Presidium Forum Guru Besar Indonesia Imbau Kampus Suarakan Pemilu Damai, Bukan Ramai

oleh

 

JAKARTA| DutaIndonesia.com – Secara bergelombang muncul gerakan dari kalangan kampus atau golongan sivitas akademika mengkritik Presiden Jokowi yang disebut mencederai demokrasi lantaran mendukung capres cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka. Hal itu dinilai menimbulkan kegaduhan menjelang Pilpres 14 Februari 2024.

Untuk itu Presidium Forum Guru Besar Indonesia mengimbau seluruh sivitas akademika kampus di Indonesia untuk menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan elektoral sesaat. Hal ini merupakan salah satu maklumat yang disampaikan Forum Guru Besar sebagai hasil Silaturahmi Presidium.

“Segenap elemen masyarakat khusunya para akademisi dan cendekiawan serta tokoh-tokoh masyarakat hendaknya menyampaikan pemikiran pemikiran yang lebih menyejukkan dari pada membakar situasi, lebih mendamaikan dari pada meramaikan, lebih solutif dari pada provokatif,” kata Ketua Presidium Guru Besar Prof Singgih Tri Sulistyono yang merupakan guru besar Universitas Diponegoro di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, dalam keterangannya, Kamis (8/2/2024).

Forum guru besar Indonesia mendesak sivitas akademika di semua kampus di seluruh Indonesia agar menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan elektoral yang bersifat sesaat.

“Marilah kita menjadi suluh bangsa, berdiri di tengah dan mengayomi, mencerahkan ketika gelap, dan menjadi penuntun masa depan, bukan justru menyampaikan penyataan yang dapat menimbulkan kesan seolah mengiring opini politik elektoral terhadap pihak tertentu sembari menegasikan pihak lain sehingga menyulut suasana yang penuh ketegangan dan konflik,” ujarnya.

Dalam silaturahmi tersebut, sekitar 15 orang guru besar hadir dan menghasilkan 8 maklumat yang dimaksudkan untuk mendinginkan dan mendamaikan suasana serta solutif terhadap persoalan persoalan kebangsaan.

Di antara guru besar yang hadir dan menandatangani maklumat adalah Anggota Presidium yaitu Prof Krisna Purnawan Candra (Universitas Mulawarman), Prof Rubiyo (BRIN), Prof Murni Mahmud (Universitas Negeri Makassar). Sementara dari perwakilan anggota hadir Prof Juhardi (Universitas Mulawarman), Prof Sukardi Weda (Universitas Negeri Makassar), Prof Dedit Cahya Hapyanto (PENS), dan Prof Mohammad Soleh Ridwan (UIPM).

Dari kalangan undangan juga turut hadir Dr Atus Syahbuddin (Universitas Gadjah Mada), Dr Abri (Universitas Bosowa), Dr Khotimul Kusen, Dr Sarji Faisal (UHAMKA), dan Dr Bambang Raditya Purnomo (UNITOMO).

Prof Singgih berharap maklumat yang disampaikan oleh presidum dapat menjadi pencerah bagi semua pihak demi keutuhan dan kejayaan NKRI.

“Marilah kita jaga, kita rawat, dan kita kembangkan terus pusaka NKRI ini sebagai rumah bersama yang aman, tentram damai, bersatu, saling mengasihi, saling menghormati, gotong royong penuh kekeluargaan, tanggung jawab, sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” harap Prof Singgih.

Sebelumnya Presiden ke-6 sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku terusik di penghujung kampanye Pemilu 2024 ini. Sebabnya adalah munculnya kritisisme kalangan kampus terhadap kondisi politik Indonesia.

“Masih berkaitan dengan pelaksanaan pemilu tahun 2024 ini, ada satu hal yang mengusik hati dan pikiran saya. Di pengujung masa kampanye saat ini, muncul gerakan dan pernyataan kritis dari kalangan kampus,” kata SBY saat pidato politik di Hotel Avenzel, Bekasi, Jawa Barat (Jabar), Rabu (7/2/2024).

Di berbagai daerah, sejumlah rektor, guru besar dan mahasiswa menyuarakan pentingnya pemilu yang damai, jujur, dan adil. Secara implisit, kata SBY, mereka khawatir jika Pemilu tahun 2024 ini tidak berlangsung secara damai, secara jujur, dan secara adil.

Sementara itu juga ada pernyataan politik yang lebih jauh, seperti ‘Kalau pilpres hanya berlangsung satu putaran, berarti itu curang’. Ditambahkan lagi, ‘Kalau pilpresnya curang kita tidak akan terima, dan negara siap-siap chaos’,” tuturnya.

SBY mengatakan situasi ini tidak terjadi di empat pemilu sebelumnya. Dia pun menilai dalam pandangannya menjadi seorang yang tidak pernah absen dalam 20 tahun pemilu di era reformasi dan demokratisasi, baik ketika dirinya berada di dalam ranah kekuasaan maupun ketika berada di luar ranah kekuasaan.

“Pendapat saya, menuduh apalagi memastikan bahwa pilpres ini pasti curang dan karenanya hasilnya pasti akan ditolak, tentulah berlebihan. Namun, di sisi lain, mengabaikan suara-suara di luar yang khawatir pilpresnya bakal curang, tentu juga tidak bijak,” ujarnya.

“Begini jalan pikiran saya. Kita ingin, saya yakin rakyat kita juga ingin, Pilpres 2024 ini hasilnya sah. Sah dan diterima oleh rakyat. Dengan keabsahan ini, pemimpin baru kita akan memiliki legitimasi yang kuat. Kekuasaan (power) yang dimiliki juga berkah, yang insya Allah akan mengantarkan beliau sukses dalam memimpin negeri ini 5 tahun ke depan,” tambahnya.

Menurutnya, politik sejatinya bercerita tentang kekuasaan. Seorang politisi akan diuji bagaimana cara kekuasaan itu diperoleh apakah sah dan halal atau tidak.

“Setelah memegang kekuasaan, dia juga akan diuji bagaimana kekuasaan itu digunakan-disalahgunakan atau tidak. Oleh karena itu, kembali ke urusan pemilu 2024, kita semua mesti berupaya dan sama-sama memastikan bahwa pilpres kita ini benar-benar berlangsung secara jujur dan adil,” tutupnya. (det/wis)

 

 

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.