Saudagar Muslim Harus Berbasic pada Etika

oleh

SURABAYA| DutaIndonesia.com – Para saudagar muslim dapat dikata tidak mempunyai kekuatan. Teknologi hingga pendanaan banyak dikuasahi oleh negara-negara Barat. Bagaimana dengan saudagar muslim?. Jangan keder, kita mempuyai nilai jual yang punya potensi, yakni kejujuran.

Saudagar Islam masih banyak mengandalkan sumber alam. Sementara negara-negara barat mengusai sektor pendanaan hingga teknologi.

“Sebenarnya kita tak boleh berkecil hati. Mari kita menciptakan saudagar-saudagar muslim dengan basic etika, yakni kejujuran,” kata Ismail Nahu, Mantan Ketua ICMI Jatim dua periode (2010-2021) kepada Global News di sela-sela acara Sinergi dan Kolaborasi—Ijtihad Peradaban: Literasi, Saudagar dan Kecendekiawanan yang digelar di Berong Resto, Surabaya, Jumat (7/4/2023).

Pada acara yang dikemas dalam Berbuka Puasa Bersama tersebut, Ismail yang juga pengusaha properti itu mengatakan, mengapa kita harus berkiblat pada etika dalam bisnis. Jawabannya, etika atau kejujuran itu merupakan ajaran nabi dalam berbisnis.

“Ingat, Siti Khadijah sangat tertarik kepada Nabi Muhammad karena kejujurannya. Kejujuran ini yang terus dilakukan nabi dalam melakukan bisnis.

Apa yang terjadi dengan kejujuran dalam bisnis tersebut. Bisnis Siti Khadijah berkembang pesat. Siti Khadijah menerima nabi karena kejujurannya. Nabi Muhammad dalam waktu pendek telah memberikan tauladan dan bisa melakukan revolusi dengan basic etika yang kuat, yakni kejujuran. Dengan kejujuran inilah, akan melahirkan trust (kepercayaan). Dengan trust itulah akan berdampak positif pada bisnis dimasa-masa selanjutnya,” katanya.

Dikatakan, saudagar muslim harus bisa menawarkan bisnis trust melalui kejujuran pada dunia. Kita harus yakin, dengan bisnis penuh kejujuran ini, kita dapat bermain di kancah internasional.

“Jadi mari kita terus membangun bisnis kejujuran. Jadi saudagar yang menawarkan kejujuran. Kejujuran disini menyangkut mutu, harga dan lainnya. Kalau saudagar muslim bisa menawarkan hal itu, saya yakin, akan banyak saudagar-saudagar muslim yang mempunyai kelas,” kata Ismail.

Sementara, Prof.Daniel M. Rasyid yang menjadi pembicara di acara tersebut mengatakan, saudagar rata-rata non muslim. Untuk itu perlunya kita mencetak saudagar-saudagar muslim yang keberadaannya bisa bermanfaat bagi umat.

Sekolah merupakan hal penting untuk menciptakan saudagar-saudagar muslim. Kita ambil contoh, Singapura tak punya sumber alam seperti beras hingga nikel, tetapi negara tersebut menjadi pusat perdagangan. “Kita belum bisa menjadi saudagar, karena yang menentukan orang lain,” katanya.

Dia juga menyoroti distribusi bisnis. Dia mengatakan, distribusi lewat darat lebih mahal dibandingkan dengan lewat laut. Karena itu, mari kita manfaatkan jalur laut ini sebagi bisnis tersendiri bagi saudagar muslim.

Pembicara lainnya, yakni Yusron Aminulloh, Wakil Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jatim menyoroti pentingnya diantara kita ini melakukan sinergi dan kolaborasi untuk menguatkan bisnis para saudagar muslim. Dengan cara saling mengisi, akan menciptakan kekuatan besar yang pada akhirnya akan melahir manfaat yang luar biasa pula,” kata Yusron yang juga owner DeDurian Park ini.

Mantan jurnalis ini juga mengatakan, sinergi adalah suatu bentuk dari sebuah proses atau interaksi yang menghasilkan suatu keseimbangan yang harmonis sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang optimum. Ada beberapa syarat utama penciptaan sinergi yakni kepercayaan, komunikasi yang efektif, feedback yang cepat, dan kreativitas.

“Melalui Sinergi, kerja sama dari paradigma (pola pikir) yang berbeda akan mewujudkan hasil lebih besar dan efektif sehubungan proses yang dijalani menunjukkan tujuan yang sama dan kesepakatan demi hasil positif.

Bersinergi berarti saling menghargai perbedaan ide, Pendapat dan bersedia saling berbagi. Bersinergi tidak mementingkan diri sendiri, namun berpikir menang-menang dan tidak ada pihak yang dirugikan atau merasa dirugikan. Bersinergi bertujuan memadukan bagian-bagian terpisah.

Karena itu, saudagar muslim harus berani mengambil langkah-langkah besar. Berfikir skala nasional, bahkan internasional. Bikin usaha properti kelas industri. Bikin bisnis pertanian juga yang berkelas industri. Mari kita membangun bisnis apa saja dengan bersinergi dan berkolaborasi, agar bisnis para saudagar muslim itu dapat diperhitungkan. 

“Saya pun setuju, trust menjadi kata kunci di sini. Saudagar muslim harus menawarkan trust menjadi salah satu andalannya,” pungkas Yusron yang juga Ketua Bidang Bisnis ICMI Jatim itu. 

Sinergi, kata Misbahul Huda yang juga menjadi pembicara, tidak hanya sebatas kerjasama, tetapi lebih dari hal itu. Sebagai contoh, sinar matahari kalau difokuskan bisa membakar kertas. Bekerjasama sesuai kemampuan masing-masing, akan melahirkan pekerjaan yang luar biasa, katanya.

Acara yang diikuti sekitar 75 peserta dari berbagai kelangan ini diselenggrakan atas kerjasama antara ICMI, ISMI Jatim dan Yayasan Iqra Semesta. (Erfandi Putra)

No More Posts Available.

No more pages to load.