Menko Polhukam Prof Mahfud MD Beri Kuliah Umum di Ponpes Amanatul Ummah: Ajak Mahasiswa & Santri Isi Jabatan Penting di Pemerintahan

oleh

MOJOKERTO|DutaIndonesia.com – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Prof Dr Mahfud MD, memberi Kuliah Umum kepada para mahasiswa Pasca-Sarjana Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) di Masjid IKHAC, Kompleks Ponpes Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (8/10/2022). Mahfud MD beserta rombongan tiba di Masjid IKHAC disambut pendiri dan pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MAg (Kiai Asep) bersama Wakil Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra (Gus Barra) dan sejumlah pimpinan IKHAC.

Sebelum memulai memberi kuliah umum bagi para mahasiswa, Mahfud MD memperkenalkan sejumlah pejabat dan staf khusus Kemenko Polhukam yang mendampinginya hadir di Kampus IKHAC dan Ponpes Amanatul Ummah, di mana sebagian di antaranya adalah jenderal.

Selain memberi kuliah umum pada mahasiswa pasca sarjana IKHAC, Mahfud MD juga memberi wejangan kepada para santri Ponpes Amanatul Ummah di Masjid Akbar KH Abdul Chalim.

Hadir pula Wakil Bupati Mojokerto yang juga ketua Yayasan Amanatul Ummah, Dr KH Muhammad Al Barra (Gus Bara), Rektor IKHAC Dr KH Mauhibur Rohman, Direktur Pascasarjana IKHAC Dr KH Afif Zamroni, Sekjen OPOP Muhammad Ghofirin, Warek IKHAC Dr Eng Fadly Usman, Dr Zakaria, Dr Affan, dan Habib Abu Bakar.

Juga hadir sastrawan celurit emas KH D. Zawawi Imron, Sekretaris Menko Polhukam Letnan Jenderal Teguh, Deputi keamanan nasional Polhukam Irjen Polisi Armed Wijaya, Stafsus Polhukam Imam Marsudi. Usai acara Kuliah Umum, kiai yang juga budayawan KH D. Zawami Imron sempat membacakan puisi Hari Santri.

Mahfud MD memulai kuliah umum dengan memuji IKHAC sebagai institut yang mewarisi nilai-nilai kejuangan Nahdlatul Ulama (NU), sehingga dia pun memaparkan masalah fiqih siyasah atau fikih politik. Seperti diketahui, para pendiri NU, ulama dan tokoh NU lain juga merupakan pendiri negara Indonesia.
“Karena saya kuliah umum di pasca sarjana di institut yang mewarisi nilai-nilai kejuangan Nahdlatul Ulama, maka saya akan menyampaikan fiqih siyasah, fiqih politik, fiqih ketatanegaraan. Alhamdulilah kita atas perjuangan para pendahulu kita, memiliki negara yang merdeka dan berdaulat. Belum adil dan belum makmur. Itu yang sekarang masih kita perjuangkan,” katanya.

Negara Indonesia merdeka berkat rahmad Tuhan Yang Maha Esa. Negara ini merdeka juga atas perjuangan yang antara lain dilakukan para ulama dan elemen-elemen bangsa yang lain. Khususnya santri. Maka kita pun mempunyai Hari Santri Nasional. Semua itu hasil ijtihad para ulama.

“Negara itu sunnatullah. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang hidup di luar negara. Begitu lahir, dia sudah ada dalam satu negara. Kalau tidak di Indonesia ya di Arab Saudi, dan negara lainnya. Tidak ada yang di luar negara. Kecuali yang berkunjung ke planet lain, tapi nanti juga pulang kembali lagi ke negaranya,” katanya.

Karena itu, kata Mahfud, di dalam Al Quran istilah negara itu banyak. Ada imam, kesultanan, kholifah. Dan mendirikan negara itu keharusan.

