OKLAHOMA| DutaIndonesia.com – Selain kualitas perguruan tinggi, semua indikator scientometri di Indonesia ternyata juga masih rendah. Bahkan masih di bawah Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Karena itu, Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jepang, Dr H Miftakhul Huda M.Sc berharap agar scientometrics yang merupakan studi tentang pengukuran dan analisis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi itu juga ditingkatkan agar lulusan S2 dan S3 di Indonesia semakin berkualitas. Salah satunya soal publikasi hasil penelitian dan riset ilmiah di jurnal internasional yang terindeks di Scopus.
Natarianto Indrawan, PhD., mantan peneliti Departemen Energi di Amerika Serikat, sepakat mengenai hal itu. Kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (31/1/2024) siang, pakar energi baru terbarukan asal Belitung yang sekarang tinggal di Oklahoma, Amerika Serikat ini, mengatakan, bahwa komunitas diaspora Indonesia di AS dan negara lain tergerak untuk membantu mahasiswa, pelajar, atau profesional lainnya di tanah air yang ingin menguasai keterampilan publikasi ilmiah di berbagai jurnal global. Bersama Dr Tri Hardono dan Dr Doni Wulandana, organisasi nonprofit yang berpusat di Pensylvania, AS, bernama RumahPublikasi, didirikan untuk memfasilitasi hal tersebut.
“Bisa dilihat di website RumahPublikasi.org, bersama beberapa rekan diaspora senior di berbagai negara, kami mencoba membantu semaksimal mungkin kawan-kawan di tanah air yang ingin menguasai keahlian publikasi internasional ini. Target kita adalah agar keahlian ini bisa dikuasai semua kalangan cendekia di Indonesia. Karena publikasi ilmiah adalah kemampuan menceritakan suatu observasi atau argumentasi berbasis data dan kajian ilmiah kepada publik, maka keahlian ini prinsipnya dapat dimiliki oleh setiap individu. Memiliki publikasi internasional merupakan bentuk apresiasi tertinggi terhadap intelektual karena karya tersebut bersifat permanen pada sistem pencarian global dan terus bermanfaat bagi generasi berikutnya,” katanya.
Natarianto berharap keahlian publikasi ilmiah ini tidak lagi menjadi batu sandungan bagi berbagai kalangan di Tanah Air dalam meraih karier yang lebih tinggi. Selain itu bisa pula sebagai prasyarat kenaikan jabatan dan sebagainya. Keahlian ini bisa diperoleh bila ditekuni dalam waktu sekurangnya dua tahun.
“Modul yang kami siapkan dapat mengantarkan seseorang dari latar belakang yang sama sekali tidak mengetahui publikasi ilmiah menjadi ahli. Jadi sangat menguasai. Kami sudah membuktikannya. Salah satu binaan kami, seorang tenaga pengajar di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, berhasil mempublikasikan empat karya tulis ilmiahnya, mayoritas di jurnal Q1 saat menjalani program Doktoral di ITS. Saat ini beliau membantu kami sebagai mentor. Untuk membantu sosialisasi program RumahPublikasi ini, di Tanah Air kami bermitra dengan Kata Indonesia Profesional (KIP)” ujarnya.
“Kami berharap dalam waktu beberapa tahun ke depan kita akan menemui lebih banyak para cendekia Indonesia yang menjadi board member di berbagai jurnal global, yang saat ini jumlahnya masih sangat sangat sedikit. Itu yang kami ingin dorong melalui program RumahPublikasi ini,” katanya.
Selain itu, sebagai gambaran penting lainnya adalah setiap tahun jumlah pelamar berbagai beasiswa studi ke luar negeri jenjang Master dan Doktoral di Tanah Air mencapai lebih dari 12.000 orang. Dari total jumlah pelamar tersebut, kurang dari 30%-nya saja yang bisa ditampung di mana sisa pelamar umumnya harus menunggu periode seleksi berikutnya sekitar 6 bulan hingga 1 tahun untuk dapat kembali melakukan pendaftaran dengan proses seleksi yang sangat ketat. Padahal, banyak yang belum mengetahui bahwa untuk dapat menempuh studi lanjut (Master/Doktoral) di luar negeri, khususnya di Amerika Serikat, sebanyak lebih dari 70% diperoleh dengan jalur Research Assistantship (RA) dan Teaching Assistantship (TA).
Untuk dapat memperoleh kesempatan ini, apabila seorang pelamar telah memiliki publikasi internasional khususnya di jurnal ternama (Q1), maka pelamar tersebut akan memperoleh prioritas untuk dipilih oleh calon pembimbing (supervisor) untuk dapat diterima di departemen atau institusi riset yang dipimpinnya. Sejak dua dasawarsa lalu, para mahasiswa S2 dan S3 asal India dan China yang mayoritas memperoleh beasiswa RA dan TA ini karena mereka umumnya telah memiliki publikasi internasional sekurangnya satu jurnal di Q1.
“Hal yang menjadi pertimbangan lainnya adalah berdasarkan Scimago ranking, sebuah lembaga riset berbasis di Spanyol, hingga akhir 2022, jumlah dokumen publikasi internasional Indonesia berada pada urutan 39 dari 243 negara dan teritorial di dunia, dengan jumlah dokumen sekitar 311 ribu dokumen. Sementara peringkat teratas diduduki Amerika Serikat dan China dengan jumlah dokumen masing-masing sekitar 15 juta dan 9 juta. Apabila keahlian publikasi internasional ini bisa kita kuasai, sebenarnya masih sangat potensial kita dapat mengejar ketertinggalan ini mengingat jumlah mahasiswa untuk semua jenjang di tanah air berjumlah lebih dari 9 juta. Itu belum termasuk para tenaga pengajar di perguruan tinggi maupun para periset di berbagai instansi serta kalangan profesional lainnya” ujarnya.
Seperti diberitakan DutaIndonesia.com dan Global News sebelumnya, selain menyoroti masih kurangnya kualitas perguruan tinggi di Indonesia, Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jepang, Dr Miftakhul Huda M.Sc, juga mengungkap lemahnya semua indikator scientometric di Indonesia. Scientometrics merupakan studi tentang pengukuran dan analisis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Indonesia, masih berada di bawah Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Karena itu, Assistant Professor di Nagoya University, Jepang ini selain mendukung rencana Presiden Jokowi menaikkan rasio penduduk Indonesia berpendidikan S2 hingga S3 yang saat ini masih sangat rendah, juga berharap agar kualitas kampus di Tanah Air ditingkatkan.
Dia melihat ada peningkatan jumlah publikasi karya ilmiah dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal itu merupakan cerminan kebijakan pemerintah dalam bidang penelitian dan karier akademis serta upaya untuk meningkatkan posisi perguruan tinggi Indonesia dalam pemeringkatan internasional.
Dalam UU Pendidikan Tinggi Nomor 12/2012 mendokumentasikan bahwa akademisi yang berhasil menerbitkan artikelnya di jurnal terindeks Scopus akan diberi imbalan sejumlah insentif dan langsung masuk ke kantongnya. Para akademisi Indonesia menganggap penafsiran mereka terhadap penghargaan tersebut hanya sekedar selesainya penerbitan di jurnal apa pun yang terindeks Scopus, terlepas dari pertimbangan kualitas.
“Oleh karena itu, para akademisi telah melakukan cara atau strategi penerbitannya sendiri melalui jurnal dan proceeding open access yang paling mudah, cepat, dan paling murah”.
“Kuantitas meningkat, tapi esensi dan kualitasnya masih sangat rendah. Harus ada perbaikan dari komunitas keilmuan itu sendiri”, tegasnya. (gas)












