SURABAYA|DutaIndonesia.com – Kasus Covid-19 subvarian Omicron XBB melonjak di sejumlah daerah Indonesia. Sekitar 24 ribu pasien masuk rumah sakit. Dari jumlah itu sebanyak 1.300 meninggal dunia sejak Oktober. Paling banyak kasus meninggal karena belum mendapat vaksin booster.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin kepada wartawan di Gedung Rektorat Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rabu (9/11/2022), mengatakan, bahwa Kota Surabaya masuk daftar terbanyak kedua kasus Omicron XBB setelah Bali. Terbanyak ketiga adalah Jakarta.
“Sekarang kasusnya naik disebabkan varian baru. Kasus paling banyak ditemukan di Bali, Surabaya, dan Jakarta,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Pakar imunologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr dr Gatot Soegiarto SpPD, K-AI, FINASM, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (9/11/2022), mengatakan, meningkatnya kasus Covid-19 varian baru ini karena banyak masyarakat yang lengah. Selain itu banyak pula masyarakat belum melakukan vaksin booster.
“Yang utama ya masyarakat banyak yang lengah. Menganggap pandemi sudah lewat, sudah masuk ke endemik, padahal belum. Kan sudah dijelaskan bahwa selama masih ada orang yang terinfeksi, maka virus bisa bereplikasi, dan selama virus bisa bereplikasi maka selalu ada kemungkinan lahirnya varian baru (akibat mekanisme proofread virus RNA yang tidak sempurna). Nah kebetulan varian barunya ini memiliki kemampuan meloloskan diri dari antibodi yang diperoleh dari hasil vaksinasi maupun infeksi alami sebelumnya,” katanya.
Namun demikian Walikota Surabaya Eri Cahyadi kepada wartawan di Balai Kota Surabaya, menegaskan bahawa pasien Covid-19 subvarian Omicron XBB di Kota Pahlawan sudah sembuh dan pulang. Sama halnya dengan 10 kontak erat yang isolasi mandiri di rumah sudah selesai.
“Alhamdulillah sudah sembuh katanya, laporan dari rumah sakit sudah sembuh. Jadi satu saja yang ada di Kota Surabaya yang terdeteksi,” katanya.
Eri mengatakan laporan dari rumah sakit pasien Covid-19 varian XBB sudah negatif. Saat ini tidak ada pasien Covid-19 varian baru yang positif dirawat inap atau isolasi mandiri. “Nihil sekarang. Sekarang ndak ada yang isolasi mandiri dari XBB. Semoga tetap terjaga Kota Surabaya,” ujarnya.
Mantan Bappeko ini mengatakan varian XXB ini sama dengan omicron sebelumnya. Di mana penularannya lebih cepat, tetapi juga cepat penyembuhannya. “Jadi tetap warga Surabaya dijaga prokes, pola hidup sehat, olahraga. Insya Allah akan sehat,” katanya.
Sebelumnya Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Mohammad Syahril menyatakan pasien Covid-19 subvarian Omicron XBB terdeteksi di daerah Surabaya, Jawa Timur. “Dia diisolasi di RS Surabaya dan ini merupakan transmisi lokal, bukan virus dari luar karena tidak ada riwayat ke luar negeri. Hingga saat ini juga belum ada penambahan baru kasus subvarian Omicron XBB tersebut,” katanya, Sabtu (22/10/2022) lalu.
Menkes mengatakan ada 3 subvarian virus Covid-19 Omicron yang sudah masuk ke Indonesia hingga menyebabkan lonjakan kasus. Masing-masing subvarian BA.2.75, XBB, dan BQ.1.
Dia menjelaskan bahwa di Indonesia sendiri paling banyak ditemukan varian BQ.1 yang juga banyak ditemukan di Eropa dan AS, serta XBB banyak ditemukan di Singapura.
“Varian ini (XBB) ciri-cirinya naiknya cepat. Orang sudah divaksin, sudah kena, cepat juga tertular. Dan masuk RS-nya juga sedikit di atas BA.2.75, itu yang Agustus kemarin,” katanya di Unair Surabaya Rabu kemarin.
Menkes Terkejut
Puluhan ribu pasien Covid-19 subvarian baru dirawat di RS seiring masuknya subvarian BA.2.75, XBB, dan BQ.1 ke Indonesia. Menkes mengaku terkejut dengan tingginya kenaikan tersebut. Apalagi ribuan pasien yang dirawat pada akhirnya ada yang meninggal. “Saya kaget, ini sekarang yang dirawat 24 ribuan, berat 10 ribuan, meninggal 1.300 sejak Oktober,” kata Budi.
