Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*
DI pagi yang cerah dan syahdu ini, marilah kita menundukkan wajah dan hati kepada Allah SWT. Kita meneladani kerendahan hati Nabi Ibrahim AS yang, usai meninggikan fondasi Ka’bah—salah satu amal termulia yang pernah dilakukan manusia—tetap memohon dengan tawadhu: “Ya Rabb kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Pada pagi yang mulia ini, kita saling mendoakan: semoga seluruh rangkaian ibadah dan pengorbanan kita diterima Allah SWT. Kita juga berdoa untuk saudara-saudara yang sedang berhaji, semoga dimudahkan perjalanannya dan dikaruniai haji mabrur.
Namun yang tak kalah penting: saat kita menyembelih hewan kurban, ingatlah bahwa saudara-saudara kita di berbagai penjuru dunia, khususnya di Gaza dan Palestina, justru sedang dikorbankan oleh kejahatan penjajah Zionis. Mari kita doakan mereka: semoga dikuatkan menghadapi ujian ini, dan semoga Allah menganugerahkan hak-hak dasar mereka—kemerdekaan dan keadilan.
Dunia yang Sarat Konflik
Dunia kita sedang tidak baik-baik saja. Ia dipenuhi konflik, kekerasan, perang, pembunuhan, perusakan, pembersihan etnis, dan genosida. Di Gaza dan Palestina, pembantaian serta perampasan rumah dan harta warga terus terjadi. Dunia seakan telah terbiasa menyaksikannya, tanpa lagi memiliki kepekaan dan kepedulian.
Di rumah kita sendiri, Amerika, retorika politik kian meninggi dan memicu naiknya Islamofobia. Beberapa hari lalu, tiga warga Muslim di San Diego gugur sebagai syuhada akibat sentimen itu. Fenomena ini berpotensi terus meningkat seiring memanasnya suhu politik menjelang pemilu sela November mendatang.
Kekerasan dan perusakan ini mengingatkan kita pada peristiwa penciptaan manusia pertama. Saat Allah menyampaikan rencana-Nya, para malaikat yang biasanya taat tanpa bertanya justru berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?” Allah Yang Maha Bijak menjawab: “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”
Dialog itu menegaskan satu hal: manusia memiliki karakter paradoksal. Dalam sejarahnya, manusia membangun peradaban, tetapi juga menghancurkannya. Manusia memakmurkan bumi, namun juga merusaknya.
Itulah sisi gelap manusia di balik potensi positifnya yang besar: merusak dan menumpahkan darah. Realitas pahit ini kita saksikan hari ini. Puluhan ribu anak-anak, perempuan, lansia, dan warga sipil tak berdosa dibantai. Rumah, toko, sumber penghidupan, rumah sakit, sekolah, bahkan rumah ibadah dihancurkan dengan senjata yang mereka ciptakan sendiri.
Lebih buruk lagi, kejahatan itu kerap dibungkus dengan label indah. Agresi ke negara lain dinamai “menyebarkan demokrasi”, “menjaga kebebasan”, atau “membela HAM”. Al-Qur’an menyebut perilaku ini sebagai kemunafikan, sebagaimana digambarkan dalam Al-Baqarah: 11-12.
Sering kali mereka melakukan kejahatan tanpa sadar (laa yasy’uruun), mungkin karena mabuk ambisi dan rakus, atau menjadi korban ambisi pihak lain. Lihatlah politisi yang tersandera lobi politik kuat: mereka melakukan apa saja demi memenuhi kepentingan lobi, tanpa pertimbangan rasional dan nurani.
Namun kejahatan tertinggi adalah ketika mereka sadar sepenuhnya. Mereka tahu serangan dan perusakan yang dilakukan justru merugikan bangsanya sendiri dan dunia. Inilah yang kita lihat hari ini. Agresi Amerika ke negara lain, atau dukungannya terhadap kekerasan dan genosida di Palestina, berdampak buruk: harga-harga melambung, rakyat terhimpit, dan Amerika kian dijauhi, bahkan oleh sekutu dekatnya.
Tiga Penyebab Utama
Kesadaran akan dampak buruk itu, namun tetap melakukannya, menunjukkan mereka mengalami problem kronis. Ada tiga penyebab utamanya:
Satu: Rusaknya Esensi Kemanusiaan.
Fitrah manusia—dasar kemanusiaan dalam agama—telah terkontaminasi. Nabi Ibrahim dikenal dengan kefitrahan dan membawa agama yang hanif: “haniifan musliman”.
