Peran Santri dalam Membangun Negeri

oleh
Imam Amrusi Jailani
Imam Amrusi Jailani

Oleh Imam Amrozi Jailani
(Dosen UIN Madura)

10 TAHUN yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Oktober 2015, bertempat di Masjid Istiqlal Jakarta, ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden RI kala itu, Joko Widodo. Dengan demikian sekarang kita memperingati Hari Santri Nasional ke- 10.

Hari santri sangat tepat untuk dijadikan momentum kebangkitan kaum santri. Perjalanan kaum santri mengalami fluktuatif, terkadang jaya, terkadang terpuruk dan terkadang biasa-biasa saja. Kaum santri merupakan kaum terpelajar di republik ini, bahkan sebelum terbentuknya negara Indonesia. Kaum santri sudah jauh lebih dulu ada ketimbang adanya negara Republik Indonesia ini. Kaum santri sudah memainkan peran strategis dalam pencerahan rakyat dan bangsa Indonesia.

Sejak abad ke-17 kalangan santri yang dimotori oleh para kiai dan ulama memainkan peranannya dalam memajukan bangsa Indonesia. Mereka adalah kaum terpelajar, sekalipun terkadang mereka dipandang sebelah mata karena mereka merupakan kalangan bersarung. Akan tetapi mereka bisa menunjukkan bahwa sarung bukanlah simbol keterbelakangan, bahkan dengan sarung itulah para tokoh bangsa sebelum kemerdekaan bisa mengantarkan bangsa ini menjadi negara yang berdaulat.

Dari aspek pendidikan, pesantren telah lebih dahulu memainkan peran dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menggembleng para santri dalam kawah candradimuka pondok pesantren. Di sanalah mereka dilatih dan dibekali kemampuan untuk senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah dan memerankan sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan di tengah-tengah masyarakat.

Malah dengan kemampuan yang dimiliki oleh kalangan santri seringkali mereka dicurigai oleh kalangan penjajah sebagai penghambat kolonisasi di tanah air Indonesia. Dalam pandangan kaum santri, penjajahan merupakan sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sehingga penjajahan harus dibasmi dan diusir dari Indonesia. Oleh karena itu, tidak jarang mereka mendapatkan intimidasi dan serangan dari kolonial Belanda yang berusaha mempertahankan koloninya di tanah air kita.

Kaum santri merupakan kaum terpelajar yang pantang menyerah dan harus melawan kalau ada kedzaliman. Mereka terus menggemakan semangat kemerdekaan bagi bangsanya. Dengan semangat itulah, bangsa Indonesia akhirnya mencapai kemerdekaannya, dan berhasil mendirikan negara Indonesia yang berdaulat.

Di masa kemerdekaan, mereka saling memperkokoh dan bahu membahu berkolaborasi dengan pemerintah Republik Indonesia untuk memajukan bangsa. Hadratus Syeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah memfatwakan resolusi jihad. Para santri beserta kiai-kiai yang lain menularkan semangat jihad kepada pemimpin-pemimpin dan rakyat Indonesia untuk membebaskan rakyatnya dari penjajahan. Dengan semangat jihad itulah rakyat Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaan.

Kiai Ahmad Dahlan telah lebih dahulu memberikan warna kepada rakyat Indonesia melalui aspek pendidikan. Dalam pemikirannya, Indonesia hanya bisa maju jika aspek pendidikannya maju. Maka Beliau dengan organisasi Muhammadiyah selalu mengembangkan pendidikan melalui lembaga-lembaga yang didirikannya.

KH Wahid Hasyim yang merupakan putra dari Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari berhasil melanjutkan perjuangan dan cita-cita ayahandanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Beliau pun dipercaya untuk menjadi bagian dari pemerintah Indonesia dengan diangkat menjadi menteri agama dalam kabinet yang disusun oleh Presiden Soekarno.

Tidak hanya sampai di situ, kontribusi kaum santri dalam memajukan negeri ini. Dalam masa-masa keemasannya, malah kaum santri bisa tampil sebagai presiden Republik Indonesia, yakni Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid. Dari unsur kaum santri lain pada periode berikutnya muncul pula KH Ma’ruf Amin yang berhasil tampil sebagai wakil presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Joko Widodo. Itulah kontribusi nyata kaum santri di negeri ini yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Kaum santri harus bisa membuktikan bahwa diri mereka layak untuk diperhitungkan serta tidak patut untuk dipandang sebelah mata oleh siapa pun di negeri ini, karena kontribusi mereka begitu nyata dan banyak buktinya dalam memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Akhir-akhir ini kaum santri dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan, karena mereka tidak memahami dan tidak mengerti tentang eksistensi kaum santri di bumi pertiwi, bahwa bumi Pertiwi Indonesia ini tetap ada hingga sekarang itu juga karena perjuangan kaum santri.

Kalangan santri sering dilecehkan dan dianggap sebagai kalangan terbelakang, tidak berpendidikan dan menempati area kumuh dan lain sebagainya. Kaum santri harus segera berbenah untuk menunjukkan ke mata dunia bahwa diri mereka memiliki power yang bisa diandalkan.

Peringatan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2025 ini, marilah kita jadikan sebagai momentum kebangkitan kaum santri, agar dunia bisa membuka mata, sehingga melek tentang kontribusi kaum santri yang sebenarnya di tanah air ini.

Bukankah para pendahulu kaum santri sudah banyak yang menjadi tokoh bangsa, seperti Gus Dur, Nurcholish Majid dan lain sebagainya. Itulah bukti nyata dari kalangan santri berhasil menjadi tokoh bahkan guru bangsa. Maka sudah saatnya kini kaum santri mengikuti jejak langkah mereka berkontribusi aktif dan positif dalam kemajuan bangsa, sehingga kalangan santri tetap dihormati dan selalu ada dalam setiap hati warga ibu pertiwi. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.