Hadirnya Allah dalam hidup kita, baik pada tataran individu maupun kolektif, melahirkan kekuatan dan energi kehidupan yang maha dahsyat. Manusia lemah dengan dirinya. Tapi menjadi kuat dengan Sang Pencipta, Allah SWT. Dunia dengan segala tantangan dan godaannya menjadi ringan, bahkan kecil ketika “azhomatullah” (keagungan Allah) telah hadir dalam hidup manusia.
Sungguh “ma’iyatullah” (kebersamaan dengan Allah) adalah sebuah pegangan yang tak akan goyah. Pegangan yang dalam istilah Al-Quran disebut “العروة الوثقي” (pegangan yang kokoh).
Pegangan inilah yang menjadikan manusia stabil dalam hidupnya. Apapun warna dan bagaimanapun pergerakan hidup yang terjadi tidak akan menjadikannya goyah dan rapuh.
“فمن يكفر بالطاغوت ويومن بالله فقداستمسك بالعروة الوثقي لاانفصام لها”
Kebesaran Allah dalam dada RasulNya inilah yang menjadikannya tenang menghadapi tantangan, bahkan di saat-saat upaya asasinasi oleh musuh-musuh sekalipun. Peristiwa menegangkan itu tergoreskan dan menjadi bagian dari Kalam Allah:
اذ هما في الغار اذ يقول لصاحبه لاتحزن ان الله معنا فانزل الله سكينته عليه وايده بجنود لن تروها
“Ingatlah, ketika keduanya berada dalam gua itu, ketika dia berkata kepada sahabatnya: jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan kedamaian kepadanya dan menguatkannya dengan bala tentara yang belum pernah kalian saksikan”.













