Nak, Saya Wakafkan Kamu!

oleh
Imam Shamsi Ali

KALIMAT itu masih jelas terngiang di telingaku. Seolah Puang, ayahku, kembali berdiri di hadapanku, saat pertama kali mengantarku ke pesantren. Perjalanan yang waktu itu terasa panjang dan asing. Kami naik bus mini tua, berdebu dan pengap.

Sesampainya di kota, kami singgah beberapa hari di kamar kos kakak yang sempit, pengap, penuh nyamuk. Kakakku waktu itu kuliah di STM. Lewat saran pemilik kos itulah, aku akhirnya akan dimasukkan ke pesantren.

Beberapa hari kemudian, tibalah waktunya mendaftar. Puang sama sekali buta tentang pesantren. Beliau tak kenal Kiai, tak paham syarat masuk sekolah. Yang beliau tahu hanya ladang, cangkul, dan kejujuran.

Di pesantren kami menghadap Pimpinan dan pengasuh pondok, KH Abdul Djabbar Ashiry. Pertanyaan pertama beliau, halus sekali dalam bahasa Bugis: “Siapa nama anakmu?”

Ayahku hanya fasih dua bahasa: Konjo, bahasa kampung, dan Bugis pasaran. Beliau tidak bisa berbahasa Indonesia. Bagi orang Kajang, berbahasa Bugis saja sudah sebuah kebanggaan. Apalagi bahasa Indonesia. Ayahku bahkan tak bisa baca tulis. Kalau menulis, beliau hanya bisa aksara Lontara.

“Utteng asenna Puang,” jawab ayahku polos.

“Apa artinya?” Kiai bertanya lagi.

Ayahku hanya tersenyum. Lalu menjelaskan bahwa nama itu tak punya makna apa-apa. Hanya panggilan kecil sejak lahir.

Kiai Djabbar menatap ijazah SD-ku yang bertuliskan “Utteng”. Tiba-tiba beliau mengembalikannya dan berkata lembut: “Pulang dulu ke kampung, ganti namanya.”

Ayahku bingung. “Nama apa yang baik, Kiai?”

“Muhammad Syamsi saja,” jawab beliau singkat.

Sore itu juga ayah kembali ke kampung. Sementara aku harus tinggal di pesantren walau pendaftaran belum dibuka. Demi menghemat ongkos, juga agar aku cepat beradaptasi. Untuk sementara aku tinggal di rumah seorang guru di pesantren itu, Ustadz Mansur Salim, masih kerabat, yang jasanya sangat besar dalam hidupku.

Sebelum berangkat, ayah menatapku lalu berkata pelan: “Nak, saya sudah serahkan kamu. Kamu bukan lagi milik saya.”

Waktu itu aku tak paham. Aku kira itu hanya pesan perpisahan biasa. Pesan agar aku menjaga diri di tempat orang.

Tahun demi tahun berlalu. Baru kemudian aku mengerti.

Ayahku petani biasa, buta huruf, tapi keras dan tegas mendidik sebelas anaknya. “Jangan seperti saya, tidak bisa baca tulis,” begitu pesan beliau yang sederhana tapi menusuk.

Sejak hari itu, ayah hampir tak pernah menengok. Uang sekolah pun sering dititipkan lewat kakak di Makassar. Saat liburan panjang, aku pun memilih tinggal di pesantren. Bukan karena betah, tapi karena tak ada ongkos pulang.

Enam tahun aku tempuh di pondok. Lulus, bingung mau ke mana. Kembali ke ayah, beliau hanya mengulang kalimat yang sama: “Saya sudah serahkan kamu.” Tak ada penjelasan, tak ada rencana. Hanya kepasrahan.

Akhirnya aku mengajar sukarela di pesantren. Hidup seperti burung: percaya bahwa Sang Pencipta langit dan bumi yang mengatur rezeki hari ini dan esok.

