Pengajian Rolas ’81: Godaan Terbesar dalam Menjalankan Perintah Agama Justru dari Diri Sendiri

oleh

SURABAYA | DutaIndonesia.com– Godaan terbesar seseorang dalam melaksanakan perintah agama justru dari dalam diri sendiri, menghadapi hawa nafsu. Hawa nafsu sendiri lebih cenderung pada sukanya manusia pada yang disukai, tapi pikirannya tidak dapat mengendalikan.

Ustadz H.Akhmad Arqom SPd, MPd, mengungkapkan itu dalam Pengajian Jelang Ramadan yang digelar alumni SMPN 12 angkatan 1981, Minggu (16/2/2025).

“Manusia itu kalau mau menjadi baik, godaannya justru dari dalam,” ujarnya dalam pengajian yang menjadi kegiatan rutin para alumni Rolas ‘81.

Akhmad Arqom lantas menyontohkan saat bertamu ke rumah temannya, sekitar pukul 11.30 di mana saat Dhuhur masuk 11.35. Tuan rumah menyuguhkan makanan dan minuman yang merangsang rasa lapr dan rasa haus.

“Padahal saya tidak sedang haus dan sedang tidak lapar. Kalau saya sampai memakannya padahal saya tahu ini waktunya salat, berarti saya mulai tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, tidak bisa mengendalikan pikiran saya,” terangnya.
Beruntung, lanjutnya , kita orang beragama punya puasa, punya zakat, punya infaq yang fungsinya mengontrol hawa nafsu.

“Semoga puasa yang kita kerjakan semakin membuat kita bisa mengendalikan hawa nafsu. Bukan menghentikan ya, tapi mengendalikan,” tandasnya.

Lantas siapa penghambat orang-orang untuk jadi orang beriman? Dalam penjelasannya Arqom mengungkap, sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib menyebut setan sebagai penghambat.
Disebutkan dalam Surat ke-7 ayat 16 dan 17, ketika iblis mengatakan ya Allah setelah Engkau menyatakan aku sesat, aku akan menghalangi manusia dari jalan yg benar.

“Lalu ayat 17, aku (setan) akan mendatangi manusia itu dari depan, dari belakang dari kanan dan dari kiri. Kata ulama-ulama tafsir, yang dimaksud mendatangi dari depan, setan itu akan melalaikan kita dari akhirat. Kalau yang masih muda masih lupa akhirat itu masih wajar, sedangkan kita yang sudah 60-65 lupa akan akhirat, itu yang mengerikan,” ujar pria yang telah menulis lebih dari 10 judul buku, di antaranya ‘Menciptakan Keajaiban Hidup’ dan ‘Menaklukkan Kerasnya Hidup dengan Alquran’.

Sedang yang dimaksud dari belakang, Arqom menyontohkan di mana-mana mobil itu kaca depannya lebih besar dari spionnya. Nah setan itu berusaha membuat kaca depan lebih kecil dari spion.

Artinya kita itu tidak perhatian pada yang di depan, tapi lebih sering melihat ke belakang, duniawi. Dunia itu adalah sarana untuk beribadah. Kalau kemudian kita tenggelam dalam dunia, ibadahnya terabaikan. Misalnya saking sibuknya bekerja sampai lupa atau tidak sempat beribadah.

Dari kanan, setan akan berusaha meniupkan pada kita tentang keragu-raguan kita pada agama. Bagaimana ceritanya, agama yang sudah diyakini sejak kecil tiba-tiba diragukan. Datangnya keragu-raguan itu pada orang menyusahkan hidupnya. Ada 2, yaitu orang yang suka melampaui batas dan orang yang banyak berbuat dosa.

“Salat biasanya jam 11.30, tiba-tiba entah kenapa salatnya mundur semua. Dhuhur baru menjelang Ashar, Ashar baru menjelang Magrib. Kebiasaan melampaui batas ini akibat dari mulanya kita meyakini agama jadi meragukan, karena nur atau cahaya dari Allah itu datang kalau orang mensegerakan beribadah. Kalau dia menunda-nunda beribadah, dia akan jauh dari cahaya Allah,” terangnya.

Dari kiri, setan akan menenggelamkan kita dengan memuas-muaskan hawa nafsu kita. Makan, minum, tidur, nonton, ngobrol, boleh saja. Tapi kalau sampai melebihi waktu ibadah, waktu mendidik anak, dan waktu yang lain akan menjauhkan dari ibadah.

“Karena ini mau puasa, maka godaan setan dari depan belakang kanan kiri bisa dieliminasi,” lanjutnya.

Dengan nada bergurau Arqom lantas mengungkap bagaimana setan protes atas ulah manusia karena menjadikannya sebagai tempat salah.

“Kalau korupsi, dia mengaku dibisiki setan. Dia ambil duitnya, saya yang disalahkan. Kalau berzinah, dia ngakunya dibisiki setan. Dia ambil wanitanya, saya yang disalahkan,” ujar trainer senior ini.

Penghambat ketiga orang beriman adalah Mukminul yang sulit, yaitu orang beriman itu sendiri yang iri dan dengki. Menjadi orang yang iri dan dengki akan membuat kebaikan-kebaikan kita jadi habis dan justru keburukan orang lain akan berpindah ke kita.

Penghalang keempat adalah orang munafik yang marah dan tidak suka kalau kita jadi orang yang istiqomah dalam menjalankan agama. Dan penghalang kelima adalah berhadapan kafirun, orang yang berbeda agama dan memeranginya.

“Ada orang berbeda agama tapi berdamai. Sudah jadi bukti nyata di negara kita orang Kristen, Hindu, Katolik, Buddha bisa berdamai. Namun ada dalam sejarah, yang berbeda agama lalu memerangi orang Islam. Nah puasa yang akan kita laksanakan, membuat kita berhadapan dengan kelima penghalang itu sekaligus ,” terang Arqom.

Ketua Alumni SMPN 12 angkatan 1981, Sigit Sosiantomo yang menjadi tuan rumah acara berharap keberkahan di bulan Sya’ban yaitu dengan menambah ilmu agama.

“Saya melihat teman-teman suka berkumpul setelah 44 tahun dan masih ramai seperti ini, sesuatu yang luar biasa. Saya berharap silaturrahim ini terus selalu terjaga rutin agar bisa mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi semua,” ujar mantan anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera ini.

Nana mengungkap rasa senangnya berkumpul dengan teman-teman masa kecilnya.

“Saya tinggal di Klaten, ini pertama kali ikut. Saya khusus datang ke Surabaya untuk hadir di acara ini. Sekarang saya punya banyak waktu karena anak-anak sudah mandiri,” ujarnya.

Dalam kegiatan pengajian itu mereka juga menggagas pelaksanaan reuni besar.

“Yang pasti tahun ini. Dengan diinfokan jauh hari, diharapkan mereka yang tersebar di berbagai kota di Indonesia bahkan di luar negeri bisa mempersiapkan diri,” tambah Sigit. (ret)

No More Posts Available.

No more pages to load.