PAMEKASAN| DutaIndonesia.com – Ketua PCNU Pamekasan KH Muchlis Nasir, M.Kom, bersyukur semua rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang berlangsung aman lancar dan memberi manfaat pada umat. Dalam muktamar ini, Rais Aam kembali dijabat oleh KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU dijabat KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).
KH Muchlis Nasir menjelaskan bahwa apa yang dihasilkan di muktamar baginya adalah keputusan yang terbaik. “Karena Muktamar itu forum pengambil keputusan tertinggi di NU, jadi apa pun hasilnya, walaupun mungkin ada sebagian yang kecewa, itu biasa. Namun itu keputusan yang terbaik,” kata Ketua PCNU Pamekasan yang dikenal akrab dengan wartawan ini kepada Global News. Muktamar ke-35 NU ditutup Presiden Prabowo Subianto, Senin (31/8/2026).
Saat ditanya soal insiden kericuhan di sidang komisi organisasi menjelang pemilihan ketua umum PBNU, KH Muchlis Nasir menilai hal itu dinamika biasa dalam organisasi. “Insiden itu dinamika biasa, kita berdebat soal peraturan tata tertib, sebetulnya itu ada di AD/ART, tapi peraturan itu ada yang mengganjal pada salah satu kubu calon ketum saja, ada adu argumen, minta agar peraturan itu bisa diubah agar salah satu calon itu bisa lolos tapi tidak bisa, sebab pada akhirnya kan kesepakatan mayoritas muktamirin. Dinamika itu yang menyebabkan sedikit ada masalah, ada yang kecewa, hanya beberapa menit saja, ricuh,” katanya.
Selanjutnya Kiai Muchlis berharap kepengurusan PBNU pimpinan Gus Kikin menghasilkan kebijakan-kebijakan yang betul-betul mengayoni warga Nahdliyin dan warga Indonesia pada umumnya. “Kami sebagai warga NU Pamekasan siapa pun yang terpilih, akan tetap menjalankan program sesuai tingkatannya masing-masing. Kami PCNU Pamekasan berpesan bahwa ini muktamar pertama di abad kedua NU. Saya di komisi program bersama Mbak Alissa Wahid, kita membuat program NU lima tahun pertama di abad keduanya ini, istilahnya transformasi jam’iyah. Salah satunya memperbaiki manajemen organisasi, bagaimana warga NU yang sangat banyak itu bisa lebih terorganisir lagi,” katanya.
Sebelumnya Sidang komisi program dalam rangkaian Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Aula Institut Agama Islam Bani Fatah (IAIBAFA) Tambakberas, Jombang, pada Sabtu, (29/8/2026), diwarnai dengan berbagai aspirasi strategis yang menarik dari daerah terluar. Forum yang dipimpin langsung oleh Alissa Wahid ini menjadi wadah penting dalam mengevaluasi program serta merumuskan arah kebijakan organisasi untuk masa depan yang tertuang dalam peta jalan NU 2050.
Dalam sidang tersebut, selain aspirasi dari PCNU Pamekasan dan PCNU daerah lain, ada juga Sekretaris PCNU Kabupaten Kaimana, Papua Barat, Safar Mudatsir Furada turut menyampaikan keluhannya. Ia mengisahkan dinamika perjuangan dakwah di wilayahnya yang jauh dari Pulau Jawa di mana NU berpusat.
“Di daerah kami sana sangat sulit menemui ulama atau kiai yang mumpuni, SDM kita terkait Aswaja an-Nahdliyyah ini kurang, sehingga mengkhawatirkan jika paham Aswaja an-Nahdliyyah ini luntur sedikit demi sedikit,” kisahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa telah menyediakan sejumlah lahan yang sial digunakan sebagai lokasi pengkaderan, guna memperkuat eksistensi komunitas muslim serta mendukung pengembangan SDM NU di kawasan timur Indonesia.
“Jika PBNU punya program pengkaderan Nahdliyyin, termasuk menghadirkan perguruan tinggi NU atau pondok pesantren di sana, kami siap hibahkan lahan, asal demi menjaga komunitas muslim NU yang mumpuni di daerah kami,” tegasnya.
Menanggapi masukan tersebut, Alissa memberikan apresiasi mendalam dan menjadikan keluhan tersebut sebagai evaluasi dan berusaha merumuskan program yang dapat mencapai daerah-daerah yang terbilang jauh. “Melalui sinergi yang erat antara pusat dan daerah, Muktamar Ke-35 NU ini diharapkan mampu menghasilkan keputusan strategis yang menjawab tantangan zaman secara berkelanjutan,” tuturnya. (Roz)











