Oleh Imam Baehaqi
KEPUTUSAN penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bukanlah keputusan administratif semata. Ia merupakan keputusan yang sarat simbol, sejarah, dan pesan ideologis bagi perjalanan Nahdlatul Ulama di masa depan.
PBNU menetapkan Tambakberas sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Keputusan tersebut diambil melalui rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pada 7 Juli 2026.
Pemilihan Tambakberas sesungguhnya adalah pemilihan terhadap sebuah tradisi perjuangan. Sebab Tambakberas tidak dapat dipisahkan dari sosok KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang arsitek utama kelahiran NU sekaligus tokoh paling dinamis dalam sejarah pergerakan Nahdliyin.
Tambakberas adalah Rumah Sang Penggerak
Jika KH Hasyim Asy’ari sering dipandang sebagai simbol otoritas keilmuan dan kepemimpinan spiritual NU, maka Mbah Wahab adalah simbol gerakan, organisasi, diplomasi, dan perjuangan sosial-politik warga Nahdliyin.
Jauh sebelum NU berdiri pada tahun 1926, Mbah Wahab telah merintis berbagai embrio gerakan yang kemudian melahirkan NU.
Di antaranya adalah:
– Nahdlatut Tujjar yang didirikan sebagai gerakan penguatan ekonomi umat dan kemandirian pedagang Muslim.
– Tashwirul Afkar yang menjadi ruang diskusi intelektual, pembaruan pemikiran, serta dialog antara ulama dan kaum terpelajar.
– Jaringan konsolidasi ulama pesantren yang kemudian berkembang menjadi jam’iyah Nahdlatul Ulama pada 1926.
Dengan kata lain, Tambakberas bukan hanya tempat tinggal seorang kiai besar, melainkan laboratorium lahirnya gagasan besar NU.
Tambakberas dan Diplomasi Peradaban Islam
Peran terbesar Mbah Wahab dalam sejarah internasional NU adalah kepemimpinannya dalam Komite Hijaz.
Ketika muncul kekhawatiran atas penghancuran situs-situs sejarah Islam dan makam para tokoh yang dimuliakan umat Islam di Hijaz setelah penguasaan wilayah tersebut oleh pemerintahan baru Saudi, para ulama Nusantara membentuk Komite Hijaz untuk menyampaikan aspirasi kepada Raja Saudi agar tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah tetap dihormati.
Delegasi tersebut dipimpin oleh Mbah Wahab dan menjadi momentum penting lahirnya NU sebagai organisasi yang tidak hanya bergerak pada persoalan lokal, tetapi juga memiliki visi peradaban Islam global.
Dalam banyak catatan sejarah NU, Komite Hijaz bahkan dipandang sebagai faktor langsung yang mempercepat pendirian Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.
Tambakberas dan Nasionalisme Nahdliyin
Nama Mbah Wahab juga tidak dapat dipisahkan dari lagu kebangsaan Nahdliyin, yaitu Ya Lal Wathan yang populer dengan penggalan:
“Hubbul wathan minal iman.”
Lagu tersebut lahir jauh sebelum Indonesia merdeka dan menjadi bukti bahwa nasionalisme bagi NU bukanlah konsep impor, melainkan bagian dari ekspresi keagamaan warga pesantren.
Di tengah munculnya berbagai ide transnasional pada masa itu, Mbah Wahab menegaskan bahwa membela tanah air adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan.
Karena itu, ketika Muktamar NU kembali ke Tambakberas, sesungguhnya NU sedang diingatkan kembali pada watak awalnya: menjadi benteng agama sekaligus benteng negara.
Tambakberas dan Politik Rekonsiliasi Bangsa
Pada masa pemerintahan Soekarno, Mbah Wahab dikenal sebagai salah satu ulama yang memiliki hubungan sangat dekat dengan pusat kekuasaan tanpa kehilangan independensi moralnya.
Beliau aktif memberikan masukan kepada Presiden Soekarno sekaligus menjadi jembatan komunikasi berbagai kelompok politik dan keagamaan.
Salah satu warisan budaya politik beliau yang paling terkenal adalah tradisi halal bihalal nasional yang berkembang sebagai media rekonsiliasi setelah ketegangan politik dan perbedaan pilihan di tengah masyarakat.
Halal bihalal bukan sekadar tradisi saling memaafkan, melainkan instrumen sosial-politik untuk menjaga persatuan bangsa Indonesia yang majemuk.
Warisan inilah yang tampaknya sangat relevan bagi NU hari ini ketika polarisasi, konflik internal, serta kompetisi politik sering kali menggerus ukhuwah nahdliyah.
Pesan Simbolik bagi Muktamar NU 2026
Pemilihan Tambakberas dapat dibaca sebagai pesan moral agar NU kembali meneguhkan lima karakter dasarnya:
1. NU sebagai organisasi pergerakan rakyat, bukan sekadar organisasi administratif.
2. NU sebagai pembela kelompok lemah dan tertindas, sebagaimana semangat para muassis.
3. NU sebagai penggerak ekonomi umat, sebagaimana cita-cita Nahdlatut Tujjar.
4. NU sebagai pusat produksi gagasan dan intelektualisme Islam, sebagaimana semangat Tashwirul Afkar.
5. NU sebagai penjaga negara dan perekat bangsa, sebagaimana ditunjukkan Mbah Wahab sepanjang hidupnya.
Kembali ke Tambakberas Berarti Kembali ke Khittah Perjuangan
Tambakberas bukan sekadar titik geografis di Kabupaten Jombang. Ia adalah simbol energi pergerakan NU.
Di sana terdapat jejak perjuangan ekonomi umat, diplomasi internasional, pendidikan pesantren, nasionalisme, hingga rekonsiliasi kebangsaan.
Karena itu, apabila Muktamar ke-35 benar-benar melahirkan kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat kecil, berani menyuarakan keadilan, memperkuat ukhuwah Nahdliyah, dan menjaga Indonesia, maka Tambakberas tidak hanya akan dikenang sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar.
Tambakberas akan dikenang sebagai titik balik kebangkitan baru Nahdlatul Ulama menuju abad keduanya.
Sebaliknya, apabila NU gagal menangkap pesan sejarah tersebut, maka Muktamar hanya akan menjadi pergantian kepemimpinan biasa tanpa meninggalkan jejak peradaban.
Mbah Wahab seolah sedang berpesan kepada warga Nahdliyin dari Tambakberas:
“NU jangan hanya besar sebagai organisasi, tetapi harus besar manfaatnya bagi umat, rakyat, dan negara.”
Penetapan lokasi Muktamar di Tambakberas telah diumumkan oleh PBNU pada 7 Juli 2026 dan dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di kompleks pesantren bersejarah tersebut. (*)