Bahkan, kata Budi, yang lebih mengejutkan baginya adalah pasien belum vaksin. Dia menyebutkan belum vaksinnya pasien yang terpapar virus Covid membuat gejala yang mereka alami semakin berat.
“Itu untuk yang berat saya kaget 40% belum vaksin atau 70% belum booster. Yang meninggal dari 1.300 itu 50% belum vaksin dan 80% belum booster,” ujarnya.
Budi pun menyarankan agar masyarakat tetap menggunakan masker saat bertemu orang. Kemudian bagi yang belum vaksin dan vaksin booster, dia minta agar segera mendapatkan vaksinasi.
“Jadi, yuk yang belum booster cepat booster, yang belum vaksin cepat vaksin. Kalau punya orang tua belum vaksin, paksa vaksin. Belum booster, paksa booster,” katanya.
Menurutnya, vaksinasi dan booster sangat mengurangi resiko pasien masuk RS dan meninggal. Baginya tidak apa-apa jika tertular ketika orang itu sudah divaksinasi hingga vaksin booster, sehingga sakit yang dialami menjadi ringan.
“Jadi tolong cepat-cepat vaksinasi, dan yang sudah tapi belum booster, cepat di-booster. Karena data kami menunjukkan 80% lebih yang meninggal belum di-booster, dan 80% lebih masuk RS dan berat karena belum booster,” katanya.
Dia menjelaskan Covid-19 varian Omicron terdapat sejumlah subvarian. Dari penyakitnya, SarsCov2 terdapat varian Omicron, Delta, Alfa. Kemudian ada lagi subvarian Omicron BA.1 dan BA.2 pada Januari 2022 lalu.
“Ada Omicron BA.4, BA.5 Agustus kemarin naik. Nah ini Omicron BQ.1 dan XBB. Jadi cucunya (subvarian). Gejalanya kalau dibandingkan dengan BA4 dan BA5 dia lebih cepat masuk RS. Tapi kalau dibanding BA1 lebih rendah,” katanya.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengimbau seluruh masyarakat Jatim tidak panik berlebihan degan masuknya virus Omicron subvarian XBB di Surabaya. Ia meminta masyarakat tetap tenang dan memperketat protokol kesehatan.
Khofifah menyampaikan imbauan tersebut mengingat bahwa saat ini telah terkonfirmasi keberadaan 1 kasus Sub Varian Omicron XBB di Jatim. “Saya sudah konfirmasi dengan Kadinkes Jatim, Institute of Tropical Disease (ITD) Unair, dan sesuai informasi dari Pak Menkes bahwa satu kasus Sub Varian Omicron XBB ada di Jatim,” ujar Khofifah dalam keterangannya.
Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan adanya prediksi peningkatan gelombang subvarian baru XBB. Dia menyebut, kemungkinan peningkatan gelombang tersebut akan tiba pada akhir 2022 ini.
“Seperti yang pernah disampaikan Pak Menteri Kesehatan, aktivitas akan meningkat di akhir tahun, kemungkinan akhir tahun akan ada peningkatan,” ujarnya, kemarin.
Melonjaknya kasus Covid-19 dipicu varian baru ini membuat Pemerintah kembali memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh Indonesia per hari Selasa (8/11/2022). Di tengah tren kenaikan kasus Covid-19, khususnya di Jawa dan Bali, pemerintah masih menerapkan level 1 pada PPKM di seluruh wilayah.
“Kami sampaikan bahwa PPKM tetap akan diperpanjang untuk menekan laju kenaikan Covid-19,” kata Direktur Jenderal Bina Administrasi Wilayah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Safrizal, Selasa. Perpanjangan PPKM ini termaktub dalam Instruksi Mendagri (Inmendagri) Nomor 47 Tahun 2022 untuk PPKM Jawa dan Bali yang berlaku sampai dengan 21 November 2022.
Sementara itu, Inmendagri Nomor 48 Tahun 2022 untuk PPKM di Luar Jawa dan Bali akan berlaku lebih panjang, yakni sampai 5 Desember 2022. “Kami meminta kepada seluruh jajaran pemerintah daerah untuk tidak lengah dan terus bersiaga dengan ancaman lonjakan kasus,” kata Safrizal. (ret/det)














