidi untuk panel surya ini agar harganya bisa lebih murah lagi. Lebih terjangkau banyak masyarakat.
“Agar kita tak tergantung satu energi, coal saja, misalnya,” ujar mantan wartawan Surabaya Post yang juga pendiri portal detik.com dan tirto.id ini. “Subsidi bisa berupa pengurangan pajak, PPN, misalnya,” katanya lagi.
Energi melimpah pemberian Tuhan harus maksimal dimanfaatkan untuk masyarakat. Selain untuk penerangan, juga membangkitkan ekonomi masyarakat. Hal itu juga sudah dibuktikan di Padepokan ASA saat ikan-ikan hias maupun ikan konsumsi mati karena tidak adanya listrik. Kini dengan adanya listrik yang cukup, budi daya ikan di padepokan ini pun bisa terus berlanjut.
Hal ini bisa dikembangkan untuk budi daya ikan guna dipasarkan di daerah sekitarnya. Sama dengan manusia dan tanaman, ikan dan hewan juga butuh kesinambungan energi agar hidupnya lebih hidup.











