Logika dan skill komunikasi dalam dakwah
Ada sebuah catatan menarik yang terjadi ketika terjadi dialog antara sang raja dan Ibrahim sebelum eksekusi itu terjadi: “Kamukah yang merusak tuhan-tuhan kami Wahai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Tapi patung besar itulah sendiri yang melakukannya. Tanyakan kepadanya jika mereka mampu berbicara”.
Sang raja menjawab: “Engkau tahu kalau mereka itu tidak berbicara”.
Yang segera direspon oleh Ibrahim dengan kecerdikan dan logika: “lalu wajarkah kalian menyembah mereka selain Allah? Sedangkan mereka tidak memberi manfaat apa-apa?”.
Pelajaran terpenting dari petikan dialog antara Ibrahim dan raja itu adalah bahwa seorang Muslim, apalagi para ulama dan da’i harus memiliki ketajaman logika, sekaligus kapabilitas dalam mengkomunikasikan kebenaran.
Kelemahan logika dan ketidak mampuan mengkomunikasikan kebeneran melahirkan da’i-da’i yang kerap bermain dogma, mudah menyalahkan, bahkan mengkafirkan. Yang lebih berbahaya lagi ketika para da’i melakukan dakwah dengan metode “bolduzer”. Menghancurkan segala harapan hidayah atas nama dakwah. Bahkan lebih berbahaya meruntuhkan keindahan wajah Islam itu sendiri.











