Ngaji Subuh Bersama Kiai Asep: Membersihkan Najis dan Hadas

oleh

SURABAYA| DutaIndonesia.com – Rabu (26/7/2023) pagi tadi di depan santri Ponpes Amanatul Ummah, Siwalankerto, Surabaya, Kiai Asep menterjemahkan kitab, untuk membahas masalah najis dan hadast. Berikut tata cara membersihkannya.

Dalam Bahasa Arab, bersuci disebut dengan ‘thaharah’. Menurut ilmu Fikih, thaharah ialah membersihkan diri, pakaian, tempat, dan benda-benda lain dari hadats dan najis menurut cara-cara yang ditentukan dalam Islam.

Thaharah memegang peranan penting dalam beribadah, sebab sebelum seseorang mengerjakan salat dan thawaf, mereka diwajibkan berthaharah dengan cara wudhu, tayamum atau mandi.

Dalam sebuah riwayat Nabi SAW bersabda, “Allah tidak menerima salat yang tidak dengan bersuci dan tidak menerima sedekah dari orang yang berkhianat,” (HR An-Nasa’i).

Nah, thaharah terbagi ke dalam dua macam yaitu bersuci dari hadats dan najis. Keduanya memiliki tata cara dan ketentuan yang berbeda.

Tata Cara Bersuci dari Hadats dan Najis

  1. Tata Cara Bersuci dari Hadats Kecil

Hadats ini dibagi lagi ke dalam dua macam, yaitu hadats besar dan kecil. Hadats kecil menyebabkan seseorang harus berwudhu atau tayamum, sebabnya seperti keluar sesuatu dari dubur atau kubul, bersentuhan kulit perempuan dan laki-laki yang bukan mahrim, menyentuh kemaluan, serta hilang kesadaran.

Untuk membersihkan hadast kecil, dengan cara berwudhu. “Pertama harus diniatkan, menghilangkan hadast kecil,” kata Kiai Asep. Baru kemudian berwudlu.

Setelah wudhu, dilanjutkan membaca doa sebagai berikut,: Asyhadu allaa ilaahah illallaah wahdahuu laa syariika lahuu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu wa rosuuluh. Allaahummaj’alnii minat tawwaabiina waj’alnii minal mutathahhiriina, waj’alnii min ‘ibadikash shaalihiin.

Artinya: “Aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang bertaubat dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hamba Mu yang shalih,”

Bila tidak ada air, boleh membersihkan hadast kecil dengan cara bertayamum.

  1. Tata Cara Bersuci dari Hadats Besar

Hadats besar disebabkan karena keluarnya darah haid, nifas, wiladah, air mani, berhubungan suami istri, dan meninggal dunia. Cara membersihkan hadats besar ini harus dengan mandi wajib.

Berikut tata cara bersuci dari hadats besar.
Membasuh kedua tangan dengan niat yang ikhlas karena ALlah SWT.

Lalu Mencuci kemaluan

Berwudhu seperti wudhu ketika akan salat
Membaca niat sebagai berikut,: Nawaitu ghusla lirafil hadatsil akbari fardhan lillahi ta’aala.

Artinya: “Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah ta’ala,”

Menyiram badan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan merata kemudian menggosok-gosoknya.

  1. Tata Cara Bersuci dari Najis

Sama halnya dengan hadats. Najis juga dikelompokkan lagi ke dalam tiga macam, yaitu najis mutawassitah (sedang), najis mukhaffafah (ringan), dan najis mughallazah (berat).

Najis mutawassitah terdiri dari bangkai hewan yang berdarah, darah, nanah, arak, dan segala sesuatu berwujud cair yang keluar dari kubul serta dubur kecuali air mani. Najis ini dibagi lagi ke dalam dua bagian, yaitu najis ainiyah dan hukmiyah.
Najis mutawassitah yang ainiyah berupa zat, warna, bau, dan rasanya terlihat nyata. Cara membersihkannya dengan menghilangkan najisnya baru setelah itu disiram dengan air.

Sementara itu, najis mutawassitah yang hukmiyah maka zat, warna, bau dan rasanya tidak terlihat seperti air kencing yang mengering. Cara membersihkannya dengan mengalirkan air di atas benda yang terkena najis tersebut.

Selain najis mutawassitah, ada juga najis mukhaffafah. Najis ringan ini contohnya seperti air kencing bayi laki-laki yang belum makan kecuali ASI sang ibu. Cara membersihkannya mudah, cukup dengan memercikkan atau mengusapnya dengan air pada tempat atau benda yang terkena najis.

Namun, air kencing bayi perempuan najisnya seperti kencing orang dewasa, maka cara mensucikannya seperti membersihkan kencing orang dewasa sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang berbunyi,

Dari Ali RA, ia berkata, “Air kencing anak perempuan harus dibasuh, dan bila air kencing anak laki-laki dengan memercikkan air padanya selama belum memakan apa-apa (kecuali ASI),” (HR Abu Daud dan An Nasa’i).

Yang terakhir ialah najis mughallazhah atau najis berat. Penyebab dari najis ini adalah hewan anjing dan babi, cara menyucikannya harus dengan menghilangkan wujud benda anjis itu kemudian dicuci bersih menggunakan air sampai tujuh kali, salah satunya menggunakan tanah.

Nabi SAW bersabda, “Cara menyucikan bejana salah seorang di antara kalian bila dijilat anjing yaitu membasuhnya (dengan air) sebanyak tujuh kali. Salah satu basuhannya dengan debu,” (HR Muslim).

Usai menjelaskan masalah taharah, Kiai Asep mengingatkan dan membaca bersama beberapa do’a yang harus dihafal oleh para santriwan dan santriwati.
Diantaranya do’a agar mudah mencerna pelajaran, pandai dan cerdas. Do’a agar tak saling menyakiti antara teman, sehingga suasana belajar di pondok mau pun di sekolahan bisa tenang dan baik. Juga do’a agar tak diganggu oleh orang lain, dan selalu dilindungi oleh Allah SWT. (Moch. Nuruddin)

No More Posts Available.

No more pages to load.