SURABAYA| DutaIndonesia.com – Tentang keluarga. Begitulah komposisi-komposisi yang dipilih gitaris klasik, El Vatikan dalam konser bertajuk Perayaan Suara Rasa di Amadeo Music Hall, Sabtu (16/8/2025).
Yang pertama Songs My Mother Taught Me karya Antonin Dvorak (untuk solo gitar). M. Baqi El Vatikan memainkan komposisi ini untuk dipersembahkan kepada ibundanya, Heti Palestina Yunani.
Berkat cerita ibunya tentang Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta, Vatikan yang serius belajar musik sejak menerima kado ulang tahun yang ke-13 jadi “terjerumus” ke musik klasik. “Awalnya saat masih SMP saya suka musik pop. Suka banget, saya main See You Won’t Let Go-nya James Arthur. Tapi lama-lama kok terlalu mudah, saya terus main jazz dan rock. Waktu saya kelas 3 SMP, mama cerita tentang SMM. Saya kemudian daftar dan keterima. Ternyata di sana sekolahnya musik klasik, bukan musik pada umumnya. Tapi saya pada dasarnya memang ingin belajar musik klasik,” ungkap Vatikan.
Komposisi kedua Adios, Nonino! atau Selamat Tinggal, Kakek! yang dibawakan El Vatikan bareng Hati Bening, pebiola yang juga pendiri Dua Ketuk. Lagu ini ditulis Astor Piazzolla untuk Vicente Piazzolla beberapa hari setelah kematiannya. Lewat gesekan biola melankolis, Astor hendak menunjukkan rasa duka atas kenangan yang tak akan terulang.
Selain dari ibundanya, Vatikan juga mewarisi darah seni dari sang kakek, R.M.Yunani Prawiranegara.
Sementara di penghujung konser ditampikan Third Letter to Father (untuk kuartet gesek dan gitar) karya Lukas Sommer. Komposisi ini dibawakan oleh El Vatikan, Bima Arifin (biola), Hati Bening (biola), Dhani Ahmad (biola alto), dan Maigty Simatupang (cello).
Tercipta tahun 2024, komposisi ini merefleksikan sebuah momen pada pemakaman ayah sang komponis ketika ia menempatkan barang-barang yang ayahnya inginkan turut menemani di dalam peti. Beragam variasi tema yang melalui proses permainan ritmis, harmoni dan instrumentasi mengisahkan segala cerita.
Dua Ketuk adalah sebuah komunitas dari Yogyakarta yang bergerak dalam bidang pengelolaan acara pertunjukan seni musik. Mereka berupaya menjadi wadah bagi komponis, pemain dan penikmat musik untuk mengekspresikan, menampilkan dan mengembangkan keterampilan bermusiknya.
Konser Perayaan Suara Rasa yang menampilkan musisi-musisi muda Indonesia ini sengaja memilih repertoar dari berbagai komponis dan era untuk merayakan rasa kasih yang melampaui ruang dan waktu. Dan konser ini juga sebagai persembahan sang ibunda yang sedang menandai usia kepala empat terakhirnya di tahun ini.
“Dan konser ini juga menjadi cara untuk lebih membumikan musik klasik di masyarakat termasuk kalangan muda,” kata Hati Bening.
Seperti perayaan, musik juga tentang berbagi rasa dan kasih. Dan bersama nada, semua rasa dapat dibunyikan, didengar, dan dirayakan. Lewat komposisi yang dimainkan itulah, para pemusik menuturkan isi hatinya hingga sampai ke jiwa pendengar.(ret)