“Dalilnya begini, untuk apa manusia hidup? Wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun. Artinya tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah/beribadah kepadaku. Nah untuk bisa beribadah dengan baik, kita harus punya alat. Namanya negara. Dulu Nabi SAW saat beribadah dipersulit oleh orang-orang Quraiys yang mendirikan negara. Maka Nabi pergi ke Madinah mendirikan negara. Sama dengan kita di Indonesia,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Maka para ulama pun mendirikan negara. Mengobarkan cinta bangsa dan negara. Hubbul waton minal iman. Cinta tanah air atau nasionalisme adalah bagian dari iman. Ada pula lagu yang membangkitkan nasionalisme seperti Ya Lal Waton, dan lagu lain seperti yang ada di Aceh. Ya, mencintai Indonesia dan ideologinya.

Semula kita ingin negara Islam. Tapi negera Islam itu ternyata macam-macam. Maka kemudian dicapai kesepakatan bahwa negara Indonesia berdasarkan Pancasila.

“Memakai dalil ushul fiqih, kalau tidak menjangkau semuanya, jangan tinggalkan gagasan itu semua, maka ambil yang bisa dilakukan yakni Pancasila yang kemudian menjadi dasar kesepakatan sebagai ideologi negara,” katanya.

(Dalam hal lain juga ada dalil: “Jika kalian diperintah suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”– HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337)

Lalu banyak yang mempertanyakan bagaimana kita memperkuat nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernagara? Caranya, kata Mahfud MD:

“Pertama, masuki pos- pos kepemimpinan di Indonesia. Jadi Wakil Bupati seperti Gus Barra, jadi bupati, gubernur, DPR, menteri, presiden. Isi semua pos itu.”

Kedua, bagaimana dengan nilai-nilai dasarnya Islam, seperti keadilan, keimanan, takwa, penegakan hukum? “Itu semua masukkan ke tata hukum nasional, tata nilai kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Masukkan substansinya. Jangan pakai simbol-simbol. Itulah yang dilakukan ulama kita dan hasilnya sekarang kita ada di Institut Pesantren KH Abdul Chalim ini, sebab Indonesia merdeka, sehingga Gus Barra juga bisa jadi wakil bupati,” katanya.

Lalu siapa yang memerdekaan Indonesia? Jawabnya rakyat atau santri. Melalui Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari. Santri berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Namun sesudah Indonesia merdeka, para santri justru tidak bisa masuk sebagai pegawai pemerintah. Tidak bisa menjadi tentara.

“Karena apa? Karena santri tidak punya ijazah. Padahal program pemerintah harus punya ijazah, tapi tidak bisa masuk untuk mendapat jabatan, seperti jadi jenderal, tidak bisa. Para santri akhirnya kembali ke pesantren, sedang yang lain memberontak seperti DI/TII dan lainnya,” katanya.

Karena itu, Menteri Agama KH Wachid Hasyim bersama menteri pendidikan dari Masyumi pada tahun 1951 membuat keputusan bahwa ijazah madrasah di pesantren -pesantren diakui sama dengan ijazah sekolah umum. Hasilnya pesantren banyak mendirikan sekolah-sekolah yang diakreditasi oleh negara, termasuk sekolah-sekolah di Ponpes Amanatul Ummah ini, yang lulusan sekolahnya banyak kuliah di perguruan tinggi negeri, seperti UI, UGM, ITB, ITS, Unair.

“Karena itu tahun 1970 banyak sarjana berasal dari pesantren. Lalu masuk menjadi dokter, tentara, PNS. Tahun 1990-an banyak santri menduduki posisi penting di eselon 1 atau 2 di pemerintahan. Artinya, isi pos-pos penting di pemerintahan ini. Isi kemerdekaan ini. Jangan malah dijauhi. Sehingga ada nilai-nilai yang dibangun dalam keindonesiaan ini, yaitu nilai-nilai kebangsaan, kosmopolitanisme,” ujarnya.

Beri Wejangan Santri

Saat memberi wejangan di hadapan ribuan santri Ponpes Amanatul Ummah, Mahfud juga mengaku bangga menjadi lulusan pondok pesantren. Bahkan tokoh NU asal Madura itu mengaku dalam riwayat hidup yang ditulisnya selalu menempatkan pesantren urutan paling atas.

“Setelah itu baru lulusan SD dan seterusnya,” kata tokoh NU asal Madura itu di depan ribuan santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.

