Menguji Tudingan Politik Identitas Anies Baswedan

oleh
Masdawi Dahlan

Oleh Masdawi Dahlan*

TUDUHAN politik identitas masih terus dialamatkan pada Anies Rasyid Baswedan. Gubernur DKI Jakarta yang dipilih Partai Nasdem menjadi calon presiden pada pemilu tahun 2024 mendatang itu, kini masih terus saja dituding sebagai figur yang mengusung politik identitas. 

Politik identitas adalah sebuah gerakan politik dari satu kelompok atau komunitas tertentu seperti etnis, suku, budaya, atau agama yang bertujuan untuk memperjuangkan aspirasi, menunjukkan jati diri atau sebagai alat untuk melakukan perlawanan politik jika ada ketidakadilan atau penyimpangan dalam demokrasi. 

Dalam perspektif ini politik identitas sebenarnya hal yang lumrah, selama kepentingan yang diperjuangkan dilakukan dengan menggunakan saluran atau mekanisme peraturan perundang undangan yang berlaku dalam demokrasi. Justru sebenarnya politik identitas itu adalah watak atau elemen dasar demokrasi. Karena itu mempersoalkannya merupakan sikap pihak yang tidak faham dengan esensi demokrasi. 

Pengamat politik Rocky Gerung mengatakan politik identitas adalah fakta antropologis yang masuk dalam ranah politik. Seharusnya hal itu difahami secara akademis, bukan secara politik  sentimental yang irrasional. Menurut dia dipastikan semua pihak yang tergabung dalam partai politik itu pasti mengusung identitas atau politik identitas mereka masing masing.

Rupanya Rocky Gerung melihat pihak yang mempersoalkan politik identitas bagi Anies Baswedan itu karena Anies sebagai muslim. Mempersoalkan Anies dari isu politik identitas  karena dia sebagai muslim, kata Rocky Gerung,   adalah pikiran yang salah, tidak menemukan bukti pembenarannya secara politik, karena fakta umat Islam di Indonesia memang mayoritas. Dan hal ini tidak bisa dipersoalkan.

Tuduhan sebagai figur yang memanfaatkan politik identitas bagi Anies Baswedan muncul semenjak dia memenangkan Pilkada DKI Jakarta melawan Ahok pada tahun 2017 lalu. Saat itu Anies Baswedan memenangkan Pilkada mengalahkan Ahok incumbent yang didukung banyak partai dan kekuatan pendanaan yang besar.

Sekalipun Anies Baswedan telah menunjukkan  kinerjanya memimpin Jakarta dengan hati dan penuh kedamaian merangkul semua ras, suku dan agama di Jakarta, yang didukung oleh berbagai prestasi tingkat nasional hingga internasional,  namun dia masih saja dipandang sebelah mata oleh pihak yang tidak menyukainya.

Pada saat dia ditetapkan sebagai calon presiden oleh Partai Nasdem, lagi lagi nyanyian politik identitas disenandungkan oleh para pembenci Anies Baswedan. Bahkan tuduhan itu makin gencar makin keras dan makin liar. Di internal Partai Nasdem sendiri dikabarkan ada kader yang mengundurkan diri karena tidak setuju mengusung Anies yang dinilainya mengusung politik identitas.

Meski demikian, sebagaimana diakui oleh pengurus teras Partai Nasdem, sekalipun ada kader yang mundur, namun pada saat yang bersamaan ribuan hingga puluhan ribu kader baru muncul masuk menjadi anggota Nasdem.  Mereka adalah  para pendukung Anies yang berasal dari kalangan yang tidak berpartai yang tertarik atau simpati pada Partai Nasdem mencalonkan Anies Baswedan.

Terlepas dari perdebatan secara teoritis tentang politik identitas, pertanyaannya benarkah tuduhan Anies selama ini mengusung kepentingan politik  identitas? Apa buktinya? Tidaklah terlihat secara nyata, bagaimana Anies memimpin Jakarta yang  sangat plural, namun dia berhasil mendapat simpati semua elemen masyarakat Jakarta?

Semua penganut dan tokoh agama di Jakarta menunjukkan keakraban kemesraan dengan Anies Baswedan. Di berbagai kesempatan bertemu dengan komunitas non muslim, Anies selalu dieluelukan dengan penuh kehangatan dan ketulusan dari para pemuka agama.  

Para pemimpin agama non Islam di Jakarta tanpak akrab, simpatik dan tulus berhubungan dan berkomunikasi dengan Anies Baswedan. Ini terlihat berkali kali ketika Anies Baswedan meresmikan tempat peribadatan non Islam di Jakarta. Bahkan ada pengakuan jujur dari seorang tokoh agama non Islam yang mengatakan selama kepemimpinan Anies Baswedan ada sekitar 50 tempat peribadatan baru non Islam yang tuntas terbangun. Padahal sebelumnya selalu mengalami kendala.