Ketika fitrah rusak, manusia tetap manusia secara fisik, tetapi pikiran dan emosinya tidak lagi insani. Perilakunya justru hewani, bahkan lebih buruk, sebagaimana Al-Qur’an menyebut: “Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.”
Inilah akar mengapa manusia terus menumpahkan darah. Solusinya: kembali kepada agama fitrah, kembali menjadi haniif seperti Ibrahim AS.
Dua: Hilangnya Kendali atas Hawa Nafsu
Ketika manusia gagal mengendalikan hawa nafsu, nafsu itu berbalik mengendalikannya. Ia menjadi buta hati dan akal. Tindakannya bukan lagi karena kebutuhan, melainkan keinginan tak berbatas.
Akibatnya lahirlah tughyaan—pelampauan batas yang merusak. Al-Qur’an menggambarkannya dalam An-Nazi’at: 37–39, lalu memberi solusi pada ayat 40–41: hanya dengan takut kepada kebesaran Allah, manusia mampu mengendalikan nafsu dan menjaga batas. Hanya dengan itu al-jannah—ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan hidup—dapat terwujud.
Amerika, misalnya, telah menguasai lebih dari 26% PDB dunia.
Namun kerakusan dan arogansi membuatnya terus menambah kekayaan dengan cara yang melanggar nilai yang dijunjungnya sendiri. Peperangan yang melibatkannya tak lepas dari dominasi hawa nafsu tanpa batas.
Tiga: Krisis Kepemimpinan
Dunia memiliki banyak raja, presiden, dan perdana menteri, tetapi sedikit yang berjiwa pemimpin. Mereka punya kekuasaan, namun minim leadership. Urgensi kepemimpinan inilah yang membuat Allah, setelah serangkaian ujian berat, mengangkat Ibrahim menjadi pemimpin global: “imaaman linnaas”.
Zamannya membutuhkan pemimpin yang berwawasan, berkarakter, berkapasitas, dan berhati.
Penguasa kuat tanpa integritas dan kasih sayang akan cenderung sewenang-wenang. Islam mengajarkan kepemimpinan harus berdiri di atas tiga pilar: ilmu, karakter, dan hati. Dengan ketiganya, penguasa akan mengedepankan kepentingan rakyat secara adil.
Ibrahim hadir dengan kepemimpinan yang kokoh di atas iman dan ketakwaan: “imaaman lil-muttaqiin”. Meski pengikutnya sedikit, ia diangkat sebagai imam bagi seluruh manusia.
Respon Umat terhadap Kejahatan Kemanusiaan
Di tengah dunia yang kacau, umat Islam diharapkan hadir membawa solusi. Umat ini seharusnya menjadi khaira ummah dan ummatan wasathan—umat terbaik dan penengah—yang memimpin di garda depan perbaikan dunia. Minimal ada tiga langkah:
Satu: Kembali ke Fondasi
Umat kini goyah karena tercerabut dari akarnya, terombang-ambing bagai buih di lautan. Fondasi itu adalah iman dan akidah. Keimanan kepada Allah dan ketakwaan adalah pijakan kuat untuk bangkit dan mengemban tugas perbaikan peradaban.
Itulah teladan Ibrahim: ia menghadapi ujian maha dahsyat—pencarian kebenaran, pengusiran oleh ayahnya, tekanan masyarakat, hingga ujian kekuasaan—bukan dengan lari dari Tuhan, melainkan mendekat kepada-Nya. Akhirnya semua berlalu dengan manis.
Dua: Merajut Kebersamaan dan Persatuan
Perpecahan adalah faktor utama kegagalan umat membela yang terzalimi, terutama di Palestina. Akibatnya umat mengalami fasyal dan tadzhabu riihukum (kekuatannya sirna).
Bersatu bukan berarti seragam. “Unity is not uniformity.”
Umat ini beragam bangsa, ras, etnis, hingga pemahaman keagamaan. Namun semua menyembah Tuhan yang sama, mengikuti nabi yang sama, berkitab suci sama, dan berkiblat sama. Maka tak ada alasan untuk tidak bersatu.
Di sinilah Ibrahim hadir sebagai sosok umat yang satu: “kaana ummatan qaanita”. Seperti pula umat Muhammad: “Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu.”[gagal]
Penutup
Pada akhirnya, umat yang menjadi korban berbagai konflik dunia harus sadar dan bangkit membawa perubahan. Semua itu hanya mungkin bila umat memulai self-transformation dengan self-correction. Al-Qur’an mengingatkan: “Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
Hentikan slogan kosong atas nama agama. Sadarlah! (*)
New York, 28 Mei 2026
(Rangkuman Khutbah Idul Adha di Kota New York, 27 Mei 2026).














