Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*
Dalam Islam, peristiwa hidup bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk direnungkan dan diambil ibrahnya. Karena itu tidak heran jika hampir dua pertiga isi Al-Qur’an adalah kisah atau sejarah. Sejarah para nabi dan musuh-musuhnya misalnya dipaparkan panjang lebar dan berulang-ulang.
Maka ketika Amerika menetapkan peristiwa 9/11 sebagai hari peringatan, hal itu tidaklah asing bagi nilai-nilai Islam. Sebuah peristiwa, baik maupun buruk menurut kacamata kita, memang perlu diingat agar menjadi pelajaran.
Bagi kami yang telah lama hidup di kota New York dan mengalami langsung peristiwa itu, tentu banyak kenangan yang membekas. Bagaimana serangan, kecurigaan, dan kebencian diarahkan kepada komunitas ini. Seolah-olah komunitas Muslim adalah warga New York atau Amerika yang asing, bahkan berbahaya. Mereka dicurigai sebagai pelaku, atau pendukung kejahatan itu, atau setidaknya dianggap tidak mau mengutuk peristiwa tersebut.
Saya masih ingat betul ucapan seorang pembawa acara (anchor) televisi: “Jika Anda ingin tahu inspirasi serangan ini (WTC), bacalah Al-Qur’an.” Maknanya, serangan teror hari itu terinspirasi oleh ajaran Al-Qur’an. Tentu sangat menyakitkan bagi orang-orang beriman yang meyakini Kitab Sucinya bersih dari segala ajaran jahat.
Kini peristiwa 9/11 memasuki tahun ke-25. Sebuah rentang waktu yang cukup panjang. Jika diibaratkan manusia, usia 25 tahun adalah usia matang untuk membangun cara pandang dan kedewasaan bersikap. Semoga 25 tahun berlalu ini telah membuat kita semua lebih dewasa dalam melihat dan menyikapinya. Menjadikannya momentum introspeksi dan koreksi diri, sambil menatap ke depan: apa yang perlu kita lakukan agar tragedi serupa tidak terulang, dan bagaimana membangun New York yang lebih baik.
Bagi saya pribadi, saya terus mencoba menangkap makna dan hikmah dari peristiwa itu. Kemarin saya telah menuliskan tujuh pelajaran penting.
Kini saya tambahkan beberapa pelajaran lainnya:
1. Keterikatan Kesatuan Kemanusiaan.
Ketika serangan itu terjadi, semua warga New York merasakan hal yang sama: duka, marah, dan rasa menjadi korban. Pada saat itu, sekat-sekat primordial seperti suku, warna kulit, kelas sosial, budaya, bahkan agama, tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Yang ada hanya satu kesadaran: Satu New York dan satu kemanusiaan.
2. Allah-lah yang Mengendalikan Segala Keadaan.
Peristiwa 9/11 banyak dipersepsikan sebagai akhir dari perjalanan dakwah di Amerika. Islam dianggap telah menemukan kuburnya. Dan boleh jadi itulah memang keinginan mereka yang merancang serangan tersebut. Tetapi Allah membalikkan keadaan itu justru menjadi momentum kebangkitan dakwah. Berbondong-bondong warga Amerika belajar Islam, bahkan menerima Islam sebagai jalan hidup baru mereka.
3. Islamofobia Tidak Pernah Benar-benar Berakhir.
Ketika 9/11 terjadi, tidak dapat dipungkiri Islamofobia mencapai titik klimaksnya. Banyak yang menyangka bahwa seiring berlalunya waktu, amarah mereda, Islamofobia pun akan mereda. Kenyataannya, 25 tahun kemudian, bahkan ketika Kota New York dipimpin oleh seorang Muslim, wali kota terpopuler dalam sejarah kota ini dengan tingkat dukungan 74%, Islamofobia itu justru meninggi. Mereka yang anti-Islam menyerukan agar ia tidak hadir dalam acara peringatan 9/11. Sungguh tragis dan paradoksal.
4. Terorisme Lahir dari Ketidakadilan.
Beberapa hari setelah 9/11, saya diminta oleh kantor Wali Kota untuk mewakili komunitas Muslim dalam acara doa bersama untuk Amerika di Yankee Stadium. Saya memilih membacakan Al-Qur’an, dan salah satu ayat yang saya bacakan adalah tentang keadilan.
Pilihan itu saya ambil atas kesadaran bahwa perang melawan teror (war on terror) yang kala itu dicanangkan Presiden George W. Bush hanya akan berhasil jika perang melawan berbagai ketidakadilan (war on injustice) di dunia juga dilakukan. Terorisme pada umumnya lahir sebagai akibat dari ketidakadilan global.
5. Isolasi Itu Berbahaya, Keterlibatan Adalah Perlindungan.
Ketika serangan 9/11 terjadi, banyak masjid, Islamic center, dan individu Muslim yang mendapat serangan. Namun saya menyaksikan, masjid-masjid yang memiliki hubungan baik dengan tetangga dan komunitas sekitar justru mendapatkan simpati dan perlindungan. Maka saya menyimpulkan: isolasi itu buruk, keterlibatan (engagement) itu baik.
6. Amerika Lebih Besar dari Kebencian Segelintir Orang.
Peristiwa 9/11 juga membuktikan bahwa Amerika jauh lebih besar daripada kebencian sebagian kecil dari bangsa ini. Pasca 9/11 memang ada yang membenci, memusuhi, bahkan menyerang Islam dan komunitas Muslim. Namun mayoritas warga Amerika justru pasang badan membela dan membantu komunitas Muslim. Melalui kerja sama antaragama, hal ini menjadi semakin nyata.
7. Janji Pertolongan Allah Itu Pasti.
Janji Allah untuk menolong agama-Nya adalah pasti. “Mereka membuat rencana, dan Allah pun membuat rencana, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana” (Al-Qur’an). Dalam kurun waktu 23 tahun, persis seperti periode dakwah di Mekkah (13 tahun) dan Madinah (10 tahun), seorang Muslim berhasil memenangkan kursi WaliKota New York, kota dunia yang dikenal sebagai kota dengan komunitas Yahudi terkuat di luar Israel. Bagi sebagian orang, hal itu dianggap mustahil. Namun dengan izin dan pertolongan Allah, kini menjadi realitas yang mengagumkan dan mengherankan banyak kalangan.
Itulah beberapa pelajaran besar lainnya yang dapat kita petik dari peristiwa 9/11. Peristiwa yang hingga kini masih diselimuti banyak pertanyaan yang belum terjawab. Saya yakin, ia akan terjawab pada waktunya, jika tidak di dunia, insyaAllah di akhirat kelak. Pasti! (*)