Mahfud MD mengaku pernah mondok di Pesantren Somber Lagah Pamekasan Madura. Kini pesantren tersebut berubah menjadi Pondok Pesantren Almardhiyah. “Sekarang pondoknya masih ada,” kata Mahfud MD.

Menurut dia, pondok pesantren zaman dulu tak seperti sekarang yang bersih dan megah. Dulu, tutur Mahfud MD, pondoknya kotor. Kamarnya kecil tapi ditempati 20 orang santri.

“Dulu anak yang mondok dianggap tak punya masa depan. Paling hanya jadi guru agama,” kata Mahfud.

Ternyata sejarah membuktikan lain. “Banyak lulusan pondok jadi pemimpin nasional,” kata Mahfud MD.

Dia lalu menunjuk dirinya sendiri yang kini menjadi Menko Polhukam RI. Bahkan Mahfud mengaku semua keinginannya tercapai. Pernah jadi anggota DPR RI dan hakim. Bahkan Ketua Mahkamah Konstitusi.

Dia kemudian menunjuk contoh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang jadi Presiden. Kemudian KH Ma’ruf Amin yang jadi Wakil Presiden.

Gus Dur adalah cucu Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari pendiri NU dan pendiri Pesantren Tebuireng. Sedang Kiai Ma’ruf Amin adalah dzuriyah ulama besar, Syaikh An Nawawi Al Bantani. Kiai Ma’ruf Amin juga alumnus Pesantren Tebuireng.

Mahfud MD juga menyebut santri perempuan. Ada Ida Fauziyah yang kini Menteri Tenaga Kerja (Menaker) RI. Lalu Khofifah Indar Parawansa yang kini Gubernur Jawa Timur dan sebelumnya juga menjabat Menteri Sosial dan Menteri Peranan Perempuan.

Karena itu dia minta para santri Amanatul Ummah belajar yang benar. “Harus belajar di bawah bimbingan guru, jangan ngaji ke mbah google,” kata Mahfud MD.

Dia lalu mengutip pesan Imam Syafi’i bahwa untuk mendapatkan ilmu ada enam syaratnya. Yaitu cerdas (sehat akal), bersungguh-sungguh, berkemampuan, usaha yang keras, ada guru yang mengajarkan, dan waktu yang lama.

“Sekarang tahun 2022. Tahun 2045 dari ruangan ini ada yang jadi menteri, rektor, tentara, dan lainnya. Tadi Kiai Asep Saifuddin Chalim mengatakan bahwa para santri disiapkan untuk menjadi pemimpin nasional,” kata Mahfud MD.

Dalam acara tersebut Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, mengucapkan terimakasih kepada Mahfud MD yang telah memberikan Kuliah Umum pada mahasiswa Pascasarjana IKHAC dan Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) serta para santri Amanatul Ummah. Kiai Asep juga memaparkan kesuksesan membangun Ponpes Amanatul Ummah dalam waktu cukup singkat.

“Kami membangun Amanatul Ummah ini pada tahun 2006 dengan santri sebanyak 48. Alhamdulillah sekarang sudah 14 ribu santri,” kata Kiai Asep.

Menurut Ketua Umum PP Pergunu ini, awal mendirikan S2 IKHAC pada 2015 langsung diserbu mahasiswa. Alhasil, sebanyak 200 mahasiswa S2 langsung membanjiri IKHAC.

“Kami sampaikan kepada Pak Mahfud, Alhamdulillah kami dapat memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari seluruh Indonesia dan seluruh dunia,” terangnya.

Sementara Gus Barra sebagai ketua Yayasan Amanatul Ummah sangat bersyukur dengan hadirnya Menko Pohulkam di IKHAC dan Ponpes Amanatul Ummah Pacet. Gus Barra juga menyampaikan bahwa, sebelumnya Amanatul Ummah sudah 3 kali didatangi oleh Presiden Jokowi, dan 1 kali disambangi Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.

“Saya harap, para peserta kuliah umum Pascasarjana yang menerima ilmu berharga dari Bapak Menko Pohulkam, dapat mengembangkannya, dan bisa meraih cita cita yang didambakan,” ungkap Gus Barra. (gas/din)

No More Posts Available.

No more pages to load.