Hingga suatu malam, pimpinan pondok memanggil. Ada beasiswa ke luar negeri, tapi ongkos keberangkatan ditanggung sendiri. Aku pulang kampung. Ayah hanya bertanya: “Kenapa pulang?” Setelah kujelaskan, jawabannya tetap sama: “Saya sudah serahkan kamu.”

Drama panjang pun terjadi. Dari mana orang kampung bisa dapat uang setiket pesawat? Alhamdulillah, Ustadz yang dulu menampungku berani menjaminkan sertifikat tanahnya ke pesantren. Akhirnya aku berangkat ke Pakistan lewat Jakarta. Ayah ikut mengantar ke bandara. Sebelum berpisah, beliau memelukku erat dan berbisik lagi: “Nak, saya telah serahkan kamu.”

Tujuh tahun kuliah di Pakistan. Dua tahun mengajar di Saudi. Hampir 30 tahun lebih kini aku menetap di Amerika sebagai perantau. Jauh dari kampung, jauh dari tumpah darah.

Rindu itu paling terasa saat Lebaran. Anak-anakku lahir di luar negeri: satu di Pakistan, satu di Saudi, empat di New York. Tapi di dada mereka tetap ada “merah putih”, cinta kampung.

Tiba-tiba lebaran tahun 2018 lalu, rindu itu berubah jadi cemas. Ada pesan singkat dari adik: “Puang jatuh di kamar mandi dan belum sadar.” Dadaku sesak. Padahal aku ada tugas besar: khutbah Idul Fitri di Jamaica High School, New York, dihadiri Wakil Wali Kota, Kepala Kepolisian, dan puluhan ribu jamaah. Acara berjalan lancar, tapi kalimat itu terus menghantui.

Hari kedua Lebaran aku langsung terbang. 23 jam perjalanan: New York-Dubai-Jakarta-Makassar. Tiba di kampung, ayah sudah terbaring tak sadar. Napasnya tersengal. Adik-adik setia mentalqin “laa ilaaha illallah” di telinganya.

Aku duduk di sampingnya, membisik pelan: “Puang, nakke Utteng… Ayah, saya Utteng.” Nama kecil yang selalu beliau sebut. Entah beliau mendengar atau tidak, air mata menetes dari sudut matanya. Mungkin itu air mata bahagia, karena anak-anaknya berkumpul.

Tiba-Tina saja malam itu aku harus kembali ke Makassar untuk sebuah acara. Acara Kajian bersama para Ustadz dan ulama di Makassar. Di tengah majelis bersama ketua MUI Sul-Sel, KH Sanusi Baco dan para ulama lainnya, pesan singkat itu datang lagi: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”- Puang telah tiada.

Seperti disambar petir. Berat. Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya menyesal karena tak ada di sisi beliau saat napas terakhirnya.

Di perjalanan pulang ke kampung, semua kenangan berkelebat. Dimarahi karena nakal. Bekerja di sawah. Menggiring kerbau ke sungai. Dan kalimat yang paling melekat: “Nak, kamu sudah saya serahkan. Kamu bukan lagi milik saya.”

Kini aku paham. Ayah “menyerahkan” aku bukan berarti “melepaskan”. Beliau mewakafkan aku. Untuk jalan dakwah. “Kamu bukan milik saya lagi” karena sejak hari ini hidupmu bukan untuk aku lagi, tapi untuk Allah.

“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan bashirah…” QS. Yusuf: 108.

Aku berjanji, Ayah: Aku wakafmu di jalan ini. Akan kujalani sepenuh hati. Di setiap kebaikan yang kutebarkan, engkau ada di dalamnya.

Aku sedih tak bisa memegang tanganmu di akhir hayatmu. Tapi aku bangga bisa menjaga amanahmu. Aku bukan lagi milikmu, Ayah. Aku wakafmu di jalan Allah Ta’ala!

“Selamat Hari Ayah se-Dunia”! (*)

New York, 21 Juni 2026

Utteng Al-Kajangi Al-Nuyorki-
Salah satu dari sebelas putra-putri Puang Ali bin Ka’ru Patippangi.

No More Posts Available.

No more pages to load.