Seorang tokoh agama Hindu di Jakarta mengatakan kekagumannya dan memuji Anies Baswedan sebagai pemimpin yang mulia, karena puluhan tahun kelompoknya tidak pernah dikunjungi oleh Gubernur.  Baru pada kepemimpinan Anies Baswedan tokoh agama Hindu itu mengaku mendapat kunjungan Anies Baswedan, bahkan kunjungannya hingga mencapai empat  kali selama lima tahun Anies Baswedan memimpin Jakarta. 

Terbaru, ketika tudingan negatif menggunakan isu politik identitas makin diintensifkan kepadanya, Anies justru tidak takut, malah dia diberitakan beberapa hari lalu hadir memenuhi undangan  pernikahan putri Habib Rizieq Shihab (HRS), seorang tokoh yang oleh pembenci Anies disebut dedengkotnya politik identitas. Anies tidak takut dirinya makin disudutkan.

Rocky Gerung melihat hadirnya Anies ke kediaman HRS adalah bukti isu politik identitas tidak mempengaruhi sikap dan pikiran Anies Baswedan. Anies  sadar bahwa itu isu murahan yang dilakukan oleh yang tidak faham demokrasi. Kalau diladeni akan membahayakan  demokrasi di Indonesia.

Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA., Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh mengungkapkan ketika banyak musuh yang ingin mempersepsikan Anies sebagai individu yang berbahaya bagi negara Pancasila, yang terjadi justru, Anies tampil sebagai sosok muslim modernis yang taat dan mengerti agama dengan baik, dan sekaligus juga sangat menghargai pemeluk agama lain dengan sepenuh hati.

Keikhlasan Anies, kata Prof Humam,  dalam menjalankan tugas sebagai bapak masyarakat Jakarta terhadap berbagai pemeluk agama dengan simpatik terbukti dengan apresiasi yang diberikan oleh banyak pemuka berbagai agama. Romo Ignatius Sandyawan Sumardi, seorang mantan pendeta Jesuit Katholik yang juga aktivis sosial adalah satu di antaranya. Romo Sandy, bersama teman baiknya Jaya Suprana yang juga Nasrani justeru memuji Anies, sebuah pujian yang sangat langka dari seorang aktivis dan tokoh Nasrani. 

Mungkinkah Anies dengan berbagai kebaikan,  prestasinya dan pengakuan tokoh agama non Islam, justru seorang fundamentalis yang membawa politik identitas ? Pengakuan Romo Sandy terhadap kinerja Anies dan berbagai bukti lain, sekaligus juga membalikkan tuduhan Anies sebagai individu berbahaya bagi Republik ini.

Keunikan Anies adalah pada kedewasaannya dalam berpolitik. Penampilan politiknya sangat sopan, tidak pernah kasar, bahkan kepada pihak yang paling kasar sekalipun terhadap dirinya. Anies dinilai sangat jarang emosi, apalagi marah ketika berhadapan dengan tantangan, tuduhan, apalagi ancaman. Ia tidak pernah menggonggong apalagi menggigit lawannya.

Ia tampil sebagai pemimpin pemerintah ibu kota Republik, yang sarat dengan nuansa akademik teknokratis abad modern.  Dalam beberapa event pertemuan pemerintah kota pada tingkat global, ia mampu menjelaskan dengan sangat runtut tentang isu-isu perkotaan global, terutama kota-kota negara berkembang seperti Jakarta.

Anies bisa menguraikan dengan wawasan yang sempurna tentang kependudukan, sanitasi, pembangunan kawasan kumuh, air minum, perumahan, kesehatan, pengangguran, transportasi, dan degradasi lingkungan.

Anies bahkan dengan sangat cerdas mampu menghubungkan tali-temali semua persoalan itu dengan isu pemanasan global yang kritis dalam menyongsong masa depan kota-kota global dan manusia secara keseluruhan. Tidaklah mengherankan kalau Anies mendapat tempat, hormat, dan simpati dari berbagai pertemuan gubernur dan wali kota dunia.

Semua apresiasi itu bukan hanya karena bahasa Inggrisnya yang fasih, atau debutnya sebagai orator handal, akan tetapi lebih karena substansi apa yang dia uraikan, dan bukti yang telah ditunjukkan yang sangat mengena dengan tantangan pembangunan perkotaan global masa depan.

Anies sangat artikulatif ketika menyampaikan tantangan pembangunan masa depan kota global, terutama yang menyangkut dengan tata ruang, pemukiman, transportasi publik, keberpihakan terhadap masyarakat miskin, dan keadaban. Ia mendemontrasikan kemampuannya tidak hanya dalam wacana dan narasi. Ia membuktikan apa yang diucapkan dalam apapun pekerjaan yang dilakukannya. (*)

* Penulis adalah wartawan DutaIndonesoa.com dan Global News.

No More Posts Available.

No more pages to load.