Selain di Gaza, Palestina, Ramadhan di negeri konflik lainnya sungguh membuat pilu. Misalnya Ramadhan di Ukraina yang hingga sekarang masih dibayang-bayangi serangan dari Rusia.
Oleh Gatot Susanto
SUASANA Ramadhan di Ukraina masih dicekam perang yang belum juga berakhir. Ramadhan di Ukraina memang tidak semeriah di negeri berpenduduk mayoritas Islam, mengingat jumlah umat Muslim hanya sekitar 1–2% dari total populasi negeri ini. Mayoritas Muslim di Ukraina tinggal di Krimea dan wilayah timur negara tersebut.
“Suasana Ramadhan di sini tentu tidak selekat suasana Ramadhan di Indonesia, tapi setiap tahun memang biasanya ada acara buka puasa bersama sebagai bentuk solidaritas,” kata Pepi Aprianti Utami, diaspora asal Indonesia yang sekarang tinggal di ibukota Ukraina, Kyiv, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (13/3/2025).
Populasi muslim di Kyiv sekitar 50 ribu orang. Mereka beribadah Ramadhan di masjid besar di kota tersebut, Hingga sekarang, kata perempuan yang bekerja di stasiun radio milik pemerintah setempat ini, suasana masih mencekam. Setiap hari alarm serangan udara dari Rusia masih selalu aktif. “Kyiv sendiri masih kena serangan,” ujarnya.
Pepi membenarkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky beberapa tahun terakhir mengadakan acara buka puasa bersama yang dihadiri umat Islam di kalangan militer Ukraina, para pemimpin Majelis Masyarakat Tatar Krimea, serta perwakilan komunitas muslim dan ulama. Dia menghormati Ramadhan. Bahkan acara bukber itu menjadi tradisi tahunan. Termasuk Ramadhan tahun 2025 ini, Zelensky juga mengadakan bukber.Pepi mengirim link akun X dari sang Presiden terkait acara iftar atau bukber tersebut.
“Kami melanjutkan tradisi baru kami di Ukraina – tradisi berbuka puasa. Ini adalah tradisi penghormatan dan rasa terima kasih kami kepada komunitas Muslim Ukraina, kepada semua orang yang menjalankan ibadah Ramadhan. Tahun ini, upaya diplomatik kami, upaya mitra kami untuk mendekatkan perdamaian bertepatan dengan Ramadhan. Sebuah pertemuan yang sangat sukses terjadi antara perwakilan diplomatik Ukraina dan Amerika – dan, khususnya, di negara Muslim yang menyediakan platform untuk diskusi.”
“Dan itu bisa saja terjadi – jika tekanan dari Amerika Serikat terhadap Rusia cukup – bahwa selama Ramadhan, peluang nyata akan muncul untuk mulai mengambil langkah diplomatik yang kuat menuju perdamaian, untuk mulai mengembangkan rencana untuk benar-benar mengakhiri perang dan menjamin keamanan. Kami di Ukraina berharap bahwa upaya internasional ini akan berhasil, dan bahwa keheningan di langit, di laut, dan di garis depan akan membantu mendekatkan perdamaian. Kami berterima kasih kepada semua mitra kami yang mendukung kami,” kata Zelensky dikutip dari akunnya di X Sabtu (22/3/2025).
Hal ini karena populasi muslim di negeri ini meningkat.
Seorang muslimah muda Ukraina, Viktoria Nesterenko, seperti dikutip dari BBC News, mengatakan, sembilan tahun lalu, dia tidak tahu tentang Islam. Dia tidak mengenal seorang Muslim pun di Ukraina. Namun dalam Ramadhan beberapa tahun kemudian dia termasuk yang paling aktif beribadah di masjid besar di ibu kota Kyiv.
Sejak invasi Rusia akhir Februari 2021 lalu, dia menjadi koordinator pusat sukarelawan yang berkantor satu kompleks dengan masjid tersebut. Dia aktif membantu distribusi makanan untuk tentara dan warga sipil yang memerlukan. Dia juga merupakan direktur pusat sertifikasi halal Ukraina. Viktoria mengaku sedih dengan perang yang melanda negerinya.
“Sangat memilukan dan sedih. Saya stres karena terpikir perang. Saat Tarawih misalnya, cerita dan gambar-gambar mengerikan dari Bucha dan Irpin, terbunuhnya warga sipil dan anak-anak, tak bisa lepas dari pikiran saya,” kata Viktoria.
Ramadhan adalah bulan yang selalu dia tunggu dan dia anggap sangat spesial untuk memperbanyak ibadah. Viktoria adalah satu-satunya pemeluk Islam di keluarga besarnya.
“Yang paling berat adalah secara spiritual, bukan menahan lapar, tapi untuk merasakan atmosfer Ramadhan tanpa terpikir soal perang dan tanpa terbayang para korban,” kata Viktoria.
Soal Trump
Sementara itu, terkait kabar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berselisih dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Pepi mengaku tidak tahu alasan sikap Trump tersebut.
“Saya tidak tahu kenapa, sepertinya banyak yang gak tahu juga. Bahkan di congress US sendiri yang Republican banyak yang protes mengecam sikap Presiden Trump ke Presiden Zelensky. Saya pikir mungkin itu bagian dari peace-deal US dan Rusia waktu di Saudi Arabia. Ga tau ya,” kata Pepi.
Menurut dia, respon warga Ukraina soal kebijakan Trump semua negatif. Mulai dari memaksa harus menyelenggarakan pemilu, terus tawaran perjanjian cadangan mineral di mana Amerika awalnya minta 500 billion USD terus 350 billion USD turun lagi jadi 150 billion USD sebagai syarat peace deal. Selain itu, juga komentar dari Trump tentang Zelensky yang tidak benar seperti bilang rating Zelensky di Ukraina cuma 4% padahal 54% dan sekarang malah jadi naik lagi.
“Jadi rakyat Ukraina sampai saat ini mayoritas masih mendukung Presiden Zelensky,” ujarnya. Meski demikian, dia bersyukur situasinya sekarang cukup stabil. Industry militer berkembang pesat, militernya masih kuat menahan serangan Rusia dan support dari negara-negara sahabat pun masih mengalir.
“Ukraina sudah siap dengan peace negosiasi dengan Rusia. Pemerintah Ukraina juga memperkirakan kalau perang akan berakhir tahun ini. Harapan sesungguhnya warga di sini agar perang segera selesai dan Ukraina punya security guarantee yang kuat agar Rusia tidak akan pernah kepikiran lagi akan menginvasi Ukraina di masa datang. Baik itu jadi anggota NATO atau jadi negara yang punya pertahanan militer yang kuat sendiri,” katanya. (*)










