Selaras Program GATI, Kemendukbangga/BKKBN Jatim Gelar Nobar ‘Panggil Aku Ayah’

oleh
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jatim, Maria Ernawati (baju biru) bersama sebagian peserta nobar film 'Panggil Aku Ayah' di Grand City, Jumat (15/8/2025).
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jatim, Maria Ernawati (baju biru) bersama sebagian peserta nobar film 'Panggil Aku Ayah' di Grand City, Jumat (15/8/2025).

SURABAYA| DutaIndonesia.com – Selaras dengan program nasional yang sedang digalakkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Timur menggelar acara nonton bareng (nobar) film “Panggil Aku Ayah” di XXI Grand City, Jumat (15/8/2025). Film drama keluarga besutan sutradara Benni Setiawan ini memadukan sentuhan budaya lokal, humor hangat, dan pesan moral yang mendalam tentang arti keluarga, kasih sayang, serta peran penting figur ayah dalam membentuk karakter anak.

“Panggil Aku Ayah” yang dirilis 7 Agustus lalu berkisah tentang Intan (Myesha Lin), seorang gadis kecil yang dijadikan jaminan utang oleh ibunya, Rossa (Sita Nursanti). Sang ibu kemudian pergi menjadi tenaga kerja Indonesia, meninggalkan Intan dalam pengawasan Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir) — dua penagih utang yang perlahan menjadi figur ayah bagi Intan. Seiring waktu, hubungan mereka berkembang menjadi ikatan emosional yang mengajarkan bahwa keluarga tak selalu harus sedarah.

Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jatim, Maria Ernawati, mengaku terkesan dengan film produksi Visinema Pictures yang diadaptasi dari film Korea Selatan “Pawn” (2020). “Film ini luar biasa. Ini adalah drama keluarga yang menggambarkan kehidupan nyata di negeri kita. Peran ayah sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Walaupun bukan ayah kandung, pola asuh yang baik dapat membentuk karakter kuat, disiplin, dan bertanggung jawab,” ujarnya usai menonton.

Erna juga menyoroti sisi sedih dalam cerita film tersebut, yang menurutnya merefleksikan realita sosial di Indonesia.

“Kita masih menemukan keluarga yang belum mampu secara finansial. Ada anak yang ‘dijual’ karena kekurangan ekonomi, dan itu nyata. Negara harus hadir memberikan pendampingan,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Erna tak lupa menitip pesan khusus bagi para ayah di Indonesia.
“Lihat film ini, hayati, dan saya berharap peran ayah semakin luar biasa dalam membangun keluarga,” ujarnya.

Salah satu peserta nobar, Abian Zeyad Aqilah, siswa kelas 12 SMA Negeri 19 Surabaya, mengaku mendapat pelajaran berharga.

“Film ini punya makna mendalam. Peran orangtua sangat penting, tapi anak juga bisa dibimbing oleh kerabat atau pengurus lainnya. Setiap anak nasibnya berbeda, dan keluarga terdekat wajib membimbing supaya mereka jadi lebih baik,” katanya.

Abian menambahkan, kehilangan orang tua bukan berarti kehilangan kesempatan untuk tumbuh. “Kalau kita tidak punya orangtua, keluarga harus bisa membimbing dan menggantikan perannya. Orangtua adalah guru pertama sampai kapan pun,” tutupnya.

Tak hanya menghibur, film “Panggil Aku Ayah” juga mengajak penonton merenungkan arti keluarga dan peran figur ayah di tengah masyarakat.(ret)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.