MOJOKERTO| DutaIndonesia.com – Dalam mengarungi kehidupan rumah tangga agar ‘mawadah wa rohma’ (harmonis) baik di dunia hingga akherat, maka hubungan antara suami dan istri diatur cukup baik dalam agama Islam.
Suami adalah sosok pemimpin keluarga dan pengambil keputusan. Memberi nafkah pada keluarga (istri dan anak) serta membimbing anak istrinya di jalan Allah. Menjauhkan dari larangan Allah atau api neraka.
Sementara peran istri tidak kalah penting, sebab akan menjadi penasihat dan teman bertukar pikiran yang akan mempengaruhi sebuah keputusan terbaik untuk kelangsungan rumah tangga yang harmonis.
Lebih detailnya, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA, Pendiri sekaligus Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, menjelaskan saat memberi pelajaran ngaji kitab kuning berjudul Mukhtarul Hadist pada santri Madrasah Aliyah Istimewa pada Kamis, 9/3/2023.

Setelah mendapatkan fasilitas yang diberikan oleh suami, istri diharapkan dapat memaksimalkan perannya sebagai pendamping suami maupun mentor bagi anak-anak. Selain itu, membangun rumah tangga Islami dan berakhir bersama di surga adalah tujuan utama yang mulia.
Menurut Al-Qur’an dan Al Hadist, istri harus memenuhi hak suami. Istri juga wajibkan mentaati perintah suami. Yakni perintah yang baik. Karena istri diperbolehkan menolak perintah suami yang melaksanakan sesuatu yang melanggar / dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
“Misalnya suami memerintahkan istrinya untuk ‘menjual diri’ (jadi pelacur), maka istri berhak menolak. Bila suami terus memaksa, istri boleh meminta untuk dicerai. Istilahnya zaman sekarang, minta dikembalikan pada orang tuanya,” kata Kiai Asep.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan),” (HR. Bukhari dan Muslim).
Istri yang taat pada perintah suami, dijamin masuk surga. Ini menunjukkan kewajiban besar istri pada suami adalah mentaati perintahnya.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854.
Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah jika seorang wanita beriman itu meninggal dunia lantas ia benar-benar memperhatikan kewajiban terhadap suaminya sampai suami tersebut ridha dengannya, maka ia dijamin masuk surga. Bisa juga makna hadits tersebut adalah adanya pengampunan dosa atau Allah meridhainya. (Lihat Nuzhatul Muttaqin karya Prof. Dr. Musthofa Al Bugho, hal. 149).
Begitu pula ada hadits dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Beberapa kewajiban istri pada suami. Seperti yang disampaikan oleh Kiai Asep berikut ini.
Istri taat suami
Allah berfirman: “Maka istri-istri yang shaleh itu ialah yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karenanya Allah telah memelihara (menjaga) mereka,” (QS. An Nisa: 34)
”Istri harus nurut, bila suami memintanya untuk sholat tepat waktu misalnya, ya harus dilaksanakan. Misal lainnya istri tidak boleh keluar rumah, tanpa izin meninggalkan rumah, kecuali harus izin sama suami,” kata Kiai Asep.
Meski demikian, komunikasi antara suami istri tidaklah harus kaku seperti atasan dan bawahan. Harus dengan Bahasa dan tutur kata yang baik.
Bermuka Manis
Istri terhadap suami adalah bermuka manis dan menyenangkan suami. Karena faktor psikologi perempuan yang kurang stabil, baik karena faktor biologis maupun non-biologis, maka di sini istri harus belajar mengontrol dan mengelola emosi sebaik mungkin.
Dan dalam praktiknya, bermuka manis adalah menyenangkan suami, sesuai pola kehidupan masing-masing rumah tangga. Bagi seorang istri, menyenangkan suami bisa dilakukan dengan memasak makanan kesukaannya. Atau menyenangkan suami dengan mengajak suami liburan, dan lain sebagainya.
Abu Hurairah RA, beliau mengatakan Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sebaik-baik perempuan ialah seorang perempuan yang apabila engkau melihatnya, engkau merasa gembira. Jika engkau perintah, dia akan mentaatimu. Dan jika engkau tidak ada di sisinya, dia akan menjaga hartamu dan dirinya”.
Menjaga Kehormatan Suami
Umumnya, istri diserahi tugas untuk mengelola keuangan keluarga serta harta, rumah dan kehormatan suami.
Dengan demikian, pembagian kerjanya adalah jika suami berupaya mendapatkan harta, maka istri yang bertugas merawat dan menjaganya, bahkan jika mungkin mengembangkannya.
“Seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin suaminya, apalagi membolehkan lelaki lain masuk ke dalam rumahnya ketika suami tidak ada. Itu larangan keras. Bisa timbul fitna,” kata Kiai Asep.
Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab : 33).
Hindari Suami Marah
Kerelaan suami disebut sebagai tiket seorang istri untuk meraih kebahagiaan akhirat dan mendapat surga. Karena itu, istri harus berusaha sebisa mungkin agar suami rela dan tidak marah.
Untuk itu, istri harus bisa membantu suami dengan hal-hal yang membahagiakan suami. Misalnya, membantu suami menyelesaikan pekerjaan, mengatasi masalah bersama, terampil mengurus rumah, pandai memasak masakan yang disukai suami, peka terhadap kebutuhan suami, dan lain-lain.
Paham Urusan Ranjang
Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu shubuh” (HR. Bukhari dan Muslim).
Untuk itu, istri harus dapat memenuhi kebutuhan suami di atas ranjang terkecuali ada udzur seperti sakit, haid, nifas, dan lain-lain. Maka bicarakanlah secara baik-baik dengan suami terkait hal tersebut.
“Hendaknya istri melayani suami, meski diatas punggung onta,” kata Kiai Asep sambal tersenyum yang disambut tawa para santri. “Iya, zaman dulu, diatas punggung onta itu ada tendanya. Jangan dipikir tanpa tabir,” jelas Kiai Asep.
Beberapa dalil dari Al Qur’an lainnya terkait rumah tangga (suami-istri):
Soal Hak dan Kewajiban Suami-Istri
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah: 228)
Nasihat untuk Istri
“Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” (QS An-Nisa: 34)
Melayani Suami
“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah: 223)
Amal Baik
“Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.” (QS An-Nisa: 124)
Anak & Harta Cobaan
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” (QS Al-Anfal: 28) (Moch. Nuruddin, Gatot Susanto)













