Para Penyaji Seni Kaum Santri
Lesbumi PCNU Sumenep menyajikan Musik Kontermporer berjudul “Denyut Shalawat”. Berpijak dari gagasan, dalam gelap, ketika telinga hanya mungkin mendengar. bunyi adalah detak semesta yang paling jujur. Dan musik adalah bahasa paling gelap dari rindu dan cinta seorang hamba. pertaruhan dan pertarungan juga permenungan hidup akan yang terdalam.
“Letupan cinta dan rindu duka lara, memenuhi hati dan jiwa, dinginnya manifestasi riak dzikir air yang mengalir dan bergolak lembut. Dan perlahan kita berdiri di puncak ektase; terjatuh atau hancur dalam klimak keilahian.”
“Musik akan terus menggema, pukulan-pukulan air yang mengaliri setiap relung dan berhenti, diam. Hanya jiwa yang terus menari, merangkul setiap bunyi. menjadi detak-detak semesta. Melayang menembus menuju kepada yang tak berbentuk dan tak teraba.” Demikian karya bareng dimotori Homaidy bersama 9 orang pendukungnya.
Selanjutnya Lesbumi Pamekasan menghadirkan Pembacaan Puisi, bersama penyair Royyan Julian.
Lesbumi NU Sampang, menampilkan musik Daol Combo. Didukung kurang lebih 10 orang pemain dengan alat musik tradisional ditambah pianika dan vokalis, yang dimotori Haji Daiman.
Sebagai tuan rumah, Lesbumi NU Bangkalan menampilkan “Tandheng Sandor”, khas seni pertunjukan yang sedang dibangkitkan kembali di Bangkalan. Sedianya, aktivis budaya Bumi kelahiran guru para pendiri NU Syaikhona Muhammad Kholil ini, menampilkan Samman dan Hadrah Bangkalan, namun karena perubahan jadwal penyelenggaraan para pendukungnya mengubah sajian yang berbeda.
Lesbumi NU Pacitan, bersama Sanggar Jubah atawa Rabban, menghadirkan komposisi “Kun Ata” versi gamelan, yang dimotori Tahrirudin.
Lesbumi NU Bojonegoro, menampilkan Akustik Syi’ir Jawa. Melagukan Syi’ir-syi’ir Jawa dengan iringan biola dan gitar. Syi’ir-syi’ir tersebut tidak diketahui siapa penciptanya, namun sangat akrab di telinga umat Islam dan masyarakat Jawa. Syi’ir-syi’iran tersebut biasa dilantunkan muadzin setelah adzan khususnya adzan Subuh. Didukung 5 personel, dipandegani Fauzi Zamzam.
Lesbumi NU Situbondo, lazimnya kaum santri, menampilkan Hadrah Banjari Situbondoan. Kolaborasi Hadrah dan musikal khas Situbondo Pesisiran , didukung 15 personel, dipimpin Agus Rajana yang juga Ketua Lesbumi NU Situbondo.
Lesbumi Bangil, dengan Syi’iran/Sholawat Gebluk. Menampilkan Pembacaan Syi’ir yang berisikan kitab-kitab kuning sebagai media dakwah pada masanya. Didukung 10-15 personel, dipimpin Muchamad Najib. (nas)














