Meneladani Ibrahim AS dalam Pengabdian dan Kepemimpinan**

oleh
Imam Shamsi Ali

Oleh Imam Shamsi Ali 

(Presiden Nusantara Foundation, USA)


Kebesaran Allah dan Kehidupan


SAYA memulai tulisan ini dengan mengajak kita semua menundukkan wajah kita yang mulia, merendahkan jiwa kita yang hanif, merenungkan “azhomatullah” (keagungan Allah) seraya mensyukuri segala nikmatNya yang tiada batas yang dikarunikan kepada kita semua. 

Kebesaran Ilahi yang kita kumandangkan dengan alunan “takbir, tahmid, dan tahlil” adalah ekspresi iman, sekaligus bentuk komitmen kita untuk menjadikan Allah “Jalla Jalaaluh” sebagai “rujukan kehidupan” kita. 

Bahwa dalam hidup ini semuanya bermuara dari SATU sumber, Allahus Shomad. Kita ada, kita berada atau tidak berada, kita kuat atau lemah, menguasai atau dikuasai, bahkan kita hidup dan pasti suatu saat nanti kita mati, semuanya karena Allah SWT. 

Esensi falsafah hidup yang seperti inilah yang tersimpulkan dalam pengakuan iman kita: “لا اله الا الله”. Bahwa tiada yang punya hak kekuasaan, keagungan, penyembahan dan pujian kecuali Allah, Tuhan Pemilik langit dan bumi. 

Inilah ikrar awal jamaah haji ketika memulai niat manasiknya: 

لبيك اللهم لبيك لا شريك لك ان الحمد والنعمة لك والملك لإشراك لك

“Kami datang ya Tuhan memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu. Sesungguhnya seluruh pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milikMu. Tiada sekutu bagiMu”. 

Ini pulalah yang menjadi falsafah hidup sejati seorang Mukmin:

 انا لله وانااليه راجعون

Bahwasannya kita, dan segala yang ada pada kita; anak isteri, harta benda, kekuasaan dan kehormatan duniawi kita, semuanya adalah milik Allah yang menjadi titipan sementara kepada kita dan pada akhirnya juga akan kembali kepadaNya. 

No More Posts Available.

No more pages to load.